Kemarin pas lagi di negerinya Lee Kuan Yew untuk suatu urusan, aku sengaja mencari-cari materi-buku mengenai aromaterapi yang sulit untuk diperoleh di Indonesia. Masuk ke toko buku yang cukup lengkap, eh...nemu deh keenam buku tentang aromaterapi di atas meskipun harus merogoh kocek cukup banyak...hehe. Maklum belinya pakai dollar. Dan ternyata di toko tersebut masih banyak lho buku-buku tentang aromaterapi, tapi kayaknya isinya sih sama-sama aja makanya ngga saya beli semua. This blog talks about Indonesian essential oil (here, we call "minyak atsiri") : its resources, news, producers, and some ideas to grow/develop essential oil industries.
retail essential oil
Saturday, August 23, 2008
Oleh-oleh dari Singapore
Kemarin pas lagi di negerinya Lee Kuan Yew untuk suatu urusan, aku sengaja mencari-cari materi-buku mengenai aromaterapi yang sulit untuk diperoleh di Indonesia. Masuk ke toko buku yang cukup lengkap, eh...nemu deh keenam buku tentang aromaterapi di atas meskipun harus merogoh kocek cukup banyak...hehe. Maklum belinya pakai dollar. Dan ternyata di toko tersebut masih banyak lho buku-buku tentang aromaterapi, tapi kayaknya isinya sih sama-sama aja makanya ngga saya beli semua. Tuesday, August 12, 2008
KENDALA TEKNIS DALAM MEMULAI/MERINTIS USAHA DI BIDANG MINYAK ATSIRI
Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang beberapa diantaranya sudah dikenal luas dalam pedagangan internasional. Sebut saja minyak minyak nilam, minyak pala, minyak cengkeh, dan minyak akar wangi di samping beberapa jenis minyak atsiri lainnya yang juga telah memasuki pasar dunia. Harga minyak atsiri yang cenderung meningkat akhir-akhir ini mendorong para pelaku bisnis dan investor untuk memulai usaha di bidang minyak atsiri baik skala kecil, menengah, maupun besar. Motivasi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari bisnis ini apabila tidak disertai pengetahuan yang memadai tentang kendala-kendala teknis yang terjadi di lapangan membuat para pengusaha menjadi gigit jari. Makalah singkat ini membahas aneka permasalahan praktis yang bisa saja terjadi belakangan ketika usaha sudah berjalan terutama dari sisi pasokan bahan baku, pemasaran, sistem produksi, dan lokasi penyulingan. Tulisan ini disusun berdasarkan pengetahuan dan pengalaman penulis yang telah berkecimpung baik pada tataran praktis (bisnis dan lapangan) maupun konseptual (studi literatur dan penelitian) selama kurang lebih 7 tahun di bidang minyak atsiri
Metode/strategi mendapatkan bahan baku (raw material supply)
1. Penyulingan yang terintegrasi dengan usaha agribisnisnya sehingga pasokan bahan diperoleh
dari kebun yang dikelola sendiri atau petani plasma yang dibina oleh manajemen penyulingan
2. Bahan baku dibeli dari pihak lain di luar manajemen
Penyulingan yang terintegrasi dengan usaha agribisnisnya membutuhkan investasi yang cukup tinggi diantaranya adalah untuk sewa lahan (atau membeli lahan), penyediaan bibit, sistem pengairan, penyediaan pupuk dan pestisida, peralatan pertanian, dan tentu saja tenaga kerja padat karya dari pengolahan lahan hingga pemanenan. Banyaknya aktivitas ini akan menimbulkan kompleksitas kerja yang membutuhkan perhatian yang berlebih.
Metode pertama ini cocok untuk tanaman-tanaman atsiri yang memiliki siklus hidup yang singkat dan cepat dipanen seperti nilam, sereh wangi, jahe, dan akar wangi. Meskipun tidak menutup kemungkinan dapat juga diaplikasikan untuk tanaman-tanaman keras yang umur panen pertamanya membutuhkan waktu yang lama seperti pala, kenanga dan ylang-ylang, kayu putih. Meskipun harus menunggu agak lama untuk menuai hasilnya.
Keuntungan dari metode ini apabila dikelola dengan baik, sistematis, dan profesional adalah kualitas bahan baku dapat terkontrol dengan baik sehingga produktivitas panen maupun jumlah minyak yang dihasilkan cukup besar per satuan tanam. Margin keuntungan yang diperoleh pun jauh lebih tinggi dibandingkan membeli bahan baku dari pihak lain.
Sedangkan metode kedua banyak diaplikasikan untuk minyak-minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman keras dan sumber bahan bakunya sudah tersedia di sekitarnya seperti pala, kenanga, dan cengkeh. Mengingat perlakuan pada bahan baku tidak bisa dikontrol sendiri oleh manajemen maka pemahaman mengenai kualitas bahan baku beserta rentang harga belinya sangat penting untuk menjamin bahwa rendemen minyak yang dihasilkan tinggi dan kualitasnya baik. Kesalahan menentukan harga beli dan ketidaktahuan kualitas bahan baku bisa mengakibatkan rendemen minyak yang rendah sehingga menimbulkan kerugian saat bahan baku tersebut diproses menjadi minyak atsiri. Beberapa jenis minyak atsiri memiliki varietas yang berbeda dengan tingkat produktivitas dan rendemen minyak yang berbeda pula.
