Monday, December 31, 2007

Alkoholmeter/meterlak

Apa itu alkoholmeter atau di kalangan penyuling biasa disebut "meterlak"? Sebenarnya alat ini tidak lain adalah hydrometer yang berfungsi untuk mengukur berat jenis (specific gravity) suatu larutan/cairan. Sedangkan dalam konteks alkoholmeter, jenis hydrometer ini sebenarnya secara spesifik digunakan untuk mengukur konsentrasi alcohol (etanol) dalam air. Misalnya, jika kita memiliki cairan alcohol 70%-berat maka ketika alkoholmeter ini dicelupkan dalam cairan tersebut permukaan cairan akan menunjukkan angka 70 pada skala alkoholmeter. Jika dicelupkan pada air murni, maka permukaan cairan akan menunjuk angka 0 pada skala alkoholmeter. Alkoholmeter dapat dibeli di toko kimia atau toko perangkat laboratorium terdekat dengan harga yang bervariasi antara Rp 100.000 s/d Rp 200.000,-

Alat ini sering digunakan sebagai pendekatan untuk mengukur kualitas beberapa jenis minyak atsiri pada perdagangan di tingkat penyuling/pengepul, misalnya minyak nilam, pala, cengkeh, sereh wangi. Hal ini dilakukan karena prosesnya sangat simple, cepat, dan tidak membutuhkan biaya meskipun tingkat akurasinya dalam mendeteksi kadar komponen utama yg menentukan kualitas minyak masih belum sempurna. Jika dilakukan analisis komponen menggunakan alat dengan tingkat akurasi tinggi seperti GC atau GC-MS tentu memerlukan waktu yg lama dan biaya yg mahal. Pada perdagangan minyak atsiri untuk tingkatan yg lebih tinggi lagi, tentu analisis kualitas menggunakan alkoholmeter menjadi tidak valid dan kurang diterima.

Contohnya untuk minyak nilam, batasan nilai meterlak tertinggi yg diterima di kalangan pengepul adalah 40 (meskipun untuk masa krisis minyak nilam seperti saat ini, batasan tersebut masih sangat dapat ditoleransi). Hal ini bukan berarti bahwa kadar PA minyak tersebut 40%. Semakin tinggi nilai meterlak minyak nilam, maka minyak tersebut akan semakin encer dan densitasnya semakin menjauhi air (densitas 0,998 - 1 gr/cm3). Coba kita bandingkan secara logika, PA (patchouli alcohol/pathcoulol) dalam keadaan murni memiliki densitas sekitar 1.001 gr/cm3 dan berbentuk kristal, artinya densitas PA itu mendekati air (atau malah mirip dengan air). Nah, jika angka meterlaknya makin besar artinya semakin menjauhi densitas air sehingga "pendekatan" yang dipercaya adalah kadar PA-nya semakin rendah yang bisa jadi juga telah dicampurkan (adulterasi) dengan komponen yang larut dalam minyak nilam seperti alkohol. Lalu, timbul pertanyaan lebih lanjut, apakah jika meterlak-nya semakin rendah maka kadar PA nilam juga makin tinggi? Sebagai pendekatan, bisa dikatakan "YA". Tetapi apabila terlalu rendah, bisa jadi pula (baca=dicurigai) diakibatkan oleh pencampuran komponen lain. Berdasarkan SNI, rentang berat jenis minyak nilam yang dipersyaratkan adalah 0,943 – 0,983. Setelah saya coba olah dan hitung-hitung, nilai berat jenis tersebut akan ekivalen dengan nilai meterlak 30 – 10.

Minyak nilam tentu saja mengandung berbagai macam komponen kimia dengan berat jenis yang bervariasi dimana turut berpengaruh terhadap nilai meterlak ini, sehingga itulah mengapa analisis model ini belum cukup valid meskipun telah ada semacam kurva kalibrasi yang menghubungkan antara kadar PA dengan angka meterlak.


Sunday, December 16, 2007

PA Nilam

Pertanyan Imam:

Dear Mas Feri,
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri.
Nama saya : imam joko tinggal di pasuruan Jatim.
Saya adalah karyawan dari salah satu PMA jepang (bisa anda lihat dari e-mail address saya). Saya tahu anda dari blog yang anda punya. Saya tertarik dengan bisnis ini karena saya lihat prospeknya cukup bagus walaupun semua ada resikonya. Saya sedang mempelajari dan mencoba menggeluti bisnis minyak nilam ini. Saya bekerja sama dg seorang kawan penyuling minyak nilam dengan kapasitas 100kg kering per hari dengan demikian saya bisa langsung tahu kendala2 dan peluang2nya.

