Monday, December 31, 2007

Alkoholmeter/meterlak

Apa itu alkoholmeter atau di kalangan penyuling biasa disebut "meterlak"? Sebenarnya alat ini tidak lain adalah hydrometer yang berfungsi untuk mengukur berat jenis (specific gravity) suatu larutan/cairan. Sedangkan dalam konteks alkoholmeter, jenis hydrometer ini sebenarnya secara spesifik digunakan untuk mengukur konsentrasi alcohol (etanol) dalam air. Misalnya, jika kita memiliki cairan alcohol 70%-berat maka ketika alkoholmeter ini dicelupkan dalam cairan tersebut permukaan cairan akan menunjukkan angka 70 pada skala alkoholmeter. Jika dicelupkan pada air murni, maka permukaan cairan akan menunjuk angka 0 pada skala alkoholmeter. Alkoholmeter dapat dibeli di toko kimia atau toko perangkat laboratorium terdekat dengan harga yang bervariasi antara Rp 100.000 s/d Rp 200.000,-

Alat ini sering digunakan sebagai pendekatan untuk mengukur kualitas beberapa jenis minyak atsiri pada perdagangan di tingkat penyuling/pengepul, misalnya minyak nilam, pala, cengkeh, sereh wangi. Hal ini dilakukan karena prosesnya sangat simple, cepat, dan tidak membutuhkan biaya meskipun tingkat akurasinya dalam mendeteksi kadar komponen utama yg menentukan kualitas minyak masih belum sempurna. Jika dilakukan analisis komponen menggunakan alat dengan tingkat akurasi tinggi seperti GC atau GC-MS tentu memerlukan waktu yg lama dan biaya yg mahal. Pada perdagangan minyak atsiri untuk tingkatan yg lebih tinggi lagi, tentu analisis kualitas menggunakan alkoholmeter menjadi tidak valid dan kurang diterima.

Contohnya untuk minyak nilam, batasan nilai meterlak tertinggi yg diterima di kalangan pengepul adalah 40 (meskipun untuk masa krisis minyak nilam seperti saat ini, batasan tersebut masih sangat dapat ditoleransi). Hal ini bukan berarti bahwa kadar PA minyak tersebut 40%. Semakin tinggi nilai meterlak minyak nilam, maka minyak tersebut akan semakin encer dan densitasnya semakin menjauhi air (densitas 0,998 - 1 gr/cm3). Coba kita bandingkan secara logika, PA (patchouli alcohol/pathcoulol) dalam keadaan murni memiliki densitas sekitar 1.001 gr/cm3 dan berbentuk kristal, artinya densitas PA itu mendekati air (atau malah mirip dengan air). Nah, jika angka meterlaknya makin besar artinya semakin menjauhi densitas air sehingga "pendekatan" yang dipercaya adalah kadar PA-nya semakin rendah yang bisa jadi juga telah dicampurkan (adulterasi) dengan komponen yang larut dalam minyak nilam seperti alkohol. Lalu, timbul pertanyaan lebih lanjut, apakah jika meterlak-nya semakin rendah maka kadar PA nilam juga makin tinggi? Sebagai pendekatan, bisa dikatakan "YA". Tetapi apabila terlalu rendah, bisa jadi pula (baca=dicurigai) diakibatkan oleh pencampuran komponen lain. Berdasarkan SNI, rentang berat jenis minyak nilam yang dipersyaratkan adalah 0,943 – 0,983. Setelah saya coba olah dan hitung-hitung, nilai berat jenis tersebut akan ekivalen dengan nilai meterlak 30 – 10.

Minyak nilam tentu saja mengandung berbagai macam komponen kimia dengan berat jenis yang bervariasi dimana turut berpengaruh terhadap nilai meterlak ini, sehingga itulah mengapa analisis model ini belum cukup valid meskipun telah ada semacam kurva kalibrasi yang menghubungkan antara kadar PA dengan angka meterlak.


Sunday, December 16, 2007

PA Nilam

Pertanyan Imam:

Dear Mas Feri,
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri.
Nama saya : imam joko tinggal di pasuruan Jatim.
Saya adalah karyawan dari salah satu PMA jepang (bisa anda lihat dari e-mail address saya). Saya tahu anda dari blog yang anda punya. Saya tertarik dengan bisnis ini karena saya lihat prospeknya cukup bagus walaupun semua ada resikonya. Saya sedang mempelajari dan mencoba menggeluti bisnis minyak nilam ini. Saya bekerja sama dg seorang kawan penyuling minyak nilam dengan kapasitas 100kg kering per hari dengan demikian saya bisa langsung tahu kendala2 dan peluang2nya.