Masalah yang sering terjadi dari metode ini adalah penipuan oleh supplier bagi para penyuling pemula sehingga pada tahap-tahap awal produksi sering terjadi kerugian yang cukup besar. Penipuan/trik bisa berupa kadar air dari bahan baku yang dibeli dengan basis kering masih cukup besar, dicampur oleh bahan baku dari varietas lain yang harganya murah tetapi harga belinya sama, dicampur dengan materi-materi asing yang menyerupai kondisi bahan baku. Strategi ini memiliki kompleksitas kerja dan investasi awal lebih rendah daripada metode pertama.
Metode/strategi pemasaran
Rantai perdagangan minyak atsiri di Indonesia tercantum pada skema sebagai berikut :
Bagi pengusaha yang bermodal besar dan memiliki jaringan yang cukup luas, memotong satu atau dua rantai perdagangan bukanlah sebuah kendala yang besar. Dengan kekuatan dana, networking, maupun SDM, masalah-masalah tersebut dapat teratasi dengan baik. Sedangkan bagi penyuling pemula yang bermodal kecil agak sulit untuk memutus rantai ini karena posisi tawar yang rendah. Para penyuling skala kecil banyakmenjual produk mereka ke pengumpul lokal tingkat Kabupaten yang banyak beredar di sentra-sentra produksi minyak atsiri. Bahkan terkadang para pengumpul tersebut langsung menjemput minyak hasil produksi penyulingan dan langsung dibeli di lokasi apabila penyuling tersebut sudah dikenal dengan baik oleh pengumpul.
Pemasaran untuk produk minyak atsiri (yang umum) tidak terlalu menjadi masalah dengan catatan kualitas minyak sesuai dengan standar perdagangan, tidak terlalu idealis untuk mendapatkan harga jual yang tinggi (untuk tahap awal), dan minyak dipasarkan melalui pengumpul lokal. Semakin jauh seorang penyuling terlib
at dalam bisnis minyak atsiri ini, maka lambat laun akan mengetahui seluk-beluk perdagangan atsiri yang berimplikasi pada jaringan pemasaran yang kian meluas. Mulai saat itulah, penyuling yang bervisi selayaknya dapat mengembangkan skala produksi maupun jangkauan pemasarannya.
Kendala pemasaran bagi penyuling pemula adalah belum mengetahui karakteristik pasar dan keberadaan para pengumpul, kualitas minyak kurang sesuai standar pasar, terlalu idealis untuk mendapatkan harga jual tinggi atau langsung memutus rantai perdagangan padahal pemodalan maupun infrastruktur internal masih belum memadai, serta mudah goyah dengan tingkat fluktuasi harga yang sangat curam dan cukup cepat.
Mekanisme produksi
Meskipun secara prinsip sama, teknik pengoperasian dan produksi untuk aneka jenis minyak atsiri berbeda. Perbedaan terletak pada perlaku
an awal bahan baku sebelum disuling, sistem penyulingan itu sendiri, maupun kondisi operasi (tekanan dan kecepatan uap). Bahkan kapasitas penyulingan pun dapat mempengaruhi nilai ekonomis dari bisnis ini. Sebagai contoh, menyuling minyak pala 50 kg akan memberikan nilai nominal yang sama dengan menyuling nilam 100 kg atau menyuling daun cengkeh 1000 kg per satuan waktu padahal semakin tinggi kapasitas produksi kompleksitasnya juga semakin menjadi. Oleh sebab itu sebelum mendirikan pabrik penyulingan selayaknya harus dipelajari teknik penyulingan yang baik untuk jenis minyak atsiri yang akan diproduksi dan studi kapasitas produksi minimal untuk minyak atsiri tersebut. Teknik pengoperasian alat suling yang baik memang lambat laun dapat diperbaiki atau dipelajari seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman melakukan produksi (learning by doing).
Biaya investasi untuk alat-alat produksi sangat variatif, mulai dari yang harganya di bawah Rp 5.000.000,- hingga ratusan juta rupiah tergantung pada tingkat kapasitas produksi yang dikehendaki, kecanggihan dan sistem alat penyuling, nilai estetis alat penyulingan, serta bahan konstruksi alat penyuling. Para calon penyuling hendaknya tidak mudah terjebak pada janji-janji pembuat bengkel yang menggaransi rendemen minyak sekian persen maupun bisa untuk menyuling jenis minyak atsiri apapun. Meskipun aspek alat suling cukup berpengaruh terhadap rendemen, tetapi sebaik-baiknya alat suling maupun teknik operasinya, maka jika bahan bakunya tidak mendukung, rendemen minyak tetap saja kecil.
Secara umum, suatu alat suling dapat dipakai untuk menyuling jenis minyak atsiri apapun (kecuali untuk jenis bunga melati, mawar, dan kulit jeruk yang memerlukan teknik khusus) tetapi efektivitas, efisiensi maupun nilai ekonomi tentu sangat berbeda. Dan aspek inilah yang harus dipelajari terlebih dahulu. Sebagai contoh, alat suling sistem uap-boiler dengan kapasitas 100 kg daun nilam kering memang bisa dipakai untuk menyuling daun cengkeh. Tetapi daun cengkeh yang mampu disuling hanya sekitar 150- 200 kg saja. Berapa nilai ekonominya untuk 150 kg daun cengkeh? Jika asumsi rendemen 2.5% dan harga jual minyak daun cengkeh saat Rp 47.000,-, maka sekali menyuling (8 jam) hanya diperoleh pendapatan Rp 176.000,-. Nilai itu belum dikurangi biaya pembelian bahan baku, tenaga kerja, bahan bakar, dll. Contoh lain, penyulingan sistem uap-boiler yang dipakai untuk menyuling nilam bisa saja dipakai untuk menyuling minyak jahe dengan kapasitas yang lebih besar tetapi rendemennya bisa saja akan turun dan tidak sesuai dengan yang dikehendaki.
