Sunday, November 08, 2009

International Seminar on Essential Oil (ISEO) 2009

Pada tanggal 26-28 Oktober 2009 lalu telah diselenggarakan International Seminar on Essential Oil 2009 oleh Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah – Departemen Perindustrian RI di IPB International Convention Center – Bogor. Seminar international ini merupakan kali kedua diselenggarakan (pertama kali di Jakarta pada tahun 2007) dan diagendakan sebagai event 2 tahunan.

ISEO 2009 yang bertemakan “Creating Sustainable Business in Essential Oil Through Partnership” mengetengahkan beberapa makalah dari keynote speaker baik dalam maupun luar negeri, yaitu:

1.Best Practices of Essential Oil Production System, oleh K. Vijayakumar (Vigirom and Co. – India)
2.Perspective on Essential Oil Derivatives Industry in Indonesia, oleh Robby Gunawan (PT. Indesso Aroma – Indonesia)
3.Importance of Producer Organization in Essential Oil Business, oleh Thierry Duclos (European Federation of Essential Oil)
4.Cluster Approach on Development Indonesian Essential Oil, oleh Meika S Rusli (Dewan Atsiri Indonesia)
5.New Creative Essential Oil Products and Application, oleh Nurliani Bermawie (Balitro – Bogor)
6.Standard and Quality Requirement for Essential Oil, oleh Pierre Ruch (Firmenich – Prancis)

Disamping 6 makalah sesi pleno di atas, terdapat sekitar 20 makalah/tulisan karya peneliti, mahasiswa, dan praktisi minyak atsiri tanah air dalam sesi pararel maupun makalah poster.

Selain kegiatan indoor, juga diadakan kegiatan outdoor berupa field trip (kunjungan lapangan) ke penyulingan minyak nilam (lokasi percontohan program cultiva untuk komoditas nilam – Dewan Atsiri Indonesia) dan penyulingan minyak sereh wangi. Keduanya berada di Kabupaten Kuningan – Jawa Barat.

Di sela-sela kegiatan seminar, para peserta dapat cuci mata sejenak melihat-lihat pameran minyak atsiri yang diikuti oleh para eksportir, produsen, lembaga penelitian, perwakilan IKM beberapa kabupaten, dan perusahaan pengguna minyak atsiri.
Pada kegiatan tersebut, saya lebih banyak bercengkerama dengan teman-teman penyuling maupun pelaku bisnis minyak atsiri lainnya. Mereka datang dari berbagai daerah dengan berbagai komoditas minyak atsiri yang berbeda sebagai bahan studi banding dan tentu saja media pembelajaran bagi saya pribadi untuk menambah wawasan, ilmu, dan pengetahuan-pengetahuan praktis minyak atsiri.

Sesuai dengan temanya, diharapkan bahwa dengan program kemitraan yang baik dan saling menguntungkan antara petani, produsen, pedagang, dan eksportir maka akan tercipta iklim usaha minyak atsiri yang kondusif dan berkelanjutan.

Sebenarnya saya ingin share makalah-makalah ISEO 2009 di blog ini untuk rekan-rekan peminat minyak atsiri yang belum berkesempatan menghadiri kegiatan ini, tapi mengingat saya tidak memiliki wewenang dan belum meminta izin untuk menyebarkannya dari si empunya acara, maka kita tunggu saja release langsung dari website Dewan Atsiri Indonesia.

Perihal Produk-produk Turunan Crude Essential Oil

Beberapa waktu lalu saat saya menghadiri undangan (thanks untuk Dewan Atsiri Indonesia-DAI atas undangannya) untuk mengikuti ISEO 2009 (International Seminar on Essential Oil) yang diselenggarakan oleh Departemen Perindustrian RI di Bogor, dipresentasikan sebuah makalah pada sesi panel yang dibawakan oleh salah satu keynote speaker Bapak Robby Gunawan (Predir PT. Indesso Aroma). Pemaparan yang bertajuk “Perspective on Essential Oil Derivatives Industry in Indonesia” cukup menarik perhatian saya. Pertama, selain karena Pak Robby sendiri merupakan orang nomor satu dari perusahaan aroma terkemuka di Indonesia dimana produknya adalah turunan-turunan minyak atsiri (terutama minyak cengkeh). Kedua, topik mengenai turunan minyak atsiri ini sering dilontarkan oleh para peneliti atau pengamat dari berbagai bidang ilmu yang berkaitan dengan minyak atsiri, meskipun masih pada diskursus seputaran aspek ilmiah dan teknologinya saja dan belum menyentuh pada pengembangannya menjadi sebuah entitas bisnis. Sebab kalau sudah bicara bisnis, kita tidak hanya bicara masalah teknis proses dan produksinya saja. Tetapi jauh lebih luas dari itu, mulai dari supply chain management hingga marketing. Ketiga, kebetulan pula kami juga produsen minyak atsiri sereh wangi yang mau tidak mau pada akhirnya akan (bahkan sudah) bermimpi (tapi baru bermimpi, lho…hehe) untuk membuat turunannya seperti citronellal, citronellol, maupun geraniol.

