Thursday, September 22, 2016

KONFERENSI NASIONAL MINYAK ATSIRI 2016

Salam Wangi !!
DEWAN ATSIRI INDONESIA (DAI) menyelenggarakan Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2016 di Banda Aceh.

Latar Belakang
Peran Indonesia sebagai sentra produsen atsiri dunia, menjadikannya sebagai wilayah yang strategis bagi industriawan atsiri. Sejarah menunjukkan sejak abad pertengahan, beberapa daerah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera khususnya Aceh, serta Maluku, khususnya Banda, sudah mengekspor berbagai komoditi atsiri dan rempah ke mancanegara. Ratusan jenis tanaman atsiri dapat tumbuh subur di negeri ini, diantaranya nilam, cengkeh, pala, kenanga, ylang ylang dan sereh wangi. Minyak atsirinya dibutuhkan sebagai bahan baku industri kosmetik, produk perawatan tubuh, kesehatan dan makanan.
Industri atsiri Indonesia bertumbuh dengan lambat, bahkan cenderung melemah untuk komoditi tertentu. Pembangunan adalah proses berkesinambungan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pembangunan inklusif bertujuan agar pembangunan dunia usaha berdampak kepada tingkat kesejahteraan kolektif semua komponen masyarakat dan melibatkan mereka dalam pencapaiannya, dengan berpegang pada pertumbuhan berkelanjutan yang menciptakan dan memperluas peluang ekonomi, serta menjamin akses yang lebih luas, sehingga seluruh anggota masyarakat dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat.
Menyambut era pasar bersama ASEAN, pengusaha lokal harus mampu bersaing dengan pengusaha negara jiran. Pemerintah diharapkan memberikan bantuan fasilitas dan pembinaan usaha melalui berbagai kebijakan, bantuan pendanaan dari perbankan, serta dukungan riset kelompok cendekia. Dukungan pemerintah dan peneliti diperlukan untuk menyelesaikan masalah produktivitas, serangan hama dan penyakit, budidaya ramah lingkungan, variasi mutu dan pengujian minyak atsiri, serta pengembangan produk baru. Namun patut diakui, saat ini sinergitas antar kelompok pelaku industri atsiri masih lemah. Di satu sisi, ada regulasi yang justru menghambat laju dunia usaha, seperti perijinan produk hilir dan regulasi perdagangan tanaman tertentu.
Oleh karena itu, revitalisasi di setiap mata rantai produksi, mulai dari budidaya, pengolahan, industri hilir dan ekspor minyak atsiri harus dilakukan secara terpadu dan terus-menerus, tanpa meninggalkan tradisi dan kearifan lokal yang telah ada.
Dalam upaya mewujudkan keinginan para insan atsiri Indonesia yang variatif dimana tiap daerah memiliki ciri khas dan perilaku yang berbeda, Dewan Atsiri Indonesia (DAI) mengadakan Konferensi Nasional Minyak Atsiri dengan Tema: “Revitalisasi Industri Atsiri melalui Pembangunan Inklusif Berkelanjutan”.

Tujuan
1. Membahas berbagai persoalan berkaitan dengan industri atsiri.
2. Menerima saran, menyatukan pendapat, dan menemukan solusi dari berbagai pihak demi kemajuan dan perkembangan atsiri.

Waktu dan Tempat
1. Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2016 diselenggarakan pada
Hari/Tanggal : Rabu/19 Oktober 2016
Tempat. : Hermes Palace Hotel Banda Aceh, Jl. Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh
Acara:
Sesi Pleno:
- Revitalisasi Industri Atsiri melalui Pembangunan Inklusif Berkelanjutan (Kementerian Perindustrian)
- Road Map Industri Atsiri 2016 - 2035 ( DAI )
- Road Map Atsiri Aceh ( Kepala Bappeda Aceh)
- Dukungan Regulasi dalam Pengembangan Industri Hilir Minyak Atsiri dan Aromaterapi (Badan POM RI)
- Peluang investasi industry atsiri di Aceh ( Badan Investasi dan Promosi Aceh)
- Prospek Perdagangan, Ekspor dan Regulasi Minyak Atsiri dan Komponen Natural ( PT. Van Aroma)
Sesi Paralel:
Para Pemateri akan menyampaikan makalah dan memaparkan berbagai model atau sistem pertanian tanaman minyak atsiri berkelanjutan. Makalah akan disampaikan secara oral dan poster.
Paper:
Panitia penyelenggara Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2016 mengundang para ahli, peneliti dan praktisi minyak atsiri untuk menyampaikan technical papers.
Topik yang akan dipresentasikan terbagi atas
1. Budidaya Tanaman Atsiri yang Berkelanjutan
2. Revitalisasi Industri Pengolahan Minyak Atsiri 
3. Restrukturisasi Kelembagaan dan Rantai Pasok Minyak
2. Fieldtrip Fieldtrip ke KM ) (Nol) Sabang ( 20 Oktober 2016)
3. Workshop " Sukses Berbisnis Minyak Pala" di Tapaktuan, Kab. Aceh Selatan.

BIAYA PESERTA: 1. KONFERENSI:
* Anggota:
-Menginap ( twinshare) Rp.2.250.000
- Tidak Menginap Rp. 1.500.000
* Non Anggota:
- Menginap ( twinshare) Rp. 3.250.000
- Tidak Menginap Rp. 2.500.000
* Mahasiswa: Rp. 700.000( Tidak Menginap)
* Pemakalah ( Anggota dan non anggota):
- Menginap ( Twinshare) Rp. 2.000.000
- Tidak Menginap Rp. 1.300.000
Konferensi: Makan siang+ Dinner+ 2x coffee break+ konferensi kits+ sertifikat+ goodybag+tshirt
2. FIELD TRIP ( KM NOL Sabang) Rp. 500.000 ( Transportasi+ makan siang dan snack)
3. WORKSHOP
" Sukses Berbisnis Minyak Pala" di Tapaktuan, Kab Aceh Selatan ( 22 Oktober 2016)
- Menginap ( Twinshare) Rp. 2000.000
- Tidak Menginap Rp. 2000.000
Biaya Transportasi:
- B. Aceh- Tapaktuan 1x jalan Rp.200.000
- T. Tuan- Bandara Nagan Raya Rp. 200.000
- Pesawat Nagan Raya- Kuala Namu Medan Rp. 500.000