Sedangkan dari sisi bahan bakar, pertimbangan cukup serius perlu dilakukan mengingat paska kenaikan harga BBM ini, minyak tanah atau solar harganya cukup mahal dan kian sulit untuk dicari. Alternatif lain yang sangat mungkin dari murah adalah batubara dan kayu bakar. Oleh sebab itu perlu dipikirkan juga bagaimana mekanisme dalam memenuhi kebutuhan bakar bakar untuk produksi. Tentu saja beda jenis bahan bakar, maka teknik produksi dan konstruksi alat sulingnya juga bisa berbeda.
- investasi alat yang tidak sesuai dengan kebutuhan (kelebihan spesifikasi atau kekurangan
spesifikasi)
- teknik pengoperasian yang belum sempurna (tekanan dan kecepatan penyulingan)
- sistem perlakuan bahan baku sebelum disuling yang belum sempurna
- kapasitas alat yang terlalu kecil sehingga kurang ekonomis untuk menyuling minyak atsiri
jenis tertentu atau bisa jadi justru malah terlalu besar
- ketiadaan pasokan bahan bakar
- ketidaktahuan dalam melakukan analisis standar kualitas minyak atsiri yang dihasilkan
- terjebak pada janji-janji bengkel pembuat alat suling yang kurang berpengalaman dalam
penanganan masalah-masalah praktis minyak atsiri.
Aneka masalah di atas dapat mengakibatkan rendemen minyak yang rendah serta kualitas minyak yang dihasilkan kurang sesuai dengan standar pasar.
Lokasi penyulingan
Lokasi penyulingan sangat menentukan besaran investasi dan biaya operasional produksi. Lokasi penyulingan yang dekat dengan sumber air mengalir (sungai, parit, atau aliran irigasi) sangat membantu dalam menyediakan air pendingin untuk kondensor sehingga tidak dibutuhkan investasi yang lebih besar dalam hal penyediaan kolam pendingin, sistem menara pendingin, maupun mekanisme penyediaan air pendingin itu sendiri (sumur bor, pemompaan dan perpipaan dari sumber air ke lokasi, dll).
Lokasi penyulingan yang dekat dengan sumber bahan baku akan mengurangi biaya operasional produksi terutama dari aspek transportasi bahan baku menuju lokasi penyulingan. Untuk jenis minyak atsiri yang memiliki bulk density besar maka sah-sah saja lokasi penyulingan jauh dari sumber bahan baku. Tetapi untuk jenis minyak atsiri dengan bulk density kecil (ringan) maka mutlak harus dekat dengan sumber pasokan bahan baku seperti dauncengkeh, nilam, dan sereh wangi. Sebagai catatan, dengan harga minyak nilam yang masih dirasa cukup menarik saat ini, maka mengambil bahan baku nilam kering dari lokasi yang cukup jauh asal harga belinya ditambah ongkos transportasi masih rasional masih dapat dilakukan.
Lokasi penyulingan juga harus mempertimbangkan kemudahan supply bahan bakar. Ketiadaan bahan bakar akibat lokasi yang kurang menguntungkan justru akan menghambat proses produksi kelak atau mempertinggi biaya operasional dari aspek pengangkutan dan harga beli bahan bakar.
Pertimbangan serius perlu diperhatikan apabila memutuskan untuk melakukan aktivitas penyulingan di lokasi dimana sudah terdapat beberapa penyulingan lain yang sejenis apalagi jika tidak memiliki kebun inti sendiri. Hal ini bisa mengakibatkan gejolak atau friksi dengan sesama penyuling (dan pengumpul bahan baku) yang berimplikasi pada kompetisi yang tidak sehat dalam memperebutkan pasokan bahan baku. Penyuling pemula yang kurang gigih, kurang memiliki jejaring dan wawasan, dan miskin pengalaman akan mudah tergilas pada kondisi seperti ini.
- persediaan bahan baku terhambat serta tingginya biaya transportasi
- persediaan air pendingin terhambat terutama jika musim kemarau tiba
- persediaan bahan bakar terhambat, misalnya minyak tanah harganya mahal sedangkan kayu bakar dan
batubara sulit dicari di sekitar lokasi penyulingan.
- harga beli bahan baku tinggi dan kesulitan untuk memenuhi kapasitas produksi yang dikehendaki.