Saat memaparkan presentasinya, Pak Robby menyinggung pula masalah minyak sereh wangi (citronella oil) dan minyak terpentin (turpentine oil) yang potensinya di Indonesia untuk diproduksi turunannya sangat besar. Tetapi beliau belum menjelaskan mengapa sampai saat ini industri turunan kedua minyak atsiri tersebut kurang berkembang (atau bahasa kasarnya TIDAK berkembang). Ada apa gerangan padahal potensi bahan bakunya cukup besar di negara kita? Hal inilah yang pada akhirnya membuat saya ingin bertanya mengapa hal ini terjadi. Apalagi saya tahu bahwasannya PT Indesso Aroma merupakan produsen aroma dari turunan minyak cengkeh yang cukup berhasil di negeri ini tetapi tidak mengembangkan turunan dari kedua jenis minyak atsiri tersebut.
Saat sesi tanya-jawab, saya melontarkan pertanyaan yang isinya kurang lebih demikian.

1.Minyak sereh wangi kandungan utamanya adalah citronellal, citronellol, dan geraniol. Ketiga komponen tersebut jika dilihat perbedaan titik didihnya cukup lebar. Dari sisi teknis, apabila diterapkan konsep fraksionasi vakum untuk memisahkan ketiga komponen tersebut masih memungkinkan diselenggarakan pada skala UKM. Prosesnya juga (mungkin) tidak perlu menggunakan perangkat MD (molecular distillation) yang investasinya miliaran rupiah. Bagaimana potensi ketiga produk turunan minyak sereh wangi tersebut dan mengapa PT Indesso Aroma tidak mengembangkannya sebagai salah satu komoditas unggulannya seperti halnya turunan minyak cengkeh.

2.Kita tahu bahwa minyak terpentin merupakan produk samping dari industri gum rosin (gondorukem) yang diproses dari getah pohon pinus. Potensi bahan bakunya cukup besar dan saat ini memang hanya dikuasai oleh Perum Perhutani sebagai pemegang kuasa dari pemerintah untuk pengelolaan dan konservasi hutan pinus di Indonesia. Sejak zaman penjajahan Belanda ( tahun 1915) negara ini memproduksi minyak terpentin (pernyataan ini mengutif makalah dosen saya dulu Dr. Ir. Tatang H soerawidjaja), tetapi mengapa sampai saat ini dan sudah 90 tahun lebih industri turunannya tidak berkembang. Padahal kalau diruntut, minyak terpentin yang kadar utamanya adalah komponen-komponen atsiri golongan non-oxygenated terpenes (a-pinen, b-pinen, terpinen, dll) bisa dibuat puluhan jenis produk-produk aromatis sebagai turunannya. Menurut pendapat Pak Robby, apa yang mengakibatkan terjadinya stagnasi seperti ini? Dan saran saya kepada DAI sebaiknya mengadakan audiensi dengan Perum Perhutani berkaitan dengan wacana pengembangan minyak terpentin menjadi turunannya.

Kedua pertanyaan saya di atas ditanggapi demikian oleh beliau dan menurut saya cukup clear dan tepat.

1.Pasar dunia untuk ketiga komponen turunan minyak sereh wangi tersebut saat ini sudah didominasi oleh produk-produk sintesis yang harganya lebih murah daripada produk alaminya (eks. minyak sereh wangi). [Catatan: yang dimaksud produk sintesis adalah produk tersebut dibuat dari bahan-bahan lain melalui serangkaian reaksi kimia sehingga menjadi produk yang diinginkan). Bahkan citronellal (sintesis) dan citronellol (sintesis) sendiri merupakan salah satu turunan minyak terpentin. Memang ada pengguna citronellal, citronellol, dan geraniol, tetapi permintaannya tidak banyak. Menghasilkan ketiga komoditas dengan teknik fransionasi vakum bisa saja dilakukan tetapi biaya operasionalnya tidak mampu bersaing dengan produk-produk sintesisnya.