Ada yang ingin saya tanyakan, mudah-mudahan Mas Feri berkenan menjawabya.
1. Tentang kadar PA.
Bagaimana cara mengukurnya, apakah ada alat ukur yg bisa dibeli dipasaran? Semakin tinggi kadar PA apakah kualitas semakin baik/sebaliknya. Soalnya saat minyak dijual ke pengepul semakin rendah PA maka harga semakin mahal. Rata2 PA minyak saya 34-37%. Saat ini dihargai sekitar Rp. 790,000/kg. PA 34% lebih mahal dari PA 37%. Bagaimana harga pasaran sekarang?

2. Peningkatan kadar PA

Dari refrensi yg saya baca kadar PA banyak dipengaruhi dari bahan bakunya. Pertanyaan saya apakah minyak hasil suling masih bisa di-improve kadar PA-nya, kalo bisa bagaimana caranya.

Sementara ini dulu perkenalan saya.

Jawaban Ferry:

Salam kenal kembali Mas Imam...
Langsung saja ya...
1. Mengenai alat ukur PA yang akurat tentu saja dapat menggunakan analisis GC-MS tetapi itu hanya ada di perusahaan2 bermodal besar atau di lembaga2 penelitian (atau kampus) yang memang memilikinya utk keperluan penelitian (dan kadang2 dikomersialkan juga). Sekali analisis GC-MS biayanya paling murah yg pernah saya lakukan adalah Rp 125.000 - Rp 175.000/sampel. Kalau alatnya harganya sangat mahal, yah... up to 0.5M lah. Sedangkan alat pengukur PA yang digunakan oleh pengepul adalah alkoholmeter/meterlak yang bisa diperoleh di toko2 kimia atau alat2 lab. Alat itu hanya digunakan sebagai pendekatan, jadi bukan untuk mengukur kadar PA-nya. Meskipun ada yang sudah memiliki kurva kalibrasi/hubungan antara angka yang tertera pada meterlak dengan perkiraan kadar PA-nya. Tentu saja kadar PA yang lebih tinggi memiliki nilai jual yang tinggi. Nah, nilai meterlak itu berbanding terbalik dengan kadar PA sesungguhnya. Semakin rendah nilai pada meterlak, maka semakin tinggi kadar PA-nya. Begitu pula sebaliknya.

2. Kadar PA memang sangat dipengaruhi oleh bahan bakunya. Perbedaan pemupukan dan topografi lahan juga turut menentukan kadar PA minyak nilam. Minyak nilam hasil sulingan bisa ditingkatkan kadar PA-nya dengan berbagai cara, namun tentu saja biayanya lumayan mahal.
Hanya saja, kita harus hitung2an cost produksi utk peningkatan kadar PA. Kalau memang harganya tidak meningkat secara signifikan, maka silakan dihitung2 sendiri apakah masih untung atau rugi ketika melakukan peningkatan kadar PA. Yang jelas, dalam upaya meningkatkan kadar PA minyak nilam pasti akan ada beberapa % minyak yang loss (hilang).

Demikian semoga dapat memberikan informasi

-ferry-

Minyak Akar Wangi

Pertanyaan Chandra:
Mas Feri perkenalkan nama saya Chandra, saya sangat terkesan dengan usia anda yg begitu belia udah menjadi dosen dan mempunyai seabreg ilmu pengetahuan dan pengalaman berusaha dalam bidang essential oils. Selagi surfing di web meng-google info tentang vertiver root oil saya terdampar di blog anda hehe. Ingin sekali saya bertemu dan konsultasi dg mas Feri mengenai minyak akar wangi. Bagaimana prospek minyak ini sekarang apakah masih menguntungkan untuk dijalankan?

Trims.

Jawaban Ferry:
Dear Mas/Pak Chandra….
Terima kasih atas apresiasinya.
Mengenai vetiver oil, Indonesia memproduksi vetiver oil dalam jumlah terbatas dan HANYA di Kabupaten Garut saja. Sejauh pengetahuan saya, belum ada satu daerahpun di Indonesia yang memproduksi minyak akar wangi selain di Garut karena memang kondisi agroklimat yang cocok untuk tanaman tersebut. Kalaupun ada, akar wanginya digunakan untuk keperluan kerajian angan (handy craft). Untuk pengembangan daerah lain, saya kira perlu studi agroklimat yang menyeluruh dan kebun percobaan supaya tingkat keberhasilan penanaman dan rendemen minyak yang dihasilkan baik.