Pendaftaran:
Hubungi Panitia KNMA
Lupita: 0857 8041 6319
Deasy: 0812 97919996
Marni: 0852 7788 8281
Atau email
dai@atsiri-indonesia.org
Batas Pendaftaran:
10 Oktober 2016




Wednesday, September 21, 2016

MENGENAL KEANEKARAGAMAN MINYAK ATSIRI LOKAL

Apakah yang disebut “lokal” pada judul di atas? Terminologi lokal mengacu pada sesuatu yang berasal dari daerah sendiri. Dalam konteks perminyakatsirian ini, saya cenderung mengarahkan pada adanya ketersediaan bahan baku yang dapat diolah menjadi minyak atsiri



di wilayah Indonesia. Sehingga memunculkan 3 definisi lanjutan berkaitan dengan pengertian lokal dalam konteks ini. Pertama, bahan baku minyak atsiri merupakan tanaman asli dan SUDAH ADA di Indonesia. Kedua, bahan baku bukan asli Indonesia tetapi SUDAH ADA di Indonesia. Dan yang terakhir, bukan asli Indonesia tetapi bisa diADAkan di Indonesia.

Andaikan bahan-bahan baku minyak atsiri ini dapat disediakan di wilayah Indonesia, maka minyak atsiri sebagai produk pengolahannya tidak perlu didatangkan dari luar negeri (impor). Oleh sebab itu, layaklah jika kita sebut sebagai MINYAK ATSIRI LOKAL.

Bagaimana upaya-upaya untuk menciptakan aneka ragam produk minyak atsiri lokal? Beberapa minyak atsiri lokal baik dari sisi budidaya maupun pengolahannya memang telah banyak dieksploitasi sejak zaman kolonial hingga saat sekarang sehingga patut dipertahankan eksistensinya. Sementara itu, banyak pula sumber-sumber bahan baku minyak atsiri yang sudah ada tetapi belum dieksploitasi. Untuk menambah perbendaharaan produk, tidak ada salahnya juga apabila dilakukan budidaya sumber-sumber baru yang berasal dari luar Indonesia tetapi sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia.

Berikut ini saya akan menyebutkan aneka jenis minyak atsiri (dan bahan bakunya) yang mungkin saja bisa menjadi bahan pendukung untuk menancapkan brand “lokal” sesuai dengan judul di atas. Saya berani menyebutkan “lokal” karena PERNAH melihat semua tanaman yang disebutkan ini di berbagai wilayah di Indonesia.

FAMILI LAMIACEAE
1. PATCHOULI (Pogostemon cablin) - NILAM
2. PEPPERMINT (Mentha piperita)
3. SPEARMINT (Mentha spicata)
4. CORNMINT (Mentha arvensis)
5. SWEET BASIL (Ocimum basilicum) – SELASIH
6. LEMON BASIL (Ocimum citriodorum) – KEMANGI
7. ROSEMARY (Rosmarinus officinalis) – ROSEMARY
8. THYME (Thymus vulgaris) - TIMI

FAMILI APIACEAE /UMBELIFFERAE
9. FENNEL (Foeniculum vulgare var. DULCE) – ADAS MANIS
10. CARROT (Daucus carota) – WORTEL
11. CORIANDER (Coriandrum sativum) – KETUMBAR
12. CUMIN (Cuminum cyminum) – JINTEN PUTIH
13. DILL (Anethum graveolens) – ADAS SOWA
14. CELERY (Apium graveolens) – SELEDRI
15. PARSLEY (Petroselinum crispum) - PETERSELI

FAMILI ZINGIBERACEAE
16. GINGER (Zingiber officinale) – JAHE
17. TURMERIC (Curcuma longa/domestica) – KUNYIT
18. JAVANESE GINGER (Curcuma xanthorrhiza) – TEMULAWAK
19. FINGER ROOT (Boesenbergia rotunda/pandurata) – TEMU KUNCI
20. LOCAL CARDAMOM (Amomum compactum) – KAPULAGA LOKAL
21. CARDAMOM (Eletaria cardamomum) – KAPULAGA SABRANG
22. PLAI (Zingiber cassumunar) – BANGLE
23. LESSER GALANGAL (Kaemferia galanga) – KENCUR
24. RED GINGER (Alpinia purpurata) – LENGKUAS MERAH
25. (Alpinia malaccensis) – LENGKUAS HUTAN/LAJAGOWA
26. (Etlingera elatior) – HONJE/KECOMBRANG
27. (Zingiber zerumbet) – LEMPUYANG
28. GALANGAL (Alpinia galangal) – LENGKUAS
29. ZEDOARY/WHITE TURMERIC (Curcuma zedoaria) – TEMU PUTIH
30. BLACK TURMERIC (Curcuma caesia) – TEMU HITAM
31. (Curcuma heyneana) – TEMU GIRING
32. (Curcuma amada) – TEMU MANGGA

FAMILI GRAMINEAE
33. CITRONELLA (Cymbopogon nardus) – SEREH WANGI
34. WEST INDIAN LEMONGRASS (Cymbopogon citratus) – SEREH DAPUR
35. EAST INDIAN LEMONGRASS (Cymbopogon flexuosus) – SEREH DAPUR
36. VETIVER (Vetiveria zizanoides) – AKAR WANGI
37. PALMAROSA (Cymbopogon martinii var Motia) – RUMPUT MAWAR
38. GINGERGRASS (Cymbopogon martinii var Sofia) – RUMPUT JAHE

FAMILI PIPERACEAE
39. BLACK PEPPER (Piper ningrum) – LADA HITAM
40. BETEL LEAF (Piper betle) – SIRIH
41. CUBEB (Piper cubeba) – KEMUKUS/LADA BEREKOR

FAMILI RUTACEAE
42. KAFFIR LIME (Citrus hystrix) – JERUK PURUT
43. LEMON (Citrus limon) – JERUK LEMON
44. LIME (Citrus aurantifolia) – JERUK NIPIS
45. TANGERINE (Citrus reticulata) – JERUK KEPROK
46. SWEET ORANGE (Citrus sinensis) – JERUK MANIS
47. CURRY LEAF (Murayya koenigii ) – DAUN KARI/SALAM KOJA
48. CLAUSENA (Clausena anisata)
49. Citrus amblycarpa – JERUK LIMAU