Thursday, July 24, 2008
Menggagas pengembangan minyak atsiri baru
Di blog ini, saya tidak akan terjebak pada polemik berkepanjangan mengenai supply and demand dari minyak nilam dan apakah akan terjadi over supply akibat perkembangan minyak nilam Indonesia yang begitu dahsyat sehingga harganya akan kembali turun mengingat saya bukan pada kapasitas dan kapabilitasnya untuk berbicara mengenai hal itu di ruang publik seperti ini. Semua analisis pribadi akan saya simpan sendiri saja sebagai bahan renungan…hehe. Mungkin hanya satu hal yang ingin saya tekankan, minyak atsiri is my life. Naik ataupun terpuruknya harga minyak atsiri tidak akan mempengaruhi saya untuk terus berkarya di bidang ini….cieeeee. Mengingat kami menggeluti bisnis ini bukan atas dasar ikut-ikutan trend (ABG bilang kormod=korban mode), tapi lebih pada kecintaan (sejak mahasiswa dulu) pada salah satu sumber daya alami negeri ini dan ingin agar komoditas ini terus berkembang. Seperti banyak orang bilang “cinta itu buta”.
Berbicara minyak atsiri memang identik dengan minyak nilam meskipun aneka sumber minyak atsiri tersedia di
Jika kita bandingkan dengan komoditas minyak atsiri lainnya yang tergolong tanaman keras seperti pala, kenanga dan ylang-ylang, kayu putih, kayu manis, gaharu, massoi, cengkeh, maka nilam memang banyak keunggulannya terutama dari sisi mekanisme pengadaan bahan baku. Saya ambil contoh minyak pala, sentra penyulingan minyak pala saat ini adalah Kabupaten Bogor. Sumber bahan baku memang tersedia di wilayah Bogor dan sekitarnya (Sukabumi dan Cianjur) tetapi adanya beberapa penyuling yang beroperasi di wilayah tersebut membuat iklim kompetisi untuk mendapatkan bahan baku sangat ketat. Alhasil, banyak penyuling yang melakukan ekspansi bahan baku keluar daerah tersebut. Bahkan juga hingga luar Jawa. Biji pala kering masih cukup baik disimpan dalam waktu beberapa hari sehingga bisa didatangkan dari manapun (asal harga + transportnya masih masuk akal). Mendirikan penyulingan pala baru di Kabupaten Bogor, tentunya harus juga harus berhadapan dengan penyuling-penyuling lama yang sudah mapan dan memiliki jaringan supply bahan baku yang baik. Kalau mau menanam sendiri, sah-sah saja asal mau menunggu sampai 7 tahun untuk menuai hasil perdana.
Demikian juga produksi minyak daun cengkeh yang harus mendekati sentra perkebunannya, paling tidak radius 10 km. Jika tidak, ongkos transportnya yang sangat besar apalagi harga minyak daun cengkeh khan paling murah dari semua jenis minyak atsiri apapun. Makanya orang produksi minyak daun cengkeh harus kapasitas jumbo alias minimum menyuling sekitar 500-600 kg daun/batch. ”Wah, nggak kuat deh”, kata seorang rekan yang hendak mencoba masuk ke dunia minyak atsiri saat berdiskusi dengan saya.
Sementara untuk penyulingan kayu massoi, banyak disuling di luar Papua yang notabene satu-satunya penghasil komoditas kayu massoi. Meskipun saat ini industri penyulingan kayu massoi juga sudah berkembang di pulau kepala burung tersebut. Kalau anda mau produksi minyak ini harus kenal dengan para supplier bahan bakunya atau mengetahui seluk-beluk perdagangan kayu massoi mulai sejak dari sumbernya (Ya tidak, Wal...hehe).
Minyak gaharu itu mahal harganya. Dengar-dengar 1 ml bisa mencapai Rp 70.000,- (1 liter ekivalen dengan Rp 70.000.000,-). Menyuling kayu gaharu memang tidak semudah membayangkan harganya yang selangit, perlu pengetahuan yang mendalam perihal penyediaan bahan baku dan teknik produksinya yang khas.
Dari pemaparan di atas tampak jelas mengapa minyak atsiri yang berasal dari tanaman keras tidak terlalu dilirik oleh peminat atsiri dadakan (mohon maaf dengan istilah ini) mengingat untuk budidaya tanaman keras diperlukan waktu yang cukup lama. Yah.... mendingan gw nanam jati emas atau kayu albasia (sengon) aja, deh...hehe. Kalau peminat dadakan yang tertarik suatu bidang agrobisnis tertentu karena blow up media, khan maunya langsung ”menghasilkan”, ya ngga? Jadi inget sama kasus cacing tanah, jangkrik, mengkudu, mahkota dewa, dan baru-baru ini anthurium.
Bagaimana dengan akar wangi? Setahu saya minyak ini cuma ada di Garut. Katanya di Wonosobo-Jateng juga banyak ditanam tetapi peruntukannya berbeda. Di Garut untuk diproduksi minyaknya sedangkan di Wonosobo banyak dipakai untuk bahan baku produk-produk handy craft. Cerita punya cerita, pengembangan akar wangi di daerah selain Garut-Jabar beberapa kali dilakukan. Pertumbuhannya cukup baik tetapi minyak atsiri tidak sebaik Garut baik dalam hal kualitas maupun rendemennya. So, kalau mau investasi untuk penyulingan akar wangi, ya harus di Garut...hehe (Ya tidak, Pak Ede...:).