Ada yang ingin saya tanyakan, mudah-mudahan Mas Feri berkenan menjawabya.
1. Tentang kadar PA.
Bagaimana cara mengukurnya, apakah ada alat ukur yg bisa dibeli dipasaran? Semakin tinggi kadar PA apakah kualitas semakin baik/sebaliknya. Soalnya saat minyak dijual ke pengepul semakin rendah PA maka harga semakin mahal. Rata2 PA minyak saya 34-37%. Saat ini dihargai sekitar Rp. 790,000/kg. PA 34% lebih mahal dari PA 37%. Bagaimana harga pasaran sekarang?

2. Peningkatan kadar PA

Dari refrensi yg saya baca kadar PA banyak dipengaruhi dari bahan bakunya. Pertanyaan saya apakah minyak hasil suling masih bisa di-improve kadar PA-nya, kalo bisa bagaimana caranya.

Sementara ini dulu perkenalan saya.

Jawaban Ferry:

Salam kenal kembali Mas Imam...
Langsung saja ya...
1. Mengenai alat ukur PA yang akurat tentu saja dapat menggunakan analisis GC-MS tetapi itu hanya ada di perusahaan2 bermodal besar atau di lembaga2 penelitian (atau kampus) yang memang memilikinya utk keperluan penelitian (dan kadang2 dikomersialkan juga). Sekali analisis GC-MS biayanya paling murah yg pernah saya lakukan adalah Rp 125.000 - Rp 175.000/sampel. Kalau alatnya harganya sangat mahal, yah... up to 0.5M lah. Sedangkan alat pengukur PA yang digunakan oleh pengepul adalah alkoholmeter/meterlak yang bisa diperoleh di toko2 kimia atau alat2 lab. Alat itu hanya digunakan sebagai pendekatan, jadi bukan untuk mengukur kadar PA-nya. Meskipun ada yang sudah memiliki kurva kalibrasi/hubungan antara angka yang tertera pada meterlak dengan perkiraan kadar PA-nya. Tentu saja kadar PA yang lebih tinggi memiliki nilai jual yang tinggi. Nah, nilai meterlak itu berbanding terbalik dengan kadar PA sesungguhnya. Semakin rendah nilai pada meterlak, maka semakin tinggi kadar PA-nya. Begitu pula sebaliknya.

2. Kadar PA memang sangat dipengaruhi oleh bahan bakunya. Perbedaan pemupukan dan topografi lahan juga turut menentukan kadar PA minyak nilam. Minyak nilam hasil sulingan bisa ditingkatkan kadar PA-nya dengan berbagai cara, namun tentu saja biayanya lumayan mahal.
Hanya saja, kita harus hitung2an cost produksi utk peningkatan kadar PA. Kalau memang harganya tidak meningkat secara signifikan, maka silakan dihitung2 sendiri apakah masih untung atau rugi ketika melakukan peningkatan kadar PA. Yang jelas, dalam upaya meningkatkan kadar PA minyak nilam pasti akan ada beberapa % minyak yang loss (hilang).

Demikian semoga dapat memberikan informasi

-ferry-

Minyak Akar Wangi

Pertanyaan Chandra:
Mas Feri perkenalkan nama saya Chandra, saya sangat terkesan dengan usia anda yg begitu belia udah menjadi dosen dan mempunyai seabreg ilmu pengetahuan dan pengalaman berusaha dalam bidang essential oils. Selagi surfing di web meng-google info tentang vertiver root oil saya terdampar di blog anda hehe. Ingin sekali saya bertemu dan konsultasi dg mas Feri mengenai minyak akar wangi. Bagaimana prospek minyak ini sekarang apakah masih menguntungkan untuk dijalankan?

Trims.

Jawaban Ferry:
Dear Mas/Pak Chandra….
Terima kasih atas apresiasinya.
Mengenai vetiver oil, Indonesia memproduksi vetiver oil dalam jumlah terbatas dan HANYA di Kabupaten Garut saja. Sejauh pengetahuan saya, belum ada satu daerahpun di Indonesia yang memproduksi minyak akar wangi selain di Garut karena memang kondisi agroklimat yang cocok untuk tanaman tersebut. Kalaupun ada, akar wanginya digunakan untuk keperluan kerajian angan (handy craft). Untuk pengembangan daerah lain, saya kira perlu studi agroklimat yang menyeluruh dan kebun percobaan supaya tingkat keberhasilan penanaman dan rendemen minyak yang dihasilkan baik.

Kalau bicara prospek, peluangnya masih sangat besar.
Mengenai menguntungkan atau tidak, semuanya tergantung pada optimalisasi produksi minyak, optimalisasi proses, dan sistem tanam yang baik. Produsen vetiver oil yang besar di dunia hanyalah Indonesia, Haiti, Kep. Reunion.