Kalau bicara prospek, peluangnya masih sangat besar.
Mengenai menguntungkan atau tidak, semuanya tergantung pada optimalisasi produksi minyak, optimalisasi proses, dan sistem tanam yang baik. Produsen vetiver oil yang besar di dunia hanyalah Indonesia, Haiti, Kep. Reunion.

Salam,
-ferry-

Usaha Atsiri 1

Pertanyaan:

Halo, Pak Fery... Salam kenal. Saya Surya tinggal di tangerang, mao tanya2 ttg minyak atsiri.
Kebetulan saya sedang mencari peluang usaha, maunya sih di bidang agrobisnis. Belum lama saya baca di blog Anda mengenai usaha minyak atsiri, sepertinya banyak potensi alam kita yang belum tergali optimal ya???
Tapi saya agak ragu, krn basic saya bukan kimia. Kebetulan saya orang teknik mesin. Makanya saya mao tanya dengan ahlinya minyak atsiri.
1. Untuk orang awam seperti saya, apa bisa memulai usaha ini?
2. Berapa modal minimum yang dibutuhkan untuk memulai dengan skala UKM, tapi standar ekspor untuk hasil produk?
3. Bagaimana potensi usaha ini ke depan? Bisa bersaingkah dengan negara lain?
Terima kasih atas perhatian dan jawabannya.

Jawaban :
Salam kenal kembali Mas Surya
Langsung saja ya...

1. Seharusnya bisa saja Mas. Lha wong para penyuling yang di desa-desa itu bukan sarjana (malah banyak yang cuma lulusan SD) tapi buktinya mereka bisa juga kok menjalankan bisnis ini…hehe. Yang jelas, faktor kritikal dalam bisnis ini adalah tingkat ketersediaan dan kualitas bahan baku saja. Mengenai market, selagi kita tidak bersikap terlalu idealis dalam hal pemasaran saya yakin pasarnya selalu ada.
2. Ini tergantung minyak atsirinya jenis apa. Saya berbicara realistis sesuai dengan keadaan lapangan yang ada. Bicara mengenai standar ekspor, harus dipastikan dahulu apakah produknya memang mau diekspor sendiri atau mau dijual via pedagang2 pengumpul. Standar kualitas untuk ekspor itu banyak parameternya, tapi kalau standar pemasaran lokal via pedagang pengumpul itu tidak terlalu rumit, malah dibikin sesederhana mungkin supaya praktis. Kalau memang mau ekspor langsung, tentu tidak mudah karena selain harus punya modal kerja yang sangat besar, juga harus "bertempur" dahulu dengan kompetitor2 (eksportir2) domestik. Sebagai pemula, tentu faktor resiko benar2 harus dipertimbangkan. Saran saya, mungkin bisa dimulai dengan kapasitas kecil dan mencoba mengenali bisnis ini secara mendalam melalui usaha skala UKM. Kalau tidak mencoba memulai, maka pengetahuan bisnis atsiri dapat dipastikan tidak akan berkembang apalagi ketika dihadapkan pada kompleksnya sistem pemasaran atsiri di Indonesia dan kendala2 teknis lainnya. Kalau sudah merasa OK dengan bisnis ini, silakan kembangkan sesuai dengan kemampuan finansial yang ada.
3. Kalau bicara secara global, saya pikir dengan sistem pengolahan dan agribisnis yang baik yang berdampak pada tingkat kualitas minyak yang OK, pasti akan dapat bersaing dengan negara lain.

Untuk mendalami bisnis atsiri ini, saran saya silakan Mas Surya berkunjung langsung ke penyulingan-penyulingan minyak atsiri dan belajar langsung di lapangan selama beberapa waktu tertentu.

Demikian Mas Surya. Semoga berkenan
-ferry-

Wednesday, December 05, 2007

GARUT "the land of vetiver"


Kembali bersama Ferry dalam edisi tour the atsiri….hehe. Selaksa perjalanan untuk menambah wawasan dan ilmu di bidang minyak atsiri. Harum semerbak mewangi begitu kental terasa dalam indra penciuman kala melewati tugu batas Desa Sukakarya – Kecamatan Samarang – Kab. Garut, Ja-Bar. Di sebelah kanan dan kiri jalan yang saya lalui sepanjang jalan raya Kamojang ada beberapa penyulingan minyak akar wangi yang sepertinya berhenti berdenyut. Ditandai dengan ketel-ketel suling yang bergelimpangan di sisi bangunan pabrik dan sepinya aktivitas di setiap pabrik. Apa gerangan yang terjadi?