FAMILI MYRTACEAE
50. CLOVE (Syzygium aromaticum) - CENGKEH
51. INDONESIAN LAUREL (Syzygium polyantum) – DAUN SALAM
52. EUCALYPTUS (Eucalyptus globulus) – EUKALIPTUS
53. LEMON EUCALYPTUS (Eucalyptus citriodora) – EUKALIPTUS LEMON
54. CAJEPUT (Melaleuca cajeput) – KAYU PUTIH
55. BLACK TEATREE (Melaleuca bracteata) – TEH POHON
56. TEA TREE (Melaleuca alternifolia) – TEH POHON
57. LEMON MRYTLE (Backhousia citriodora) – SURAWUNG POHON
58. MANUKA (Leptospermum scoparium)

FAMILI LAURACEAE
59. CINNAMON/CASSIA VERA BARK (Cinnamomum burmanii) – KAYU MANIS SUMATRA
60. CINNAMON BARK (Cinnamomum zeylanicum) – KAYU MANIS SRI LANKA
61. CAMPHOR (Cinnamomum champora) – KAYU KAMPER
62. CULLILAWAN (Cinnamomum cullilawan) – KULIT LAWANG
63. WILD CINNAMON (Cinnamomum iners) – KITEJA
64. MASSOI BARK (Cryptocarya massoi) – KULIT MASSOI
65. MAY CHANG (Litsea cubeba) - KILEMO
66. SINTOC (Cinnamomum sintoc) – KAYU SINTOK
67. SAFROL LAUREL (Cinnamomum parthenoxylon) – PAKANANGI/SELASIHAN

FAMILI ANNONACEAE
68. YLANG-YLANG (Cananga odorata forma Genuina) – YLANG-YLANG
69. CANANGA (Cananga odorata forma Macrophylla) – KENANGA

FAMILI SANTALACEAE
70. SANDALWOOD (Santalum album) – CENDANA NTT
71. PAPUA SANDALWOOD (Santalum mcgregorii) – CENDANA PAPUA

FAMILI PINACEAE
72. PINE (Pinus merkussi) - PINUS

FAMILI CUPRESSACEAE
73. CYPRESS (Cupressus sempervirens) – CYPRESS/CEMARA ITALIA

FAMILI STYRACEAE
74. BENZOIN (Styrax benzoin) - KEMENYAN

FAMILI ALLIACEAE
75. CHIVES (Allium schoenoprasum) – LOKIO/BAWANG BATAK
76. GARLIC (Allium sativum) – BAWANG PUTIH

FAMILI AMARYLLIDACEAE
77. ONION (Allium cepa) – BAWANG MERAH

FAMILI DIPTEROCARPACEAE
78. GURJUN BALSAM (Dipterocarpus turbinatus) – KERUING
79. SUMATRAN CAMPHOR (Dryobalanops aromatica) – KAPUR BARUS

FAMILI OLEACEAE
80. JASMINE (Jasminum sambac) - MELATI

FAMILI ROSACEAE
81. DAMASK ROSE (Rosa damascena)

FAMILI ILLICIACEAE
82. STAR ANISE (Illicium verum) – ADAS BINTANG/BUNGA LAWANG/PEKAK

FAMILI VERBENACEAE
83. (Lantana camara) – SALIARA/TEMBELEKAN

FAMILI MAGNOLIACEAE
84. CHAMPAKA (Magnolia champaka) – CEMPAKA KUNING

FAMILI GERANIACEAE
85. GERANIUM (Pelargonium graveolens) - GERANIUM

FAMILI APOCYNACEAE
86. FRANGIPANI (Plumeria acuminata) – KAMBOJA KUNING

FAMILI ASTERACEAE
87. TAGETES/MARIGOLD (Tagetes minuta) – MARIGOLD/BUNGA TAI AYAM
88. TARRAGON (Artemisia dracunculus)

FAMILI ERICACEAE
89. WINTERGREEN (Gaultheria procumbens) - GANDAPURA

FAMILI AGAVACEAE
90. TUBEROSE (Polianthes tuberosa) – BUNGA SEDAP MALAM

FAMILI ACORACEAE
91. CALAMUS (Acorus calamus) – JERINGAU

FAMILI ALTINGIACEAE
92. INDONESIAN GALBANUM (Altingia excelsa Noronha) – RASAMALA

FAMILI FABACEAE
93. INDONESIAN ROSEWOOD (Pterocarpus indicus) – ANGSANA/SONOKEMBANG

Banyak sekali, bukan? Saya kira masih akan lebih banyak dari daftar di atas yang luput dari pengamatan saya. Barangkali ada teman-teman pembaca yang ingin menambahkan daftar di atas?

-Feryanto-

Saturday, August 27, 2016

Pelatihan Bisnis Minyak Atsiri ; Subang 17-18 September 2016

PAVETTIA ATSIRI kembali akan menyelenggarakan "Pelatihan Bisnis Minyak Atsiri" pada:

   - Hari       : Sabtu - Minggu
   - Tanggal : 17 - 18 September 2016
   - Lokasi   : Desa Cikujang, Kec Serangpanjang, Subang (lokasi penyulingan dan kebun tanaman minyak atsiri)
   - Biaya     : Rp 2.200.000,-
(sudah termasuk ; transportasi PP Bandung-Subang, training kit, penginapan 1 malam di villa cantik (share), sarapan 1x, makan siang 2x, makan malam 1x, snack selama training.

MATERI TRAINING
1. Pengantar wawasan dan pengetahuan minyak atsiri
2. Kendala teknis merintis usaha penyulingan minyak atsiri
3. Pemasaran produk minyak atsiri
4. Teknologi penyulingan minyak atsiri dan analisis kualitas
5. Studi kelayakan usaha pengolahan minyak atsiri 
6. Praktek penyulingan

Informasi dan pendaftaran, hubungi : 
RIJAL - 085624931119 (WA/SMS/Telp)
Peserta maks. 6 orang

Monday, July 18, 2016

Pelatihan Bisnis Minyak Atsiri, Gel. 29. Bandung - Subang, 13-14 Agustus 2016

CV. PAVETTIA ATSIRI kembali akan menyelenggarakan "Pelatihan Bisnis Minyak Atsiri Gel. 29" pada:
   - Hari       : Sabtu - Minggu
   - Tanggal : 13 - 14 Agustus 2016
   - Lokasi   : Bandung dan Subang
   - Biaya     : Rp 2.200.000,-
Informasi dan pendaftaran, hubungi : RIJAL - 0856-24931119 (WA/SMS/Telp)



Tuesday, June 24, 2014

Usaha menyuling minyak atsiri kapasitas kecil. Mungkinkah??

“Pak, saya mau tanya harga alat penyulingan minyak atsiri yang kapasitas kecil saja?”