Minyak jahe? Sumber bahan baku (jahe emprit) juga cukup potensial, bahan bakunya bisa dicari dimana-mana karena cukup banyak sentra perkebunan jahe emprit. Meskipun memang setelah saya hitung-hitung marginnya cukup tipis juga. Jadi kalau mau ambil margin agak besar, harus mendatangi sentra-sentra perkebunannya dan membeli/bernegosiasi langsung dari para pengepul atau syukur-syukur petaninya langsung (hal ini juga tidak mudah dilakukan, tapi bukan berarti tidak mungkin). Jangan salah, lho nanti malah ditipu. Inginnya jahe emprit tapi dapatnya jahe gajah yang kecil-kecil dimana rendemennya sangat rendah. Jahe ini juga bisa kok dibudidayakan sendiri, waktu panen sekitar 12 – 16 bulan. Pun alih-alih harga minyak jahe rendah, setelah panen bisa dijual ke pengepul sebagai bumbu dapur atau obat-obatan/jamu....hehe. Atau bisa dikeringkan dan dijadikan simplisia untuk bahan baku farmasi.
Minyak melati yang harganya mahal pun sebenarnya bisa saja dibudidayakan sendiri asal tahu bagaimana cara memasarkan minyaknya. Produksinya memang agak beda dengan kebanyakan minyak atsiri, istilah kerennya ekstraksi pelarut (solvent extraction). Tuh, di TRUBUS edisi Juli ada prosedur produksi minyak melati skala kecil-kecilan.
Yang mirip-mirip nilam memang sereh wangi (citronella oil). Harganya cukup baik, naik perlahan-lahan hingga saat ini berada di level Rp 85.000 – Rp 90.000 /kg. Sangat mungkin untuk dibudidayakan sendiri bagi para peminat yang ingin cepat-cepat menghasilkan. Sereh wangi itu seperti nilam, 6 bulan sudah bisa dipanen. Selebihnya setiap 3-4 bulan sekali selama sekitar 3-4 tahun dengan catatan pemeliharaan dan perawatannya dilakukan secara berkesinambungan. Coba deh tanya Pak Tio yang muncul di TRUBUS bulan Juli dengan minyak sereh wanginya. Permintaan minyak sereh wangi dunia juga sangat besar mengingat tiga komponen utama minyak ini sangat dibutuhkan pada industri flavour and fragrance, seperti citronellal, citronellol, dan geraniol. Jika dibandingkan dengan hitung-hitungan bisnis minyak nilam dengan harga saat ini, dengan tegas saya katakan memang masih lebih menguntungkan minyak nilam.
Lalu bagaimana potensi minyak atsiri yang samar-samar terdengar yang sumber bahan bakunya sebenarnya tidak sulit untuk dicari (asal mau nyari, lho..hehe). Yang samar-samar tapi sebenarnya ada juga yang menampung meskipun tidak kontinyu seperti minyak lengkuas hutan (laja gowa), minyak daun jeruk purut, minyak kunyit, minyak kemukus, minyak lada hitam, minyak jinten. Ada juga minyak-minyak yang lainnya yang benar-benar tergolong baru di Indonesia seperti minyak sereh dapur, minyak kapulaga lokal, minyak adas, minyak kemangi, minyak temulawak, minyak bangle). Kalau bingung dengan literaturnya, jangan khawatir, datang saja ke perpustakaan Balitro di Cimanggu-Bogor. Boleh baca-baca, kalau mau photo copy juga boleh kok. Meskipun hasil penelitian memang tidak selalu mentah-mentah langsung bisa diaplikasikan, harus melewati bbrp tahapan lagi. Tetapi sebagai gambaran awal, it’s OK lah.
Komoditas ini tidak seperti nilam lho. Andaikan saat panen tiba harga minyaknya turun atau sulit memasarkannya, bisa dijual sebagai rempah-rempah, bumbu, atau bahan baku jamu. Kalau nilam, mau tidak mau harus disuling khan? Tidak mungkin bisa dipakai untuk bahan pangan. Atau jangan-jangan sebenarnya tanaman nilam bisa dipakai sebagai pengganti canabis sativa alias ganja....hehehe (just kidding, don’t take it too serious, babe).
Saya sendiri sedang eksplorasi pasar untuk jenis-jenis minyak atsiri baru. Tidak harus ekspor lah, ke tengkulak atau pengumpul atau agen atau trader atau apapun namanya untuk tahap awal sih sah-sah saja. (It's better to do the things what you think "I can do it succesfully". And it's better to start now - even for small one, but well done, than you just show up your bullshit talk everywhere).
Yang penting harga OK. Syukur-syukur malah dapat end-user langsung baik untuk spa, aromatherapy, sabun, balsem, pewangi, retailer, dll. Tidak apa-apa jumlahnya kecil untuk keperluan terbatas dan eksklusif tetapi marginnya besar. Orang bilang, low volume – high margin. Tidak seperti saya yang saat ini produksi minyak pala, high volume – low margin....hehe (bahkan kadang-kadang negative margin). Meskipun saat ini belum menemukan pasar yang tepat untuk jenis-jenis minyak atsiri baru, tetapi yakinlah dengan kesabaran, konsistensi, keuletan bereksplorasi, keyakinan, dan ketekunan semuanya akan sesuai dengan rencana. Seperti Kolonel Hannibal dalam serial The A Team sering mengatakan di akhir cerita “I love when the plan comes together” sambil menyeruput cerutu yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Friday, June 20, 2008
PAKET HEMAT MESIN INDUSTRI MINYAK ATSIRI
Spesifikasi
KETEL SULING
- tipe : sistem kukus (tanpa boiler) dengan kohobasi (air kondensat masuk kembali ke dalam ketel)
- material : stainless steel - 202
- tebal : 2 mm
- diameter : 110 cm
- tinggi : 175 cm
- volume total : 1700 Liter
- kapasitas bahan : 100 – 120 kg bahan kering nilam/batch (tergantung ukuran rajangan)
- kelengkapan : pressure gage, distributor uap, flange pengunci fleksibel, aliran dan valve uap, aliran dan valve drain, saringan bahan SS, sight glass (pengukur level air dalam ketel), pipa-pipa dan valve kohobasi.