Jawaban itu akhirnya saya dapatkan saat berjumpa dengan salah satu penyuling minyak akar wangi yang sudah cukup tenar, tidak hanya di Garut, tetapi juga di Jawa Barat dan Indonesia, yakni Bapak H. Ede Kadarusman. Beliau saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani, Produsen, dan Pelaku Bisnis Minyak Atsiri Jawa Barat (AP3MA-Jabar) dan salah satu pengurus Dewan Atsiri Indonesia (DAI). "Dari sekitar 14 penyuling akar wangi di Kec. Samarang, saat ini hanya 3-4 yang aktif beroperasi termasuk yang punya saya", begitu ceritanya seraya menyeruput kopi manis di sela-sela bibirnya. Masalahnya adalah bahan baku yang sangat terbatas sebagai imbas turunnya harga minyak akar wangi awal tahun 2006 kemarin yang hanya mencapai Rp 200.000/kg. Menurutnya, untuk menjalankan 1 unit penyulingan berkapasitas 1.5 ton akar per batch secara kontinyu membutuhkan lahan garapan sekitar 100 ha. Harga minyak akar wangi di tingkat pengumpul saat ini sudah relatif baik yaitu sekitar Rp 525.000 – Rp 600.000/kg tetapi apa daya masih cukup sulit untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat untuk menanam kembali komoditas ini. Pak H. Ede bersama kelompok taninya saat ini mengembangkan 100 ha perkebunan akar wangi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1300 – 1400 m dpl. Alhasil, dari 2 ketel suling miliknya hanya satu saja yang beroperasi.

Dengan sistem pertanian yang tradisional, setiap 1 ha lahan dapat menghasilkan 7 – 8 ton akar wangi per tahun dengan tingkat rendemen 0.3 – 0.5% (basis kebun, bukan basis kering) dan usia panen rata-rata 1 tahun. Adapula yang memanennya di bawah 1 tahun sehingga rendemen dan kualitas minyaknya tentu saja jauh dari harapan. Sedangkan Pak Ede saat ini mengikuti SOP yang benar dalam bertanam akar wangi sehingga menurutnya terjadi kenaikan produktivitas hingga 12 – 15 ton per tahun dengan tingkat rendemen 0.6 – 0.8%. Meskipun biaya operasionalnya hampir 2 kali lipat sistem pertanian tradisional tetapi hasilnya bisa 2 kali lipat lebih tinggi.

Masalah yang sering terjadi dari sisi proses produksi adalah tekanan kerja ketel suling yang tinggi yaitu sekitar 5 barg (6 bar a) sehingga minyak akar wangi yang dihasilkan berbau gosong karena temperatur uap yang tinggi. Penyulingan dengan tekanan 2.5 – 3 barg akan menghasilkan minyak akar wangi yang berbau lebih halus dan berwarna lebih jernih. Hanya saja timbul masalah lain, ketika menyuling pada tekanan yang lebih rendah maka dibutuhkan waktu penyulingan yang lebih lama. Jika menggunakan tekanan tinggi, 12 jam saja sudah cukup. Tetapi jika tekanannya lebih rendah memakan waktu 16 -18 jam. Hal ini berdampak pada besarnya biaya bahan bakar (minyak tanah) yang dikeluarkan (rata-rata 22 liter minyak tanah/jam). Demikian pula halnya dengan rendemen yang dihasilkan, penggunaan tekanan rendah menghasilkan minyak lebih sedikit daripada tekanan tinggi.

Pesaing minyak akar wangi garut di pasaran internasional adalah akar wangi dari Haiti. Tetapi akar wangi Haiti dihargai lebih mahal daripada minyak akar wangi Garut. Hal ini sudah dibuktikan sendiri oleh Pak Ede saat berkesempatan mengunjungi daratan Eropa dalam rangka misi vetiver oil beberapa waktu yang lalu. Hal ini tentu saja karena kualitas minyak akar wangi Garut berada di bawah Haiti.