Kapasitas kecil??
Kadang aku agak bingung dengan terminologi ini. Karena pastinya aku membutuhkan banyak penjelasan dari si penanya berkaitan dengan “kapasitas kecil” ini. Dalam jagad minyak atsiri yang terdiri atas beragam komoditi, “kapasitas kecil” adalah hal yang absurb dan penuh dengan relativitas.

“Bahan bakunya apa yang akan disuling?”
“Apakah hanya untuk sekedar coba-coba (baca=percobaan atau penelitian)?”
“Apakah alat ini akan digunakan untuk melakukan kegiatan usaha/komersil?”
“Apakah nanti hasil minyaknya akan dipakai untuk konsumsi sendiri?”
“Jika untuk keperluan komersil, apakah minyak atsirinya akan dijual secara retail?”

Kalau dipikir-pikir, sebagai produsen alat-alat penyulingan aku tidak perlu tahu semuanya itu. Itu adalah urusan yang bersangkutan akan dipakai untuk apa. Langsung saja diberikan spesifikasi dan harga. Yang penting mereka pesan alat, ada order masuk, kerjakan, beres, dan pastinya dapat margin.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Sebagai seseorang  yang bergelut di bidang minyak atsiri selama 10 tahun ini, ada sebentuk tanggung jawab moral untuk menginformasikan yang sejelas-jelasnya kepada calon konsumen. Apalagi calon konsumen tersebut  adalah pemula atau seseorang yang baru ingin masuk ke dunia usaha minyak atsiri.

Ketika pertanyaan-pertanyaan di atas aku sampaikan kepada si pemesan dan mereka menjawab bahwa alat ini nanti akan digunakan untuk melakukan percobaan/penelitian. Atau mereka membutuhkan aneka jenis minyak-minyak atsiri dalam jumlah yang sedikit untuk keperluan mereka sendiri. Atau mereka ingin memproduksi minyak atsiri sedikit-sedikit untuk dikemas dan dijual secara retail. Ya sudah, case closed. Langsung saja diberikan harga ataupun spesifikasi untuk dipelajari lebih lanjut.

Tetapi jika jawabannya untuk keperluan komersial/usaha, proses tanya jawab akan berlanjut.

Ada beberapa pertimbangan bagi mereka untuk berkata “kapasitas kecil”. Mulai dari budjet yang terbatas tetapi ingin segera memulai berbisnis minyak atsiri, atau ingin dilakukan di sekitar rumah saja sebagai usaha sampingan, atau ingin coba-coba dulu sebelum memperbesar kapasitasnya, atau kemampuan untuk mendapatkan bahan baku. Tentunya semua pertimbangan tersebut adalah sah-sah saja dan dapat dimaklumi.

Bahan bakunya apa??
Bahan baku adalah hal utama yang harus diperhatikan. Setiap jenis minyak atsiri memiliki nilai ekonomi yang berbeda-beda. Kalau sudah bicara ekonomi, tentunya disana kita juga akan bicara masalah harga jual minyak, harga beli bahan baku, serta rendemen minyaknya. Tiga aspek itu yang perlu diketahui, setidaknya sebagai perhitungan awal mendapatkan nilai GPM (Gross Profit Margin) sebelum menghitung analisis keekonomian secara menyeluruh.
Aku akan bandingkan nilai keekonomian dari 4 jenis minyak atsiri yang umum apabila diolah pada kapasitas kecil. Kapasitas kecil yang dimaksud di sini adalah kapasitas olah bahan baku terkecil menurut asumsi aku sendiri.

Pengolahan minyak pala kapasitas 50 kg.
Asumsi = harga bahan baku Rp 100.000,-/kg, harga jual minyak kualitas bagus Rp 1.100.000,-/kg (Juni 2014), dan rendemen 11%.
Dengan asumsi di atas, anda membutuhkan modal pembelian bahan baku = Rp 100.000,- x 50 kg = Rp 5.000.000,-. Dengan rendemen 11%, artinya setiap menyuling 50 kg bahan baku akan diperoleh 5,5 kg minyak pala yang ekivalen dengan nilai Rp Rp 6.050.000,-. Sehingga Margin Keuntungan Kotor nya = Rp 6.050.000,-  -  Rp 5.000.000,-  = Rp 1.050.000,-. Namanya juga keuntungan kotor yang belum dimasukkan biaya-biaya operasional lain seperti tenaga kerja, bahan bakar, transportasi, dan overhead lainnya.

Pengolahan minyak nilam kapasitas 50 kg
Asumsi = harga bahan baku nilam kering rajang Rp 7.000,-/kg, harga minyak nilam Rp 680.000,- (Juni 2014) dengan rendemen 2%.
Dengan cara yang sama di atas, maka akan diperoleh Margin Keuntungan Kotornya sebesar Rp 330.000,-.

Pengolahan minyak sereh wangi kapasitas 50 kg
Asumsi = harga bahan baku daun sereh wangi segar Rp 600/kg, harga minyak sereh wangi Rp 165.000,-/kg (Juni 2014), rendemen 0,7%.
Maka akan diperoleh angka Margin Keuntungan Kotor sebesar Rp 27.750,-

Pengolahan minyak daun cengkeh kapasitas 50 kg
Asumsi = harga bahan baku daun cengkeh kering Rp 1.500/kg, harga minyak daun cengkeh Rp 138.000,-/kg (Juni 2014), rendemen 2%.
Maka akan diperoleh angka Margin Keuntungan Kotor sebesar Rp 63.000,-

Perhatikan angka-angka akhir dari ke-4 komoditi tersebut. Menurut anda, komoditi manakah yang masih layak untuk diusahakan pada skala kecil? Silakan analisis sendiri, ya. Dari data-data dasar tersebut, juga bisa dianalisis berapa kiranya kapasitas minimum penyulingan untuk komoditi tertentu menurut kacamata anda.
Tetapi sekali lagi, angka-angka di atas sangat relatif tergantung pada sejauh mana orang tersebut memandang besaran nilai rupiah.

Petani-petani penggarap lahan nilam di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, atau Bengkulu menggunakan alat suling sederhana menggunakan bahan drum bekas solar atau oli yang dirancang sedemikian rupa sehingga cukup fungsional digunakan untuk menghasilkan minyak nilam. Contoh alat sulingnya adalah seperti gambar di bawah ini.