2.[Untuk jawaban no. 2 ini saya tuliskan dengan kata-kata saya sendiri untuk menghindari kesalahan penangkapan persepsi). Dari dulu hingga sekarang, ada kesulitan/kendala untuk mengambil bahan baku minyak terpentin dari Perum Perhutani atau bahkan pengembangan produk turunan minyak terpentin oleh Perum Perhutani itu sendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor. Juga sampai saat ini masih ada pemikiran bahwa menjual minyak terpentin mentah saja sudah untung, sehingga masih enggan untuk memproduksi turunannya. Beliau juga berharap mungkin DAI dan Departemen Perindustrian bisa beraudiensi dengan pihak Perum Perhutani untuk bersama-sama mengembangkan produk turunan minyak terpentin ini.

Demikian salah satu diskusi pada acara ISEO 2009 kemarin. Semoga menambah wawasan bagi teman-teman penggemar minyak atsiri.

Thursday, November 05, 2009

KONSEP SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN KADAR PA MINYAK NILAM

Banyak kalangan penyuling “terhantui” oleh pikiran high tech saat berkutat pada wacana peningkatan kadar PA pada minyak nilam hasil sulingannya. Orang (mungkin) berfikir tentang teknik redistilasi, refinery, atau bahkan fraksionasi vakum untuk keperluan tersebut yang notabene harus melakukan kegiatan investasi yang cukup lumayan.

Sebelumnya mari kita samakan persepsi dulu berkaitan dengan peningkatan kadar PA ini. Peningkatan kadar PA yang saya maksudkan di atas bukanlah untuk menghasilkan minyak nilam dengan PA ekstra tinggi, misalnya di atas 50-60%, 80%, atau bahkan mendekati PA murni (98%). Karena minyak nilam dengan kadar PA demikian tentulah memiliki segmen pasar yang sangat khusus dan agak sulit terjangkau bagi para penyuling di level “crude oil”. Sebagai penyuling crude oil (menurut saya) kita bisa tinggalkan sejenak wacana tersebut jika pasarnyapun masih tidak jelas. Jadi, kegiatan peningkatan kadar PA yang saya maksud di atas adalah sampai dengan batas kualitas rata-rata/standar (di atas 30 atau 31%) mengingat karena beberapa faktor banyak juga penyuling yang hasil produksinya hanya memiliki kualitas di bawah rata-rata (kadar PA 26-28). Kalau kadar PA-nya sudah standar, untuk apa kita susah-susah meningkatkannya lagi. Apalagi kalau ternyata peningkatan harganya juga tidak terlalu signifikan. Dalam konteks ini, saya lebih berfikiran pragmatis.

Kadar PA yang rendah disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:

1. Waktu penyulingan yang kurang lama. Kadar PA tertinggi dihasilkan di saat-saat akhir proses penyulingan. Apabila waktu penyulingan 8 jam, maka mulai jam ke-6 s/d jam ke-8 akan dihasilkan minyak dengan kadar PA di atas rata-rata. Saya pernah membuktikannya dengan memisah-misahkan hasil penyulingan berdasarkan jam operasi (jam ke-1 s/d jam ke-8) lalu dianalisis kadar PA-nya masing-masing. Hasilnya, semakin lama waktu operasi terjadi peningkatan kadar PA yang signifikan. Hanya saja jumlah minyak yang dihasilkan dari jam ke-6 s/d jam ke-8 jauh lebih sedikit daripada jam ke-1 s/d jam ke-5.

2. Laju alir uap yang sedikit atau tidak sebanding dengan jumlah bahan baku yang disuling. Hal ini juga menyebabkan rendemen minyak rendah serta waktu penyulingan lebih lama. Jumlah uap yang sedikit menyebabkan campuran uap dan minyak terlalu cepat jenuh dan lebih banyak berisi fraksi ringannya, padahal PA merupakan fraksi berat.

3. Rasio daun:batang. Makin tinggi rasio daun:batang, maka bisa dipastikan kadar PA-nya semakin turun. Kadar PA tertinggi terletak pada batang meskipun apabila rasio daun:batang makin kecil maka rendemen minyaknya akan turun mengingat kadar PA di batang tidak sebanyak pada daun. Kalau hanya daun saja yang disuling, rendemen minyaknya dapat mencapai 5-6% tetap kadar PA-nya akan turun tajam. Sedangkan pada batang, rendemen minyaknya hanya 0.5-0.7% tetapi dihasilkan minyak dengan kadar PA di atas 40%, bahkan bisa juga mencapai di atas 50%.