Upaya-upaya untuk mempertahankan Garut sebagai "the land of vetiver" gencar didengung-dengungkan. Karena memang hanya Garut-lah yang memproduksi komoditas ini di Indonesia. Akar wangi bukannya tidak pernah dibudidayakan di tempat lain, tetapi hasilnya tidak sebaik di Garut. Akar yang dihasilkan memang panjang-panjang tetapi rendemen minyak yang dihasilkan jauh dari harapan. Akhirnya banyak digunakan sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan. Jadi, perhatian kepada komoditas ini selayaknya dapat berkesinambungan dan bukan hanya sebagai proyek jangka pendek saja.

Maju terus, Pak Ede.

Monday, November 19, 2007

Parameter Kualitas Minyak Atsiri

Banyak yang bertanya kepada saya via email perihal maksud dari parameter-parameter kualitas minyak atsiri yang termaktub dalam SNI (standar Nasional Indonesia). Sedikit tulisan di bawah ini semoga dapat dijadikan wawasan/pengetahuan awal mengenai aspek kualitas minyak atsiri.

Beberapa parameter yang biasanya dijadikan standar untuk mengenali kualitas minyak atsiri adalah sebagai berikut :

1. Berat Jenis

Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri. Nilai berat jenis minyak atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi.


2. Indeks Bias


Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Indeks bias minyak atsiri berhubungan erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai panjang seperti sesquiterpen atau komponen bergugus oksigen ikut tersuling, maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini menyebabkan indeks bias minyak lebih besar. Menurut Guenther, nilai indeks juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak jahe tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil.

3. Putaran optik

Sifat optik dari minyak atsiri ditentukan menggunakan alat polarimeter yang nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam cahaya yang dipolarisasikan maka memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan (dextrorotary) atau ke arah kiri (laevorotary). Pengukuran parameter ini sangat menentukan kriteria kemurnian suatu minyak atsiri.

4. Bilangan Asam

Bilangan asam menunjukkan kadar asam bebas dalam minyak atsiri. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak atsiri. Yaitu senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari minyak atsiri. Hal ini dapat disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri. Hal ini juga dapat disebabkan oleh penyulingan pada tekanan tinggi (temperatur tinggi), dimana pada kondisi tersebut kemungkinan terjadinya proses oksidasi sangat besar.

5. Kelarutan dalam Alkohol

Telah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guenther bahwa kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Pada umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan minyak atsiri pada alkohol (biasanya alkohol 90%) maka kualitas minyak atsirinya semakin baik.


Jadi sebenarnya, parameter-parameter di atas sangat erat hubungan dengan komposisi minyak atsiri. Memang yang paling baik adalah analisis kadar masing-masing komponen secara langsung menggunakan gas chromatography atau GC-MS. Dengan menggunakan metode ini, maka dapat diketahui apakah minyak atsiri tersebut sudah dipalsukan dengan atau ditambahkan komponen-komponen tertentu (adulterasi) karena seluruh komponen dan kadarnya dapat terekam. Biasanya para pakar atau praktisi minyak atsiri yang sudah berkecimpung lama dalam dunia ini sudah bisa mengenali kualitas minyak atsiri hanya dari bau dan aromanya saja alias menggunakan kepekaan alat indra (organoleptik).

Tetapi dalam kancah bisnis minyak atsiri di Indonesia, pengukuran parameter-parameter di atas hanya dilakukan sebagai pendekatan untuk mengenali kadar komponen minyak atsiri yang diinginkan sebagai standar utama. Contohnya adalah minyak nilam dengan pathcouly alcohol (PA) sebagai parameter utama, minyak akar wangi --> vetiverol, minyak sereh wangi --> citronellal dan geraniol, minyak cengkeh --> eugenol, minyak kayu putih --> sineol, minyak kenanga/ylang-ylang --> benzil asetat, linalool, dan ester-ester lainnya, minyak massoi --> lactone, minyak jahe --> zingiberen, minyak pala --> myristisin dan sabinen, minyak cendana --> santalol, minyak jeruk purut --> citronellal dan sitral., minyak sereh dapur --> sitral.