Dengan kapasitas bahan baku sekitar 25-30 kg, rata-rata setiap menyuling mereka menghasilkan minyak nilam 0.5 – 0.8 kg. Namun perlu diperhatikan bahwa mereka adalah petani yang menanam bahan bakunya sendiri (bersama keluarga), mengolah dengan tenaga sendiri, dan bahan bakarnya kayu yang diperoleh secara cuma-cuma di hutan.
Pun demikian yang dilakukan oleh para petani-penyuling minyak sereh wangi di kawasan Gayo Lues – NAD yang memanfaatkan drum bekas untuk menyuling hasil panen sereh wangi. Setiap menyuling 2-3 jam mereka mendapatkan minyak sereh sekitar 6 – 8 ons.

Di Jawa Barat, ada seorang rekan yang menyuling minyak daun cengkeh hanya di kapasitas 50 kg saja. Dia mengumpulkan sendiri (bersama anggota keluarganya) daun-daun cengkeh gugur di sela-sela waktu luangnya mengurus ladang. Setiap 2 hari, dia menyuling sendiri di malam hari selama 4 jam sebelum tidur (hanya 4 jam karena kapasitas kecil saja). Hasilnya sekitar 1 kg minyak yang dijualnya dengan harga Rp 135.000,- (Juni 2014). Andai dalam sebulan dia melakukan 15 kali penyulingan, artinya dia mendapatkan penghasilan tambahan Rp 2.025.000,- . Dengan ditambah penghasilan lain dari kebunnya sendiri, alhasil UMP DKI Jakarta pun tewas. Padahal poin-poin KHL di desa tidaklah sekompleks di DKI Jakarta :)

Beberapa rekan juga ada yang mencoba menyuling minyak pala atau beberapa jenis minyak atsiri dari bahyan rempah yang harganya relatif mahal. Kapasitas kecil saja sekitar 30 – 100 kg. Setidaknya untuk keperluan ini, saya pernah membuatkan alatnya untuk beberapa konsumen di daerah-daerah penghasil biji pala.



Minyak atsiri retail
Memproduksi minyak atsiri kapasitas kecil untuk kepentingan penjualan retail lebih cukup rasional. Alat suling ini dapat digunakan untuk berbagai jenis minyak atsiri yang masih memungkinkan diperoleh bahan bakunya. Minyak atsiri yang dihasilkan dikemas dengan ukuran misalnya 10 ml, 50 ml, atau 100 ml dan diberi label. Harga minyak atsiri untuk penjualan retail ini memang tidak ada standarnya (atau harga pasarannya). Artinya, harga dapat ditentukan sendiri berdasarkan margin yang ingin diperoleh dan sejauh konsumennya merasa tidak keberatan dengan harga yang ditawarkan.
Bagi pemula, melakukan aktivitas penjualan retail juga bukan hal yang mudah. Membutuhkan pengetahuan pasar yang baik karena pasar minyak atsiri retail sangat spesifik dan tersegmen. Juga diperlukan kesabaran dan keuletan dalam merajut jejaring pasar.  

SELAMAT MEMPERTIMBANGKAN.....

Tuesday, April 08, 2014

Pelatihan Bisnis Minyak Atsiri, Gel 23. Bandung-Subang, 3-4 Mei 2014

Dear peminat minyak atsiri,
Berdasarkan permintaan dari beberapa rekan/kolega yang ingin mempelajari minyak atsiri dari aspek usaha dan kelilmuannya, maka kembali kami selenggarakan "Pelatihan Bisnis Minyak Atsiri" pada tanggal 3-4 Mei 2014. Pelatihan ini akan diselengarakan selama 2 hari di Kota Bandung (Hotel Grand Setiabudi) dan di Subang (fasilitas penyulingan, kebun, dan workshop CV. Pavettia Kurnia Atsiri).

Adapun materi yang akan disampaikan meliputi :
   - Pengantar Wawasan dan Pengetahuan Minyak Atsiri
   - Kendala Usaha Penyulingan Minyak Atsiri
   - Pengantar Wawasan Pemasaran Minyak Atsiri
   - Teknologi Penyulingan Minyak Atsiri dan Teknik Analisis
   - Studi Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak Atsiri
   - Kunjungan lapangan ke lokasi penyulingan, kebun, dan workshop pembuatan alat penyulingan

Pelatihan ini sudah kami selenggarakan untuk yang ke-23 kali dimana untuk kali pertama (Gel-1) kami selenggarakan pada tanggal 1-2 November 2008.

Biaya training: Rp 1.750.000,-
Biaya training SUDAH termasuk makan siang 2x, snack, training kit, transportasi Bandung-Subang PP, CD materi pelatihan,
Biaya training TIDAK termasuk akomodasi peserta selama mengikuti training.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sdr Rijal - 0856-24931119

Wednesday, October 09, 2013

Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2013, Padang 6 - 8 November 2013

Dear rekan-rekan penikmat aroma...
Bulan depan tepatnya tanggal 6 - 8 November 2013, Dewan Atsiri Indonesia (DAI) kembali menyelenggarakan even tahunan yang bertajuk "Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2013" yang akan diselenggarakan di Kota Padang.

Berikut ini adalah brosur kegiatannya.



Thursday, August 22, 2013

MELAYANG-LAYANG BERSAMA AROMA

Mmmhh.…..ada sedikit kehebohan dalam dunia minyak atsiri di tanah air akhir bulan lalu. Pastinya, memang tidak akan semua orang tahu apalagi bagi yang tidak menggeluti dunia ini. Bahkan mungkin aku bisa mengatakan bahwa tidak semua pelaku minyak atsiri pun mengetahuinya. Masih jauh lebih heboh kasus pembunuhan sadis wanita cantik SY di Bandung atau ditangkapnya kepala SKK Migas RR oleh KPK. Yah…pokoknya untuk kalangan terbatas lah dan tak ada hubungannya dengan bisnis minyak atsiri secara umum. Just share pengetahuan dan wawasan saja di atas kehebohan yang terjadi.

Apa sih berita heboh itu sehingga diriku ini jadi tergerak kembali untuk menulis tentang minyak atsiri setelah lebih dari 1 tahun absen? Sebelum melanjutkan cerita, izinkan aku untuk sedikit flash back berita – yang juga “heboh” - beberapa waktu lalu mengenai penangkapan artis Rafi Ahmad oleh BNN (tau khan apa itu BNN??) yang disinyalir melakukan pesta narkoba bersama teman-temannya di rumah yang bersangkutan. Lalu, apa hubungannya sama si Rapi Ahmad?