KONDENSOR/PENDINGIN
- tipe : sistem spiral
- material pipa : stainless steel 1 1/4 - 1 in
- material selubung : drum besi tebal 2 mm, volume 580 Liter
- panjang total pipa : 30 m
- diameter lilitan : 65 cm
- kelengkapan : pipa keluaran dan masukan air pendingin, penyangga
OIL SEPARATOR
- tipe : tabung vertikal dengan gelas pengamat
- material : Stainless steel SS-202
- tebal : 1.5 mm
- diameter : 35 cm
- tinggi total : 35 cm
- volume total : 35 liter
- kelengkapan : gelas pengamat, pipa dan valve aliran minyak, pipa dan valve drain, pipa dan corong masukan kondensat, pipa dan valve keluaran air (masuk ke pipa kohobasi), penyangga.
Term and condition
Bea kirim (di Pulau Jawa), instalasi dan ujicoba, pelatihan/training pengoperasian, pembuatan tungku pembakaran (tidak termasuk material dan tenaga kerja), konsultasi, dan garansi.
Waktu pembuatan
3 minggu (belum termasuk instalasi)
Untuk contoh photo, harga, dan informasi lainnya, silakan kontak :
FERRY (0811-2428019)
atau email: mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Friday, June 13, 2008
Si Unyil di Penyulingan Minyak Pala
Photo atas : Kru Pavettia Atsiri bareng Unyil dan Melanie
Monday, June 02, 2008
“GOLD REVOLUTION” PLANT FOR A FUTURE [Melaleuca Bracteata]
Ada titipin dari seorang rekan untuk memasukkan informasi ini di blog ferry-atsiri. Yang membutuhkan informasi lebih lanjut atau berkenan mengembangkannya, silakan kontak teman saya : Annas (0819-5455030)
Nama ilmiah lainnya : Melaleuca genistifolia auct.
Melaleuca monticola J. M. Black
Nama umum : river tea-tree , black tea-tree , white cloud tree prickly-leaved tea-tree , bracteate honey-myrtle
Nama dagang : river tea-tree , Black tea-tree
Nama Lokal : Cemara Hantu, kayu putih daun wangi
Tinggi tanaman : 1 m mencapai 5 meter, rentang 2 meter
Perakaran : Tunggang sampai 2 meter
Ketinggian : 1- 1500 dpl, makin tinggi pertumbuhan semakin optimal.
Diameter batang : 10 cm – 30 cm, keras, kokoh.
Cabang : banyak
Usia produktif : 3 - lebih dari 25 tahun
Asal tanaman : Daerah sub tropis, Austria dan Australia ada 144 jenis
Kandungan utama : Metil Eugenol 85%
Bagian yang disuling : Daun basah
Rendemen : 1 – 2 %
Cara perbanyakan : Stek dan semai biji
Deskripsi Tanaman
Tanaman yang bebas dari penyakit dan hewan pengganggu, selain moderat terhadap kebutuhan air, tanaman ini tumbuh pesat pada usia 2 tahun. Dan dapat di tumpang sarikan dengan jenis tanaman lainnya.
Dapat tumbuh di tanah yang ringan (pasir) medium (campuran) dan berat (tanah liat) yang utamanya memiliki system drainase yang baik( tidak menggenang). Kondisi pH tanah dari asam sampai netral. Tidak dapat tumbuh baik pada daerah yang gelap (tertutup bayangan). Membutuhkan tanah yang lembab, sukses dikembangkan di Australia pada kondisi tanah lembab, subur dan system pengeringan baik. Habitat alaminya pada daerah berhutan dengan intensitas sinar matahari sepanjang hari
Perawatan
Tanaman ini mudah tumbuhnya, namun tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Melaleuca dapat tumbuh pada tanah yang miskin hara selama tidak tergenang air, sistem pengeringan harus jadi perhatian utama jika ditaman di daerah yang basah. Tidak menghendaki pemupukan yang berlebihan dan sensitif pada penambahan berlebih unsur Phosfor (P), cocok untuk tanah yang tidak mengandung banyak nitrogen. Sangat dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik dan kompos serta mengurangi atau tidak menggunakan pupuk kimia. Melaleuca tahan kekeringan, angin kencang, suhu panas dan salju pada musim dingin (jika ditanam pada daerah dengan iklim mediterania).
Dari biji dibutuhkan waktu 12 bulan untuk siap tanam, biji tahan disimpan sampai 3 tahun lebih. Pemanenan terbaik dilakukan setelah tanaman telah berbunga.
Pembibitan Biji – ditaburkan pada media penyemaian pada awal musim hujan dalam pot yang lembab dan hangat (jika memungkinkan menggunakan greenhouse), 5 cm dari sumber air dan jangan di siram air dari pucuk daun, cukup disiramkan pada akarnya. Saat bibit berukuran 0,5 cm dipindahkan ke pot hingga usia 12 bulan baru dipindahkan ke lahan pada awal musim panas atau akhir musim hujan. Dalam masa perawatan jika diperlukan menggunakan seeding net, ventilasi dan kebersihan harus diutamakan. Potong setengah dari tinggi tanaman menggunakan pisau tajam 6 bulan setelah pindah ke lahan.