4. Lokasi budidaya. Penanaman nilam di bawah naungan/teduhan menghasilkan kadar PA yang berbeda dibandingkan dengan di lahan terbuka dan tersinari matahari secara utuh. Penanaman di dataran tinggi dengan di dataran rendah juga menunjukkan hasil minyak dengan kadar PA yang berbeda. Menanam nilam di Pulau Jawa (meskipun dengan bibit asal Sumatra Utara/Aceh dan perawatan yang baik), kadar PA minyak hasil sulingannya tidak setinggi apabila ditanam di daerah Sumatra Utara/Aceh yang ditanam di lereng-lereng perbukitan dengan perawatan minim.

Konsep sederhana yang saya maksud dari judul tulisan di atas mengacu pada poin ke-3 di atas. Artinya, apabila minyak nilam hasil produksi anda rendah (di bawah rata-rata) maka sulinglah batang-batang nilam atau hasil cabutan pohon nilam yang sudah tidak produktif. Hasil minyaknya yang notabene memiliki PA tinggi di-blending dengan hasil sulingan yang memiliki kadar PA rendah. Batang atau pangkal pohon nilam memang memiliki rendemen yang sangat rendah. Sebagian besar penyuling hanya memotong-motong batang nilam kering sebelum disuling dengan ukuran beragam (5-15 cm). Salah seorang rekan saya (kebetulan juga customer saya) mencoba menyuling batang/pangkal batang nilam kering yang sebelumnya sudah dihancurkan hingga menyerupai serbuk gergaji. Hasilnya cukup positif, rendemen minyaknya meningkat dari 0.6-0.7% menjadi 1-1.2%. Untuk keperluan ini tentu dibutuhkan mesin penghancurnya.


Apabila anda memiliki 100 kg minyak nilam dengan kadar PA 27%, berapakah jumlah minyak nilam PA tinggi yang dibutuhkan untuk pencampuran agar kadar PA-nya menjadi standar (misalnya 30%)?

Rumusnya sederhana saja:

P = (X1 * (W1/W1+W2))+(X2 * (W2/W1+W2))

dengan,
P = kadar PA yang diinginkan setelah pencampuran - diketahui
X1 = kadar PA minyak nilam yang rendah - diketahui
W1 = jumlah minyak nilam PA rendah yang dicampurkan - diketahui
X2 = kadar PA minyak nilam yang tinggi (dari batang) - diketahui
W2 = jumlah minyak nilam PA tinggi yang dicampurkan – dicari jawabnya

Wednesday, September 30, 2009

Vote me for "Asia's Best Young Entrepreneurship 2009" versi majalah Business Week

Dear teman2 pembaca blog
Mohon doa restu dan dukungannya ya.
Vote me for Asia's Best Young Entrepreneurship 2009 versi majalah Business Week. Kebetulan saya masuk salah satu nominasinya karena tahun 2008 kemarin menang di Shell Business Start Up Awards 2008 yg diselenggarakan oleh PT Shell Indonesia.

klik :

Friday, September 11, 2009

Pelatihan Minyak Atsiri Gel. 5

Untuk yang kelima kalinya CV. Pavettia Kurnia Atsiri (a subsidiary of PT. Pavettia Atsiri Indonesia) menyelenggarakan Training Minyak Atsiri pada tanggal 8-9 Agustus 2009 kemarin bertempat di Hotel Patra Jasa-Bandung, dan Desa Dipancar, Serangpanjang - Subang. Training minyak atsiri gelombang 5 ini diikuit oleh 32 peserta dari Sumatra, DKI, Jabar, Jateng, Jatim, Kalimantan, dan Maluku. Semoga training 2 hari penuh ini mampu memberikan pencerahan dan aneka pertimbangan dalam memulia bisnis minyak atsiri agar tidak salah melangkah.


Friday, June 19, 2009

Pelatihan budidaya dan penyulingan minyak atsiri, gel. 5

Download brosur Pelatihan Minyak Atsiri Gel. 5.
http://rapidshare.com/files/254157583/Brosur_training_atsiri_Gel_5.zipklik FREE USER, lalu klik icon DOWNLOAD. File dalam bentuk winzip.