Dari hasil pemeriksaan oleh pihak BNN, di dalam tubuh Rafi terdapat senyawa Cathinone yang merupakan salah satu senyawa psikotropika. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata senyawa ini secara alami banyak terkandung pada sebuah tanaman yang bernama “Ghat” atau nama kerennya  Chata edulis. Untuk mendapatkan senyawa ini dalam keadaan murninya tentu harus dilakukan proses ekstraksi, seperti hal nya ketika ingin mendapatkan kafein dari teh atau kopi, atau mendapatkan senyawa kurkumin dari kunyit., dan banyak contoh lainnya.

Tanaman yang dituding berasal dari Ethiopia ini ternyata juga banyak ditanam penduduk sekitar Cisarua Puncak dan banyak dikonsumsi oleh wisatawan asal Timur Tengah untuk dibuat semacam teh. Alhasil, pada saat itu BNN penuh dengan euforia melakukan pemusnahan massal tanaman ini, tidak hanya di Puncak tetapi juga di beberapa daerah lain yang “kedapatan” ditumbuhi si Ghat ini. Meskipun mohon maaf, secara pribadi aku menilai tindakan ini penuh dengan sindiran :) Sudahlah tidak penting juga dibahas di sini.

Sudah cukup yah cerita pengantarnya :) Sudah mengarah kan?? Yah… senyawa berkategori narkotika dan psikotropika dalam minyak atsiri inilah yang kukatakan menghebohkan. Tetapi tentunya bukanlah tanaman Ghat karena jenis ini bukanlah minyak atsiri melainkan ekstrak. Berita yang sempat diliput media elektronik dan media cetak ini adalah tentang penggerebekan sebuah pabrik penyulingan minyak atsiri di daerah Ponorogo – Jawa Timur. Kenapa digerebek?? Silakan agan-agan (pinjam istilah pada sebuah situs komunitas) check it out ke beberapa TKP dan olah sendiri saja ;

Minyak atsiri yang disuling adalah pakanangi. Orang Jawa bilang kayu telasihan. Sementara di daerah yang banyak terdapat tanaman ini seperti Propinsi Sulawesi Tengah biasa menyebut pohon palio atau pakanangi. Minyak ini disuling dari bahan kayu yang sudah dibuat serpihan-serpihan kecil seperti serbuk gergaji. Hampir sama seperti orang menyuling gaharu atau cendana. Dari nama ilmiahnya yaitu Cinnamomum parthenoxylon, sudah dapat dipastikan bahwa pohon pakanangi masih satu keluarga dengan kayu manis (baik jenis Cinnamomum burmanii, Cinnamomum verum, Cinnamomum zeylanicum, Cinnamomum cassia, Cinnamomum camphora, atau Cinnamomum cullilawan). Bagi teman-teman yang awam atau baru mengenal minyak atsiri tentunya tanaman ini masih sangat asing di telinga. Yah….memang minyak pakanangi ini termasuk jenis minyak atsiri yang tidak umum.

Well, aku pernah mencium aroma kayu ini sewaktu melakukan percobaan penyulingan beberapa tahun yang lalu (sekitar tahun 2009). Kebetulan ada seseorang menghubungi saya yang ingin melakukan percobaan penyulingan kayu palio. Aromanya memang benar-benar harum dan lama-kelamaan dapat menimbulkan efek kantuk yang luar biasa. Pada mulanya aku juga tidak tahu tanaman apa ini. Pokoknya asal suling saja dan mendapatkan rendemen sekitar 4% yang sebagian besar adalah minyak berat (berat jenis minyak lebih berat daripada air). Ada satu fenomena yang membuatku penasaran yakni aroma minyak yang keluar dari kondensor identik dengan aroma minyak yang dihasilkan di saat-saat akhir proses penyulingan minyak pala yang jumlahnya sangat sedikit.

Sebelumnya aku pernah dengar nama tanaman pakanangi ini, tetapi belum pernah melihat wujud kayunya secara langsung bahkan mencium aromanya. Yang aku tahu, tanaman ini kaya akan senyawa safrol dimana komposisinya lebih dari 90% dalam minyak tersebut. Tetapi orang yang ingin melakukan percobaan penyulingan itu hanya menyebut nama kayu “palio” yang masih kurasa asing (pada saat itu).

Kembali ke rasa penasaranku tadi. Komponen dengan komposisi besar yang keluar di saat-saat akhir penyulingan minyak pala biasanya adalah komponen fraksi berat seperti miristisin, safrol, dan mungkin juga metil eugenol. Hal inilah yang akhirnya membuat aku berburu informasi via googling. Dan…eureka…akhirnya dengan berbagai analisis aku mengambil kesimpulan bahwa palio ini sama saja dengan pakanangi yang kaya safrol itu.
Hmmm…..safrol yah?? Sekarang ini banyak dipermasalahkan kandungannya dalam minyak pala, terutama minyak pala yang berasal dari Indonesia Timur. Loh….kok jadi Out of Topic, kita khan lagi ngomongin narkoba, Fer. Masalah minyak pala dan romantikanya nanti dibahas di tulisan lain aja. OK, deh. Let’s back to the topic. Membicarakan safrol, aku jadi ingat waktu masih aktif menjadi dosen di Jurusan Teknik Kimia – ITENAS Bandung. Pada waktu itu aku membimbing 2 orang mahasiswaku untuk membuat Tugas Akhir Prarancangan Pabrik yang berjudul “Pembuatan Heliotropin dari Safrol”. Naskah prarancangan pabrik ini diikutsertakan pada Lomba Rancangan Pabrik Tingkat Nasional tahun 2006 di ITB Bandung. Yah..…alhamdullilahnya memang akhirnya jadi juara pertama untuk kategori Bahasa Indonesia (Congratz to you Irma and Rini…:) . Kebanggaanlah untuk seorang dosen…hehe. Yah…kok Out of Topic lagi, malah jadi narsis…hehehe.

Safrol merupakan salah satu senyawa prekursor narkotika. Senyawa ini secara eksplisit termaktub sebagai prekursor narkotika dalam lampiran UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Zat prekursor narkotika didefinisikan sebagai  bahan baku atau bahan kimia yang dapat digunakan atau direaksikan (bersama-sama bahan lain) dalam pembuatan narkotika dan psikotropika. Dalam berita yang dikutif melalui web di atas, minyak pakanangi dikatakan sebagai bahan baku pembuatan ekstasi. Oleh sebab itu, pihak kepolisian melakukan penggerebekan pabrik penyulingan tersebut karena ada indikasi pelanggaran hukum di sini.