Cara Produksi
Minyak atsiri di suling dari bagian daun, Minyaknya lebih berat dari berat jenis air.
Parameter kimia
Specific Gravity at 15/15C : 1.025 to 1.039
Optical Rotation at 20C : - l!24' to - 4.0'
Refractive Index at 20C : 1.529 to 1.535
Acid Number : 0.7 to 1.3
Ester Number : 5.3 to 17.1
Ester Number after Acetylation. : 17.0 to 32.9
Solubility in 70% Alcohol (w/w) : Soluble in 1.0 vol
Kandungan kimia 70 – 85 % Methyl eugenol
4 – 10 % elemicin
4 – 10 % methyl cinnamate
0.5 – 5 % alpha-terpinolene, beta-caryophyllene
0.5 – 4 % para-cymene, methyl chavicol
Up to 3 % limonene, myrcene
Kegunaan Insektisida, anti-mikroorganisme, menyerap UV, Antiseptic, Sumber Methyl eugenol, Essential oil, perasa buatan, campuran pewangi dan parfum, penolak sarangga.
Prospek
- Komoditi baru dengan pasar yang tidak terbatas
- Belum ada penyulingan secara komersil
- Tanaman tahunan dengan perawatan yang mudah
Monday, May 26, 2008
Buku Minyak Atsiri GUENTHER (terjemahan Pak Ketaren)
Ini dia buku minyak atsiri yg selama masih menjadi standar informasi mengenai minyak atsiri meskipun pertama kali diterbitkan pada tahun 1948. Dari 5 volume terbitan aslinya, baru 3 volume yang telah diterjemahkan oleh Pak Ketaren dan telah diterbitkan, yaitu Volume 1, 3 (A dan B) dan 4 (A dan B). Buku aslinya (Bhs Inggris) bisa dijumpai di perpustakaan Teknik Kimia - ITB. Atau kalau mau beli aslinya, tersedia di www.amazone.com tp mahal...hehehe. Sedangkan buku terjemahannya bisa dibeli di pasar-pasar buku, misal di Jakarta : Kwitang atau di Bandung : Palasari.Volume 1 : berisi mengenai cara produksi minyak atsiri dan teknologi2 berkaitan dengan minyak atsiri.
Volume 2 : berisi mengenai tinjauan kimia minyak atsiri
Volume 3 : berisi risalah2 tanaman penghasil minyak atsiri serta aneka informasi minyak atsirinya itu sendiri (utk famili2 tanaman tertentu)
Volume 4 : idem (lanjutan volume 3)
Volume 5 : idem (lanjutan volume 4)
Tuesday, April 29, 2008
MINYAK KEMUKUS (Piper cubeba)
Aku perkenalkan kepada Saudara sekalian…………. Piper cubeba alias kemukus. Pernah dengar kata "kemukus"? Orang Jawa mengenal istilah "lintang kemukus" atau bahasa kerennya "komet" atau bintang berekor. Konon menurut mitos yang berkembang pada masyarakat Jawa, munculnya lintang kemukus merupakan pertanda terjadinya huru-hara, perang, maupun musibah. Konon kabarnya, sebelum meletusnya Agresi Mililter Belanda, pemberontakan PKI Madiun, maupun peristiwa G/30/S juga melibatkan firasat yang ditorehkan si lintang kemukus ini. Kemukus juga merupakan sebuah tempat petilasan untuk "ngalap berkah"di Kabupaten Sragen – Jawa Tengah. Yah, para penggemar mistik tentu tahu benar petilasan "Gunung Kemukus" sebagai warisan Pangeran Samudro yang konon kabarnya para peziarah diwajibkan untuk melakukan ritual seksual dengan sesama peziarah yang tidak ada hubungan suami-istri agar permintaannya dapat terkabul.
Namun, istilah kemukus yang masuk pada blog ini tidak ada hubungannya dengan kedua terminologi di atas. Kita akan berbicara mengenai minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman kemukus (Piper cubeba), atau dalam istilah orang Sunda disebut "rinu". Topik ini pernah aku pelajari saat kuliah dulu melalui skripsiku yang berjudul "Studi Distilasi dan Kemanfaatan Minyak Kemukus (Piper cubeba)". Adapun makalah ini dapat di-download di situs http://digilib.che.itb.ac.id/download.php?id=2718. Tapi ya seperti kebanyakan mahasiswa seperti diriku dahulu yang mengerjakan skripsi tidak dengan sungguh-sungguh alias "yang penting lulus, lah…hehehe", sehingga secara pribadi harus kuakui bahwa kualitas skripsiku jauh dari memuaskan.
Pada akhirnya aku mendapatkan buah kemukus dari seorang pedagang/pengumpul hasil bumi di Kota Tasikmalaya, pedagang jamu-jamuan di Pasar Beringharjo – Yogjakarta, dan ternyata di kebun Bulik-ku yang terletak di Desa Gesing, Kec. Kandangan, Kab. Temanggung – Jawa Tengah juga terdapat beberapa buah pohon kemukus.