Dear rekan-rekan..
Bersama ini kami informasikan bahwa "Pelatihan Budidaya dan Penyulingan Minyak Atsiri, Gel. 5" akan kami selenggarakan pada tanggal 8-9 agustus 2009 bertempat di Bandung (hari-1) dan Subang (hari-2).

Adapun materi yg akan disampaikan mencakup:
1. Pengetahuan/wawasan umum minyak atsiri
2. Kendala pengembangan bisnis minyak atsiri
3. Teknik pemasaran minyak atsiri
4. Teknik produksi minyak atsiri dgn proses penyulingan
5. Studi kelayakan bisnis minyak atsiri
6. Teknik pembibitan dan budidaya nilam dan sereh wangi sistem organik
7. Teknik pembuatan pupuk organik padat dan cair serta pestisida nabati
8. Praktek penyulingan (sereh wangi, gagang cengkeh, pala, nilam)

Biaya Pelatihan : Rp 1.300.000,- (termasuk training kit, kaos training, makan siang 2x, snack, transportasi bandung-subang PP, bundel artikel minyak atsiri)

Informasi lebih lanjut, hub. Rijal (085624931119) atau email: training_atsiri@yahoo.com

Tuesday, June 02, 2009

Bahan Bakar untuk Penyulingan

Pada proses produksi minyak atsiri dengan teknik penyulingan dibutuhkan bahan bakar yang berfungsi sebagai sumber energi untuk menghasilkan uap (steam) baik uap yang dihasilkan oleh boiler maupun terintegrasi dengan ketel sulingnya (sistem kukus). Aneka jenis bahan bakar/sumber energi banyak tersedia di sekitar kita, mulai dari yang mahal hingga yang gratisan. Contohnya; energi listrik (baik membeli dari PLN atau membuat sendiri melalui teknologi mikrohidro atau surya), gas LPG, minyak tanah, solar, batubara (atau briketnya), kayu bakar, biomassa pertanian (jerami, batok/sabut kelapa, sekam padi, tongkol jagung, daun-daunan, dll), karet ban, serta ampas dari penyulingan itu sendiri.

Pertanyaannya, apa sesungguhnya bahan bakar yang tepat (dan ekonomis) untuk menyelenggarakan proses produksi minyak atsiri melalui teknik penyulingan? Jangan mentang-mentang mudah diperoleh dan mudah diaplikasikan maka pilih saja bahan bakar minyak atau gas.
Dalam memilih jenis bahan bakar yang akan dipakai perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :

- Desain alat penyulingan (terutama boiler)
model tungku pembakaran dan struktur desain untuk bahan bakar gas dan bahan bakar minyak tentu berbeda dengan bahan bakar padatan. Meskipun tungku pembakaran ini bisa didesain untuk keperluan penggunaan dua jenis bahan bakar di atas. Juga demikian halnya dengan desain boilernya.

- Lokasi penyulingan
penggunaan bahan bakar yang menimbulkan polusi udara berlebihan seperti batu bara, kayu bakar, dan biomassa lainnya tentu tidak bijak apabila lokasi penyulingan berada di tengah kota atau pemukiman padat penduduk. Bisa diganyang orang se-komplek nanti…hehe.

- Besaran investasi
Biasanya investasi untuk bahan bakar jenis padatan lebih murah daripada bahan bakar gas atau minyak. BBG atau BBM membutuhkan burner khusus yang harganya cukup lumayan agar pembakaran dapat berlangsung efisien dan sempurna. Ada juga burner yang harganya lebih murah seperti kompor gas LPG besar (yang dipakai di restoran-restoran) atau smower minyak tanah (seperti yang dipakai tukang basho atau mie ayam tapi yang ukurannya besar) tetapi dari sisi aspek keterbakaran dan keteroperasian jauh lebih bagus jika digunakan burner yang mahal dan ber-merk. Contoh; Olympia, Beckett, Ray, Ecoflam.