Seperti yang sudah ditulis di atas bahwa minyak pakanangi mengandung lebih dari 90% senyawa safrol. Sebenarnya safrol inilah yang nanti akan dipisahkan dari minyak pakanangi dan digunakan bersama-sama zat lain untuk membuat ekstasi yang nama “ribet”nya adalah 3,4-methylenedioxy-N-methylamphetamine, atau disingkat MDMA. Lalu, bagaimana ceritanya safrol bisa menjadi MDMA.  Bagi teman-teman yang “jijik” dengan ilmu kimia tentunya akan sulit mencernanya. Yah…pokoknya gini deh gampangnya. Safrol direaksikan (baca = isomerisasi) menjadi isosafrol, lalu direaksikan lagi (baca = oksidasi) menjadi piperonil aseton. Selanjutnya bereaksi lagi (baca = aminasi reduktif) menjadi MDMA alias EKSTASI!!. Hmm…sebenarnya ribet  juga, sih…hehe.

Sebenarnya nih kalau mau agak bener, udah jadi isosafrol sebaiknya direaksikan menjadi piperonal alias heliotropin seperti yang dijadikan naskah prarancangan pabrik mahasiswaku dulu. Piperonal/heliotropin merupakan salah satu jenis senyawa fragrance sintetis yang cukup berharga dan sangat penting dalam dunia industri wangi-wangian. Emang sih kalau dibanding-bandingin secara keekonomian, ya masih jauh jauh jauh kalau dijadikan ekstasi…hehe. Upss,,,maaf lho Pak Polisi, aku bukan bermaksud untuk ngajarin pembaca blog atsiriku ini untuk bikin ekstasi.

Senyawa safrol dalam komposisi yang sangat besar selain terdapat pada minyak pakanangi, juga tersedia pada minyak sassafras yang disuling dari akar dan batang kering tanaman Sassafras albidum. Tanaman yang banyak tumbuh di Brazil. Sementara dalam jumlah yang jauh lebih sedikit juga terdapat pada minyak pala (nutmeg), lada hitam (black pepper), selasih (basil), dan kayu manis (cinnamon).

Hhhh….anda mau melayang-layang sejenak bersama aroma minyak atsiri? Ciumlah sedalam-dalamnya dan resapi gairah aroma dalam minyak pala. Atau…..berusahalah berbisnis  minyak atsiri secara sabar dan benar sehingga dapat untung banyak untuk dihabiskan dalam keremangan dan hingar bingar diskotik sambil “fly”..hehe.. Lho kok?? Dan kalau mau melayang ke penjara, sulinglah pakanangi, ambillah safrolnya lalu jadikan ekstasi untuk dijual kepada para trader yang untung besar dari lonjakan harga minyak nilam saat ini….hahaha. Ngga nyambung blaasss….!!

Friday, June 15, 2012

Pengolahan minyak nilam dengan teknik fermentasi - sebuah komentar (2)

Saya ingin melanjutkan komentar saya perihal proses produksi minyak nilam dengan teknik fermentasi yang konon khabarnya bisa mencapai rendemen 10-16%.  Pada tulisan saya sebelumnya mengenai subyek ini, memang tidak saya tuliskan secara eksplisit apakah teknik di atas benar atau salah. Memang bukan tipikal komentar hitam atau putih. Kalau memang mau dikatakan komentar abu-abu, ya silakan saja :) Saya hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan baik dari sisi batasan pemahaman ilmiah saya maupun dari sisi entitas bisnisnya itu sendiri. Selebihnya, silakan rekan-rekan pembaca untuk berfikir dan mencerna kembali sedalam-dalamnya, apalagi jika memang benar-benar berminat dan serius menekuni dunia perminyak-atsirian ini.

Ada berbagai alasan mengapa saya tidak bisa memberikan komentar/tanggapan yang “hitam atau putih”. Diantaranya adalah :

1. Saya sendiri belum pernah mencoba dan mempraktekkan langsung teknik tersebut, jadi nggak bisa dong bilang itu salah atau itu benar. Saya cuma ambil analisis, sekali lagi menurut batasan logika dan kemampuan ilmiah dan teoritis yang saya miliki. Kalau mau mendengarkan komentar yang yang lebih jelas dan obyektif, silakan ditanyakan kepada teman-teman yang pernah mengikuti program trainingnya lalu mencobanya sendiri di rumahnya masing-masing :) Jangan ditanyakan kepada saya…hehe. Saya sih cuma nyuling-nyuling biasa saja dan dengan cara-cara yang umum-umum saja.

2. Saya teringat peristiwa beberapa waktu lalu perihal “blue energy” yaitu konsep bahan bakar/energi menggunakan air yang  Bapak Presiden kita yang terhormat pun sempat terkesima dengan kajian ini dan sampai-sampai menjadikannya sebagai program nasional. Para pakar terkait beramai-ramai mempergunjingkan konsep ini (termasuk teman-teman saya dan beberapa kolega saya yang paham mengenai sisi ilmiahnya) karena menurut mereka hal ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi karena “menyalahi” hukum alam, yaitu hukum termodinamika I mengenai neraca energi (energy balance)….Upsss…maaf kalau saya ngomong “jorok”…hehehe. Dan ternyata, gunjingan itu bisa jadi benar karena gaungnya sampai saat ini (setelah lebih dari 4 tahun semenjak issu itu beredar) tidak terdengar sama sekali dan hilang ditelan bumi. So, menurut saya benar atau tidaknya teknik “revolusioner” fermentasi nilam tinggal menunggu waktu saja. Kalau sampai 1 atau 2 tahun mendatang ternyata banyak orang mengadopsi teknik ini dan menjadi sesuatu yang umum diperbincangkan, maka kita anggap saja teknik tersebut benar. Tentunya terlepas dari dampak bisnis minyak nilam secara global akibat ditemukannya teknik revolusioner ini.