SECARIK WANGI DI MALINGPING - KAB. LEBAK

Sabtu-Minggu (18 – 19 Nov 2007) saya ditemani rekan Awal Ramadhan (adik kelasku di Teknik Kimia ITB angkatan 2000 yang mengabdikan diri pada kayu massoi di Papua yang mungkin sebentar lagi akan jadi penyuling kayu massoi) memijakkan kaki di belahan Selatan Propinsi Banten, yaitu Malingping. Apa yang menarik di Kecamatan Malingping – Kab. Lebak, Banten? Kalau sudah masuk ke blog ini, dapat dipastikan yang menarik bagi saya bukanlah karena tempat ini santai, damai, dan jauh dari kesan "terburu-buru" seperti lazimnya kehidupan di kota-kota besar tetapi sebuah potensi besar minyak atsiri yang sudah dikembangkan oleh Perum Perhutani KPH Banten beberapa tahun silam, yaitu minyak ylang-ylang. Kecamatan Malingping memang cukup jauh dijangkau, kami menumpang bis AKAP dari Bandung menuju terminal Pakupatan-Serang lalu dilanjutkan dengan menumpang elf (sebuah angkutan umum yang dikenal sopirnya selalu ugal-ugalan dan sering ngetem) selama kurang lebih 3,5 jam. But it's no problem, yang penting happy...hehehe. Di sana kami diterima oleh Asper BKPH Malingping - Kang Avid Septiana yang sebelumnya sudah sering berkorespondensi via email (friendster tepatnya) mengenai romantika suling-menyuling ylang-ylang milik perum Perhutani ini.

Apa itu ylang-ylang? Kalau dilihat dari photonya mirip dengan kenanga yang selama ini banyak dijumpai sebagai tanaman pagar di halaman rumah. Tapi jangan salah, kedua tanaman itu berbeda. Ylang-ylang memang masih keluarga dengan kenanga. Nama latinnya saja Cananga odorata forma genuina. Tetapi ylang-ylang ini berbeda jenis dengan kenanga yang ditanam sebagai tanaman pagar baik dari sisi penampakan luarnya maupun kegunaannya. Di Indonesia sendiri dikenal dua jenis minyak atsiri yang berasal dari keluarga kenanga. Yang pertama adalah ylang-ylang oil dan yang kedua cananga oil. Cananga oil dihasilkan dari penyulingan bunga kenanga dari jenis Cananga odorata forma macrophylla. Pohon kenanga ini jauh lebih besar daripada kenanga ylang-ylang dan bisa mencapai ketinggian 30 – 35 m, sedangkan ylang-ylang 10 – 20 m saja.

Sejauh pengetahuan saya, baru Perum Perhutani lah yang mengembangkan ylang-ylang oil pada skala komersial di Indonesia. Produsen utama minyak ylang-ylang dunia adalah Madagasdar, Pulau Komoro, dan Pulau Reunion. Dahulu philipina merupakan produsen besar tetapi saat ini sudah tersusul oleh kedua negara tersebut akibat kurang baiknya sistem peremajaan kebun ylang-ylang di negara tersebut. Sedangkan daerah-daerah seperti Blitar dan Boyolali adalah penghasil cananga oil. Dari sisi harga, minyak ylang-ylang lebih mahal daripada minyak kenanga yaitu hampir dua kali lipat. Hal ini disebabkan dari sisi kualitas, kadar ester minyak ylang-ylang jauh lebih tinggi dari minyak kenanga. Dari wanginya saja, saya sudah bisa membedakan bahwa bunga ylang-ylang memiliki aroma yang lebih kuat dan lembut dibandingkan dengan bunga kenanga.

Bertanam ylang-ylang ternyata tidak sulit. Bibit bisa diperoleh dari persemaian biji maupun anakan yang terdapat di sekitar pohon induk. Jarak tanam biasanya 6 x 6 m sehingga dalam 1 ha lahan dibutuhkan sekitar 270 bibit. Dalam waktu 3-4 tahun pohon ylang-ylang sudah bisa dipanen bunganya untuk disuling. Dari sisi produktivitas apabila dipelihara dengan baik, pohon ylang-ylang rata-rata menghasilkan lebih dari 20 kg bunga per tahun dengan rendemen minyak antara 1% - 2% dengan sistem penyulingan yang baik. Jadi kalau dilakukan hitung-hitungan "bego" (baca=hitung–hitungan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor X), akan diperoleh omset sekitar (270 x 20 x 1,5% x Rp 750.000,-/kg minyak) = Rp 60.750.000,-/ha/tahun. Mmmhhh.....not bad at all.

Selagi menunggu musim panen ylang-ylang pertama semenjak ditanam, dapat pula menanam tanaman sela penghasil minyak atsiri lainnya yang usia panennya lebih singkat seperti nilam (pathcouly) dan sereh wangi (citronella), atau kemangi (basil). Kedua tanaman pertama dapat dipanen setelah 6 bulan dan selebihnya setiap 3-4 bulan sekali selama kurang lebih 3.5 tahun produktif apabila dirawat dengan sungguh-sungguh.