- Nilai ekonomi dari minyak atsiri yang diproduksi
Hal ini yang sering luput dari pengamatan para pemain baru di bisnis minyak atsiri. Sebagian besar hanya mempertimbangkan kemudahan operasi, kemudahan supplai, kestabilan panas, dan sedikit polusi tetapi kurang mempertimbangkan aspek ekonominya. Menyuling daun cengkeh, sereh wangi, dan nilam (dengan harga minyak terkini) kurang ekonomis apabila menggunakan bahan bakar komersil. Untuk nilam, kecuali jika anda mendapatkan harga jual yang baik. Jadi, hitung-hitung dulu ya. Kalau saya menyuling minyak ini kapasitas sekian kg, akan dapat minyak sekitar sekian kg. Kalau harga jualnya sekian, maka saya akan mendapatkan sekian rupiah. Nah, kalau digunakan bahan bakar ini, maka...........Wah, saya rugi dong..:)

- Tingkat ketersediaan dan kontinyuitas
Sebelum memutuskan bahan bakar mana yang akan dipakai, pastikan bahwa anda bisa mengakses bahan bakar tersebut kapanpun anda ingin menyuling. Dan sebaiknya sumber untuk mendapatkan bahan bakar sedekat mungkin dengan lokasi penyulingan anda.

Beberapa jenis minyak atsiri tidak dibutuhkan pembelian bahan bakar alias gratis seperti minyak daun cengkeh, sereh wangi, sereh dapur karena ampas penyulingannya sudah mencukupi sebagai bahan bakar untuk proses penyulingan selanjutnya.

Selamat menyuling!!

Wednesday, May 20, 2009

Tips Pemasaran Minyak Atsiri bagi pemula

Banyak pertanyaan baik via email, blog, maupun telp/sms yang masuk ke saya yang berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri. Sebagian besar merupakan pemula atau bahkan awam di bisnis minyak atsiri. Saya bukan orang yang berpengalaman dalam bidang pemasaran minyak atsiri karena usaha kami saat ini bukan bergerak pada bidang perdagangan/trading minyak atsiri sehingga apapun jenis minyak atsiri bisa kami pasarkan. Kenalan atau mitra pembeli minyak atsiri memang ada beberapa yang bisa direkomendasikan (yg sebenarnya bisa anda dapatkan sendiri), tetapi tentu tidak semudah itu juga memasarkan apalagi minyak-minyak atsiri yang tergolong baru (alias tidak umum). Beberapa jenis minyak atsiri dibutuhkan strategi dan teknik pemasaran khusus.

Berikut beberapa saran dan trik yg sekiranya bisa saya sampaikan berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri.
1.Produksilah jenis minyak atsiri yang bisa anda pasarkan, dan bukan jenis minyak atsiri yang bisa anda produksi (bahan baku melimpah di daerah anda).

2.Pastikan bahwa minyak atsiri yang anda produksi sudah memenuhi standar kualitas umum yang bisa dipasarkan dengan harga standar. Pastikan pula anda tahu kualitas minyak atsiri yang anda hasilkan..:)

3.Di website Dewan Atsiri Indonesia - DAI (www.atsiri-indonesia.com) ada banyak daftar eksportir minyak atsiri di Indonesia yang disertai dengan nomor kontak. Cobalah telpon satu persatu para eksportir tersebut dan tanyakan apakah mereka bisa menampung hasil produksi anda serta mekanisme-mekanisme lainnya

4.Kalau tidak puas dengan data pada web DAI di atas, datanglah ke perpustakaan Departemen Perdagangan RI khususnya BPEN (Badan pengembangan Ekspor Nasional), mintalah daftar para eksportir minyak atsiri dan hubungi mereka satu-persatu. Salah satu teman saya bisa mendapatkan sekitar 50-an alamat dan kontak eksportir minyak atsiri dari BPEN Departemen Perdagangan. Dari jumlah itu tidak semuanya masih aktif sebagai eksportir minyak atsiri. Jadi jangan gusar apabila anda telpon salah satu di antara mereka lau jawabnya,”Wah... maaf Pak, kita sudah lama tidak main minyak atsiri lagi”. Yang seperti ini kemungkinannya ada dua, yaitu memang benar-benar sudah tidak bermain atsiri lagi atau mereka sudah punya supplai tetap dan enggan untuk berhubungan dengan pemain-pemain baru (menutup kesempatan para pemain baru).

5.Masih tidak puas dengan data-data di atas, carilah lagi via om google. Jika dapat no kontak siapapun yg mau membeli minyak atsiri jangan sungkan-sungkan untuk melakukan kontak langsung untuk menanyakannya.