3. Kalau konsep “blue energy” di atas dikatakan sangat menyimpang dari hukum alam, apakah teknik fermentasi untuk pengolahan minyak nilam juga menyalahi hukum alam? Mari kita bercermin pada peristiwa fermentasi sederhana, yaitu pembuatan alkohol/ethanol (boleh dibaca = bioethanol). Apa yang terjadi pada proses tersebut? Ethanol melalui teknik fermentasi biasanya menggunakan bahan-bahan baku yang mengandung kadar pati atau karbohidrat yang tinggi. Sebut saja; ubi kayu/singkong, jagung, sorghum, molase/tetes tebu, kentang, sagu, sukun, nira (aren, kelapa, siwalan, lontar, nipah, dll). Pati yang terkandung di dalam bahan-bahan di atas terlebih dahulu dipecah menggunakan bantuan enzim pemecah pati seperti – yang paling umum – amilase  menjadi maltosa dan lebih lanjut menjadi glukosa. Dengan bantuan bakteri penghasil alkohol seperti Saccharomyces cereviseae, maka glukosa ini (dengan kondisi yang tepat) lebih lanjut akan terkonversi ethanol.  Lalu, kaldu fermentasi ini disuling deh (bahasa kerennya di-distilasi) untuk menciptakan kadar ethanol yang lebih tinggi. Apakah peristiwa atau reaksi-reaksi sejenis di atas “mungkin” terjadi pada daun nilam? Seperti yang sudah saya jelaskan pada bagian pertama tulisan ini, minyak nilam adalah satu kesatuan produk yang tersusun atas puluhan komponen kimia (mainly Patchouli Alcohol/PA). Bakteri apa yang cukup hebat mengkonversi selulosa, lignin, hemiselulosa, air, atau abu yang merupakan komposisi dari daun nilam menjadi aneka jenis komponen-komponen kimia penyusun minyak nilam yang cukup kompleks sehingga kadar minyaknya bisa menjadi 10-16%?? Mmmm….mungkin nggak ya? Saya sih kurang ahli pada masalah-masalah per-mikrobiologi-an seperti ini. Anggap saja mungkin terjadi yah…:)

Saya punya cerita lagi, nih? Mudah-mudahan tidak bosan menyimak cerita saya yang kali ini boleh dibilang ngelantur dan “ngomong jorok”. Saya alumni jurusan Teknik Kimia (tingkat sarjana, kalau masternya belum lulus udah mundur karena terlalu banyak ‘berkelana’). Waktu tingkat akhir ada mata kuliah yang namanya “Perancangan Proses”. Dosennya pada waktu itu adalah Prof. Ir. Saswinadi Sasmojo, Msc, PhD (sengaja saya tulis gelarnya lengkap biar keren…hehe, mudah-mudahan si empunya nggak baca karena beliau paling anti nulis-nulis gelarnya yang seabreg-abreg itu). Mata kuliah yang sangat filosofis dan fundamentalis mengenai pola-pola dan dasar pemikiran dalam merancang suatu proses. Salah satu studi kasus wajib pada mata kuliah ini adalah penemuan proses Solvay (nah, apa tuh??). 
Proses Solvay adalah proses pembuatan soda abu (natrium karbonat/Na2CO3) dengan bahan baku garam NaCl dan batu kapur (CaCO3) yang ditemukan oleh seorang industrialis Belgia bernama Ernest Solvay pada tahun 1861. Soda abu adalah bahan kimia anorganik dasar yang sangat tinggi permintaannya di dunia dan digunakan pada berbagai macam industri. Sebelum ditemukan proses Solvay, pembuatan soda abu ini merupakan proses yang sangat mahal karena menggunakan bahan baku yang harganya juga mahal. Proses Solvay menggunakan bahan baku yang sangat murah dan banyak tersedia berlimpah di alam yaitu garam NaCl dan batu kapur CaCO3. Tetapi yang meragukan para ahli pada waktu itu adalah bahwa garam NaCl dan kapur CaCO3 sama-sama berupa padatan. Bagaimana mungkin mereaksikan keduanya yang berupa padatan sehingga bisa berubah menjadi soda abu Na2CO3 menurut reaksi :
                  2 NaCl + CaCO3 → Na2CO3 + CaCl2
Padahal secara hukum alam, reaksi di atas sangat mungkin bisa terjadi. Menurut ilmu termodinamika yaitu konsep energy bebas Gibbs, jika DG dari reaksi tersebut negatif maka reaksi akan berjalan spontan (please, jangan tanya-tanya masalah ini….hehehe). Langsung pada esensinya, ternyata si Solvay ini mampu melakukan teknik-teknik dan strategi jitu lagi cerdik dengan memecah-mecah menjadi 6 reaksi yang pada intinya sebenarnya adalah pengejawahtahan dari reaksi di atas secara real. (Catatan = Tentunya saya tidak akan tulis keenam reaksi tersebut karena bikin pembaca merasa “tujuh keliling”. Blog ini khan untuk penggemar minyak atsiri, bukan untuk orang teknik kimia) Alhasil, dengan ditemukannya proses Solvay dengan jalur yang cerdik ini maka peta industri per-alkali-an (yang ngaku pernah sekolah sampai SMA - IPA harusnya tahu apa itu “alkali”) di dunia berubah total. Proses Solvay untuk produksi soda abu pun berkembang pesat sampai dengan saat ini. Dan hanya terkalahkan oleh tambang mineral soda abu (Trona) di Green River, Wyoming - USA karena langsung tersedia di alam tanpa dibuat melalui serangkaian reaksi kimia. Dan…masih banyak studi-studi kasus serupa yang intinya sama seperti di atas untuk aneka produk lainnya.

Jadi.....
Kembali ke masalah minyak nilam rendemen 10-16%. Bercermin (bercermin terus, sekarang diganti jadi berkaca.....) dari cerita saya di atas, jika memang terbukti benar tentunya teknik ini akan berkembang cukup pesat. Dan baru terkalahkan setelah ditemukannya tambang minyak nilam…hehe. Cukup disedot dari perut bumi, langsung saring pakai kain monel dan jadilah minyak nilam :). Mmmmh… kebutuhan soda abu dunia saat ini sekitar 48.000.000 ton per tahun, sedangkan minyak nilam cuma 1500-1800 ton per tahun. Entah, mungkin akan ada aplikasi-aplikasi lain dari minyak nilam selain untuk fiksatif dalam dunia perfumery. Teriring lagu dangdut buah karya Caca Handika……. Mandi NILAM tengah malam jangan kau lakukan kalau hanya mengharap maaf dariku……………

 
Well, saya cuma berharap di tengah ketidakmenentuan situasi dan anjloknya harga minyak nilam ini, mudah-mudahan tidak ada pihak-pihak tertentu yang mencoba untuk memanfaatkan situasi dari kegamangan para pelaku industri kecil minyak nilam atau pemain-pemain pemula dengan mengorbarkan berita-berita atau pernyataan-pernyataan yang yang belum teruji kebenarannya secara nyata untuk kepentingan jangka pendek semata.