(Cat: Aku ini asalnya dari Temanggung – Jawa Tengah, meskipun cuma numpang lahir doang, aku cinta daerah ini dan punya obsesi bahwa kelak kampung halamanku harus memiliki komoditas atsiri unggulan…hehe)
Menurut Om Wiki, Piper cubeba merupakan tanaman asli
Minyak kemukus sebagian besar diambil dari buahnya (kering). Hasil penelitian Balitro oleh Rusli dan Laksmanahardja (1982) diperoleh rendemen buah kemukus kering tertinggi adalah 7.53% (w/w) pada penyulingan selama 9 jam dan kecepatan penyulingan 0.58 liter/jam/kg. Berat bahan yang disuling sekitar 1,8 kg. Buah kemukusnya diperoleh dari Kebun Bandarrejo,
Minyak kemukus banyak digunakan sebagai penguat rasa pada makanan dan penggunaannya dalam bidang farmasi sudah diketahui sejak zaman dahulu sebagai salah satu komponen ramuan tradisional/jamu karena bersifat antiseptik, diuretik, karminatif, dan ekspektoral. Khasiat kemukus terutama untuk penyakit kelamin (gonorrhea), leukorea, bronchitis, radang kantung kemih, disentri dan penyakit perut lainnya. Bahkan minyak ini juga digunakan sebagai campuran saus rokok untuk penyakit asma. Pada tahun 2001, perusahaan flavor and fragrance terkemuka asal Swiss, Firmenich, mematenkan cubebol yakni salah satu komponen yang terkandung dalam minyak kemukus sebagai cooling and refreshing agent. Menurut dosenku (Pak Tatang), kandungan monoterpen dan seskuiterpen-nya yang cukup besar (juga rendemennya besar) memungkinkan minyak kemukus dikonversi menjadi biokerosin (minyak tanah dari bahan nabati) seperti halnya biodiesel dari jarak pagar atau minyak sawit serta bioetanol dari tanaman yang mengandung pati/glukosa. Tetapi tentu saja konversi minyak kemukus menjadi bahan bakar biokerosin secara ekonomi masih menjadi mimpi pada saat ini.
Ditinjau dari sisi kimiawi, kandungan minyak kemukus meliputi a-tujen, a-pinen, sabinen, limonen, trans-sabinen hidrat, a-kopaen, b-elemen, kariofilen, epi-cubebol, cubebol, guaiol dengan komposisi yang diperoleh menggunakan alat instrumen GC-MS (Elfahmi, 2006)
Hitung-hitungan ekonomi sederhana, yuk. Kalau 1 kg kemukus kering harganya Rp 35.000,-. Harga minyaknya Rp 600.000,- dan rendemen rata-rata 9%. Maka Gross Profit Margin (GPM) untuk mengolah 100 kg buah kemukus adalah : Rp 1.900.000,- (belum termasuk bahan bakar, tenaga kerja, dan operasional lainnya).
Informasi lebih lengkap mengenai perkebunan dan data statistik lainnya mengenai komoditas kemukus, silakan menjelajahi situs berikut:
http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/?p=teknologi.2.9
Thursday, April 24, 2008
LITSEA CUBEBA OIL: Sebuah Wangi yang Tersembunyi
Kemarin malam aku ditelepon si Awal Ramadhan (adik kelasku dulu di ITB dan sekarang sudah menjadi salah satu juragan kayu massoi di Papua…hehe), dia bertanya mengenai minyak litsea cubeba (litsea cubeba oil). Usai telepon aku termenung, ingat akan kejadian-kejadian beberapa tahun silam saat aku masih kuliah tingkat 3.
Pertama kali aku mendengar dan mengenal dunia minyak atsiri pada masa-masa itu ternyata bukanlah minyak nilam, minyak sereh, minyak pala, minyak cengkeh, atau minyak atsiri apapun yang sudah cukup familiar di Indonesa. Yah, aku pertama kali kenal istilah minyak atsiri berawal dari minyak litsea cubeba ini.
2 tahun kemudian, saat aku dan beberapa rekan jalan-jalan ke Ciwidey-Bandung Selatan, aku kembali menemukan pohon ini dalam jumlah beberapa di sekitar Kawasan Wisata Kawah Putih – Gunung Patuha, Jawa Barat.
Litsea cubeba oil merupakan salah satu komoditas minyak atsiri yang diperdagangan di dunia. Penghasil utama minyak ini adalah RRC dengan tingkat produksi di atas 1500 ton/tahun. Harga internasional minyak ini pada akhir tahun 2007 sekitar 17
Aku kutif dari sebuah sumber tertulis di internet "Small quantities of Litsea cubeba oil are produced on Java, Indonesia, but from the leaves rather than the fruits and it is not rich enough in citral to be suitable for export". Hal ini sejalan dengan informasi yang diberikan oleh Si Awal via telepon tempo hari. Dia mengatakan bahwa di daerah Cepu-Jawa Tengah pernah ada yang menyuling minyak ini dan diekspor ke
Penasaran pengen lihat bentuk tanaman dan buahnya? Karena photo-photo kita dulu masih di tangan rekan saya, terpaksa aku ambilkan dari internet.
Wednesday, April 16, 2008
Horee...Juara di Shell LiveWire Business Start Up Awards 2008
Semoga dengan adanya penghargaan ini dapat lebih termotivasi untuk berkarya lebih baik bagi kedigdayaan minyak atsiri Indonesia....:)
Info lebih lengkap klik:
http://www.ukm-center.org/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=537