6.Banyak para pemula yang ingin langsung memasarkan minyak atsirinya ke eksportir padahal kapasitasnya belum memadai sehingga posisi tawarnya belum tinggi. Apalagi belum mengenal lebih jauh seluk-beluk bisnis ini. Mulailah dari pemasaran tingkat bawah (baca=pengumpul kecil) sambil belajar lebih jauh tentang pemasaran minyak atsiri dan memperluas jaringan pemasaran. Lambat laun pemain-pemain dan pelaku bisnis ini dapat anda petakan. Dan pada akhirnya anda bisa memperlebar jangkauan pemasaran anda tentu diikuti dengan kuantitas dan kontinyuitas supplai produk minyak atsiri anda.

7.Positioning dan Branding. Ini penting bagi anda yang merasa memiliki spesialisasi untuk jenis minyak atsiri tertentu. Teknik Branding butuh waktu, kesabaran, konsistensi, dan perencanaan yang baik. Contohnya: anda memutuskan untuk spesialis di bidang minyak sirih. Buatlah blog atau website khusus yang berbicara tentang seluk beluk minyak sirih. Atau bisa juga facebook dan sejenisnya. Buat juga tulisan-tulisan atau opini-opini (yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan) tentang minyak sirih. Pokoknya dimanapun dan kapanpun saat bercengkerama dalam khasanah minyak atsiri, ceritalah tentang minyak sirih. Lama-lama anda akan dikenal oleh khalayak sebagai pakar dan produsen minyak sirih sehingga para pembeli minyak sirih akan mengenal anda dan mungkin menghubungi anda tanpa anda harus bersusah payah mencari mereka.

8.Untuk beberapa minyak atsiri khusus, anda butuh usaha ekstra untuk mencari pemakai langsung (end-user), contohnya; usaha-usaha spa, aromateraphi, farmasi, kosmetika, jamu, balsem, obat gosok, sabun/deterjen, dll. Cari informasi sebanyak mungkin tentang target pasar anda lalu datangi atau berhubungan langsung dengan pemilik usaha tersebut atau yang mewakili (bagian purchasing).

9.Jika anda sudah memulai produksi, sampel cukup penting untuk mengenalkan produk anda ke calon pembeli. Bagi para pemula yang belum produksi memang agak sulit untuk menemukan pasar sebab biasanya calon pembeli selalu menanyakan sampel minyaknya. Ingat, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri. Dua orang penyuling yang menyuling dari sumber bahan baku sama, belum tentu menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang sama. Apalagi sumber bahan bakunya berbeda..:)

10.Pemetaan pasar penting, terutama supply and demand. Ingat bahwa permintaan minyak atsiri itu ada batasnya. Kalau dikatakan tak terbatas, itu isapan jempol belaka!! Saya pernah ditanya bagaimana mengenai pemasaran minyak pala yang kita produksi. Saya jawab,”Saat ini berapapun kita produksi selalu diambil oleh pembeli kita”. Bagaimana interpretasi anda membaca jawaban saya itu? Yang paham dengan bisnis ini tentu akan memiliki intrepretasi berbeda dengan teman-teman pemula atau masih awam dengan bisnis minyak atsiri.

11. Eh, satu lagi tapi tidak ada kaitannya dengan pemasaran. Jangan mudah terbuai oleh "angin surga" tulisan-tulisan tentang bisnis minyak atsiri yang dikatakan menjanjikan, mudah, keuntungan segudang, dll yang disertai dengan data-data yang menurut saya faktanya tidak seperti itu. Dalam bisnis apapun pengalaman, wawasan, dan jam terbang sangat menentukan keberhasilannya. Dalam minyak atsiri, yang sudah berpengalamanpun kadang-kadang masih suka “kejeblos”...hehe. Bisnis ini memang menjanjikan asal......bla...bla...bla...........

OK, keep your spirit.... Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman pemula atau awam di bidang minyak atsiri. Namanya juga usaha jadi butuh kesabaran, keuletan, kreativitas, kerja keras, komitmen dan totalitas, serta tentu saja semangat pantang menyerah.

Friday, April 17, 2009

EKSTRAKSI PELARUT UNTUK MINYAK ATSIRI BUNGA-BUNGAAN

Buat tambahan pengetahuan buat para peminat minyak atsiri.

Apa itu ekstraksi? Ekstraksi pada prinsipnya adalah teknik pemisahan (separasi) yang mengeksploitasi perbedaan sifat kelarutan dari masing-masing komponen campuran terhadap jenis pelarut tertentu.
Contohnya adalah : Campuran A dan B hendak dipisahkan menggunakan campuran A dan B hendak dipisahkan menggunakan pelarut X. Dari data-data sifat kelarutan, komponen A sangat larut dalam X, sedangkan komponen B sedikit larut atau bahkan tak larut. Apabila pelarut X tersebut ditambahkan pada campuran A dan B yang berbeda sifat
kepolarannya, maka komponen A akan larut dalam X, sedangkan B tidak. Sehingga akan didapatkan campuran baru, yaitu A dan X. Tahap selanjutnya adalah bagaimana memisahkan A dan X ini? Salah satu metodenya adalah evaporasi/penguapan pelarut.