Monday, October 22, 2007

Nilam, dimanakah kau berada?

mmhhhh.......
Orang-orang sibuk mencari daun dan minyak nilam.
Harganya membumbung tinggi. Mau tahu berapa sekarang?
Yah.....sekarang ada di kisaran 800rb - 900rb/kg. Jadi ingat satu dekade lalu..:)
Selamat menikmati wanginya minyak nilam (bagi yang punya stok...hehe).

Sunday, August 19, 2007

Asosiasi Petani, Produsen, dan Pelaku Agrobisnis Minyak Atsiri - Jawa Barat

mmmmhhhhh...... Disingkat AP3MA-JABAR??
Makhluk apa sih itu?
Yah... kita lihat saja kiprahnya nanti apakah memberikan kemanfaatan yang baik bagi pengembangan komoditas minyak atsiri dari berbagai aspek di Propinsi Jawa Barat pada khususnya.
Yang jelas, kemarin (Kamis, 16 Agustus 2007) aku ikutan merumuskan draft AD/ART organisasi ini di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prop. Jawa Barat dan dihadiri oleh beberapa penyuling dari 5 Kabupaten di Jawa Barat. Rencananya sih mau diresmikan tanggal 28 Agustus ini. Yah.....aku sendiri tidak bisa berharap banyak dengan organisasi ini (bukan pesimis, lho). Yang penting kenal dengan banyak penyuling, wawasan bertambah, tambah teman, tambah informasi, dan bisa share pengetahuan satu sama lain.

Cengkeh di Pulau Natuna....mmmhhh...

Email dari temanku Andry Hidayat :

Pak Dosen Ferry,
Beberapa hari lalu, saat gw off.
Gw ngobrol banyak ama Doni juga Iqbal…
Mengenai minyak cengkeh ini, gw “sedikit” tertarik ):
Tapi gak didaerah Cilegon. Melainkan didaerah Kepulauan Riau.
Biarlah daerah cilegon dan sekitarnya jadi garapan Iqbal dan Doni…):

Ada teman kerja gw, kami biasa sebut orang Local (pribumi)
Mereka tinggal di Pulau Matak, Tarempa dan kepulauan sekitar Natuna.
Daerah ini awalnya adalah daerah teringgal.
Dengan adanya beberapa perusahaan minyak beroperasi disini maka sedikit demi sedikit membangunlah daerah ini. Mungkin teman2 dari ITB yang di LAPI sedikit banyak tau daerah itu.

Nach, mereka tertarik dengan pembuatan minyak cengkeh.
Ditempat mereka banyak sekali pohon cengkeh.
Kemaren malem, gw minta Iqbal buat kirimin proposal yang dari elo.
Cuma mungkin cilegon dengan daerah Matak sekitarnya berbeda, maka perhitungannyapun akan berbeda

Kalo elo juga mau, mereka berniat untuk mengundang elo buat presentasi dan lain sebagainya.
Biarlah semua biayanya ditanggung oleh mereka… Gw tau, elo paling suka “keluyuran”..Pasti elo pengen juga melihat “dunia lain” di Negeri tercinta kita ini.
Tidak cuma daerah Kuningan, P. Bunyu-Kaltim, Bungbulang-Garut, Bali , ataupun daerah2 yang elo pernah kunjungin. Siapa tau elo juga bisa nemuin daerah seperti di Machu-Picchu, Peru (seperti impian elo!!!).

Kalo oke, akan gw kasih gambarannya daerahnya.
Salam,
Andry

Tanggapan Ferry 1

Hehehehe...Tahu aja lo "selera" gw....:p
Why not, gw sih OK2 aja asal diongkosin, gw khan suka yg gretongan...:p
Malah seneng dong bisa lihat "dunia lain" di negeri tercinta ini, apalagi kalau urusannya masalah perminyakan atsiri...
Lo sendiri ditempatin di Natuna ya.Dri, coba jelasin aja mengenai daerah yg lo maksud di email.

thanks bro,
-ferry-

Tanggapan Andry 2

Nich!!!
Gambaran lokasi:
Beberapa pulau yang terdapat perkebunan cengkeh.,
- Pulau Natuna (Kabupaten)
- Pulau Midai
- Pulau Sedanau
- Pulau Selasan
- Pulau Tembelan
- Pulau Palmatak
- Pulau Tarempa
- Pulau Mubur
Bandara untuk penerbangan perusahaan minyak ada di pulau palmatak (matak).
Pulau yang terdekat dari pulau matak adalah pulau tarempa dan pulau mubur.
Makanya target proyek ini kita prioritaskan didaerah pulau matak, pulau tarempa dan pulau Mubur.

Transportasi:
Jarak perjalanan dengan kapal motor (disini disebut “pompong) adalah:
- Matak ke Tarempa : 1.5 jam
- Matak ke Mubur : 0.5 jam
- Tarempa ke Mubur : 1 jam
Notes, kecepatan pompong normal, tanpa kebut-kebutan maupun salip-salipan…J

Untuk harga pompong dengan kapasitas 1 ton Rp. 12 jutaan
Sekali jalan mengitari ketiga pulau tersebut membutuhkan 10 liter solar.

Penerangan:
- Matak : Listrik hidup dari jam 5 sore sampai dengan jam 7 pagi
- Tarempa : Listrik 24 jam
- Mubur : Gak ada listrik
Jika perlu genset disini dengan kapasitas 3 kwh harganya 5 juta.

Nah, elo coba buat proposal lagi dengan gambaran seperti itu.
So, biar teman2 gw bisa ajuin itu dana ke pemda setempat.
Ya, itung2 membangun daerah lah…
Ntar produknya “lari” ke elo semua.

Soal transportasi buat bawa peralatan dari “ sana ” biar mereka yang urus perijinannya.

Kalo sempet dan kita bisa atur waktunya, elo bisa survey lansung ke lokasi dan bisa presentasi langsung ke masyarakat.
Transportasi dan akomodasi elo, mereka bisa tanggung dari Jakarta-lokasi-jakarta lagi.
Elo juga bisa bawa teman yang jadi “anak buah” elo.
Btw, kalo dari Bandung ke Jakarta ongkos sendiri ya?!?

Kalo project ini bisa jalan lancar, siapa tau elo bisa ketemu jodoh disini….

Ada lagi data yang dibutuhkan?

Ditunggu proposalnya…

Salam,
Andry Kasep

Tanggapan Ferry 2


Dri…..
Ini proposal msh kasar bgt, terutama ekonominya karena gw blm tahu bgt kondisi real-nya. Coba lo cek dlu kalau masih ada yg kurang. Hitungan keuangannya blm gw bikin model seperti kalau mau ngajuin kredit ke bank. Masih sederhana, namanya aja gambaran awal. Gw baru bisa bikin selengkap2nya kalau udah studi dan survey langsung ke lapangan. Baru deh bisa bikin studi kelayakan selengkap2nya apakah proyek ini layak dilaksanakan atau tidak.

Kalau emang mau investasi genset, penyulingan dibikin dimana aja ngga masalah. Biaya solar utk kapal motor ngakut bahan baku sama-sama aja kok. Khan rencananya juga ambil bahan dari 3 pulau yg berdekatan itu (Palmatak, Tarempa, dan Mubur).

Terus, biaya investasinya di proposal itu belum termasuk ongkos angkut alat sulit ke natuna. Perlu diketahui, alatnya nanti itu gede bgt (diameter 1,8 m dan tinggi 2,4 m), pakai besi karbon ketebalan 5 mm. Pokoknya super berat deh. Belum lagi konsender dan alat2 lain yg di Natuna ngga ada dan perlu disediakan dari P Jawa.

Biaya operasional juga belum termasuk ongkos kirim produk ke Jawa, karena pastinya produk minyak cengkeh itu akan dijual di Jawa khan.

Kalau emang bakal dirintis sebagai proyek PEMDA, sebenarnya khan ngga usah ambil untung gede2 untuk pabrik penyulingannya, asal dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Jangan cuma proyek aja, trs habis itu ditinggalin. Atau ada masakah dikit, ditinggalin. Kalau untuk PEMDA sih yang penting untuk pengembangan masyarakat lah....hehe (ideal-nya, sih.. :p). Dalam bentuk apa??
1. Limbah daun dan tangkai cengkeh termanfaatkan à petani dapat duit tambahan dari komoditas cengkeh selain bunganya.
2. Menyerap tenaga kerja, gw perkirakan butuh (3 x 2) + 2 = 8 orang.
3. Sisa laba pengoperasian pabrik, buat pengembangan pabrik dan proyek2 lain yg sifatnya bergulir utk kesejahteraan masyarakat. (hehehe....bahasa gw dah kayak pejabat aja, nih.... :p)

Tapi kalau emang harus dibuat swasta (pakai investor pribadi), ya pastinya harus nyari untung dong...hehehe.

Gw tunggu tanggapannya.

-ferry-