Dalam kaitannya dengan minyak atsiri, teknik ekstraksi ini biasanya digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri yang mudah rusak oleh panas, dalam hal ini adalah minyak bunga-bungaan seperti melati, mawar, atau sedap malam. Untuk melarutkan minyak atsiri yang terdapat pada bunga-bungaan tersebut, maka dibutuhkan pelarut yang biasanya adalah pelarut organik yang bersifat non-polar. Mengapa non-polar? Bunga-bungaan yang segar tentu mengandung air, bukan? Dalam konsep ikatan kimia, air itu bersifat polar. Nah, kalau digunakan pelarut yang polar juga seperti alkohol maka tentunya air yang terkandung dalam bunga akan larut ke dalamnya sehingga membutuhkan proses pemisahan yang lebih kompleks. Tetapi kalau digunakan pelarut non-polar maka air tidak akan larut ke dalamnya.

Banyak jenis pelarut organik non-polar, tetapi yang paling sering digunakan adalah heksana (C6H14) meskipun tidak menutup kemungkinan juga bisa digunakan benzena (C6H6) ataupun juga bensin/gasolin. Ada beberapa kriteria dalam memilih pelarut untuk ekstraksi bunga-bungaan selain sifatnya yang non-polar tadi , di antaranya adalah dapat melarutkan zat wangi dalam bunga secara sempurna, mempunyai titik didih yang rendah dan seragam, bersifat “inert” atau tidak bereaksi dengan zat wangi dalam bunga yang akan diekstrak, harga serendah mungkin dan mudah diperoleh.

Produk akhir ekstraksi bunga menggunakan pelarut ada dua macam, yaitu concrete dan absolute. Concrete merupakan minyak atsiri yang masih bercampur dengan lilin/resin serta sedikit pelarut. Saat proses ekstraksi berlangsung, tidak hanya minyak atsiri yang terlarut pada pelarut, tetapi juga lilin/resin ikut masuk ke dalamnya. Concrete berbentuk semi padat seperti lemak atau mentega. Sedangkan absolute adalah minyak atsiri yang murni tanpa pengotor seperti lilin/resin maupun sisa pelarut. Absolute lah yang harganya paling mahal.

Dalam terminologi ekstraksi pelarut, biasanya juga ada konsep lain yang tak kalah penting, yaitu evaporasi vakum. Kondisi vakum didefinisikan sebagai kondisi di bawah tekanan atmosferik (di bawah 1 atm / tekanan normal). Sedangkan evaporasi merupakan proses penguapan pelarut untuk memisahkannya dengan minyak atsiri dan atau lilin/resin. Sehingga jika digabungkan pengertiannya adalah proses penguapan pelarut pada kondisi di bawah tekanan normal. Mengapa harus vakum? Tentu saja ada tujuan-tujuan tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk menurunkan titik didih dari pelarut tersebut sehingga temperatur proses secara keseluruhan menjadi lebih rendah. Semakin rendah tekanan maka temperatur prosesnya juga makin rendah. Misalnya; heksan pada tekanan normal (1 atm) bertitik didih 68 C, pada tekanan 0.7 atm titik didihnya 58 C, dan pada tekanan 0.2 atm titik didihnya 25 C. Kondisi inilah yang diharapkan pada proses ekstraksi minyak atsiri bunga-bungaan agar diperoleh minyak dengan kualitas yang baik. Artinya, kerusakan minyak atsiri akibat temperatur tinggi bisa dihindari. Sedangkan tujuan kondisi vakum yang lain adalah menjamin bahwa pelarut dapat terpisahkan semaksimal mungkin. Untuk mencapai kondisi vakum dibutuhkan alat pendukung yaitu pompa vakum.

Gambar berikut ini merupakan tahapan-tahapan dalam proses ekstraksi minyak bunga-bungaan menggunakan pelarut organik untuk mempermudah pembaca dalam memahami teknik ekstraksi pelarut ini.

Friday, April 10, 2009

Sedia: Bibit Pala...