Salam,
-ferry-

Usaha Atsiri 1

Pertanyaan:

Halo, Pak Fery... Salam kenal. Saya Surya tinggal di tangerang, mao tanya2 ttg minyak atsiri.
Kebetulan saya sedang mencari peluang usaha, maunya sih di bidang agrobisnis. Belum lama saya baca di blog Anda mengenai usaha minyak atsiri, sepertinya banyak potensi alam kita yang belum tergali optimal ya???
Tapi saya agak ragu, krn basic saya bukan kimia. Kebetulan saya orang teknik mesin. Makanya saya mao tanya dengan ahlinya minyak atsiri.
1. Untuk orang awam seperti saya, apa bisa memulai usaha ini?
2. Berapa modal minimum yang dibutuhkan untuk memulai dengan skala UKM, tapi standar ekspor untuk hasil produk?
3. Bagaimana potensi usaha ini ke depan? Bisa bersaingkah dengan negara lain?
Terima kasih atas perhatian dan jawabannya.

Jawaban :
Salam kenal kembali Mas Surya
Langsung saja ya...

1. Seharusnya bisa saja Mas. Lha wong para penyuling yang di desa-desa itu bukan sarjana (malah banyak yang cuma lulusan SD) tapi buktinya mereka bisa juga kok menjalankan bisnis ini…hehe. Yang jelas, faktor kritikal dalam bisnis ini adalah tingkat ketersediaan dan kualitas bahan baku saja. Mengenai market, selagi kita tidak bersikap terlalu idealis dalam hal pemasaran saya yakin pasarnya selalu ada.
2. Ini tergantung minyak atsirinya jenis apa. Saya berbicara realistis sesuai dengan keadaan lapangan yang ada. Bicara mengenai standar ekspor, harus dipastikan dahulu apakah produknya memang mau diekspor sendiri atau mau dijual via pedagang2 pengumpul. Standar kualitas untuk ekspor itu banyak parameternya, tapi kalau standar pemasaran lokal via pedagang pengumpul itu tidak terlalu rumit, malah dibikin sesederhana mungkin supaya praktis. Kalau memang mau ekspor langsung, tentu tidak mudah karena selain harus punya modal kerja yang sangat besar, juga harus "bertempur" dahulu dengan kompetitor2 (eksportir2) domestik. Sebagai pemula, tentu faktor resiko benar2 harus dipertimbangkan. Saran saya, mungkin bisa dimulai dengan kapasitas kecil dan mencoba mengenali bisnis ini secara mendalam melalui usaha skala UKM. Kalau tidak mencoba memulai, maka pengetahuan bisnis atsiri dapat dipastikan tidak akan berkembang apalagi ketika dihadapkan pada kompleksnya sistem pemasaran atsiri di Indonesia dan kendala2 teknis lainnya. Kalau sudah merasa OK dengan bisnis ini, silakan kembangkan sesuai dengan kemampuan finansial yang ada.
3. Kalau bicara secara global, saya pikir dengan sistem pengolahan dan agribisnis yang baik yang berdampak pada tingkat kualitas minyak yang OK, pasti akan dapat bersaing dengan negara lain.

Untuk mendalami bisnis atsiri ini, saran saya silakan Mas Surya berkunjung langsung ke penyulingan-penyulingan minyak atsiri dan belajar langsung di lapangan selama beberapa waktu tertentu.

Demikian Mas Surya. Semoga berkenan
-ferry-

Wednesday, December 05, 2007

GARUT "the land of vetiver"


Kembali bersama Ferry dalam edisi tour the atsiri….hehe. Selaksa perjalanan untuk menambah wawasan dan ilmu di bidang minyak atsiri. Harum semerbak mewangi begitu kental terasa dalam indra penciuman kala melewati tugu batas Desa Sukakarya – Kecamatan Samarang – Kab. Garut, Ja-Bar. Di sebelah kanan dan kiri jalan yang saya lalui sepanjang jalan raya Kamojang ada beberapa penyulingan minyak akar wangi yang sepertinya berhenti berdenyut. Ditandai dengan ketel-ketel suling yang bergelimpangan di sisi bangunan pabrik dan sepinya aktivitas di setiap pabrik. Apa gerangan yang terjadi?

Jawaban itu akhirnya saya dapatkan saat berjumpa dengan salah satu penyuling minyak akar wangi yang sudah cukup tenar, tidak hanya di Garut, tetapi juga di Jawa Barat dan Indonesia, yakni Bapak H. Ede Kadarusman. Beliau saat ini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani, Produsen, dan Pelaku Bisnis Minyak Atsiri Jawa Barat (AP3MA-Jabar) dan salah satu pengurus Dewan Atsiri Indonesia (DAI). "Dari sekitar 14 penyuling akar wangi di Kec. Samarang, saat ini hanya 3-4 yang aktif beroperasi termasuk yang punya saya", begitu ceritanya seraya menyeruput kopi manis di sela-sela bibirnya. Masalahnya adalah bahan baku yang sangat terbatas sebagai imbas turunnya harga minyak akar wangi awal tahun 2006 kemarin yang hanya mencapai Rp 200.000/kg. Menurutnya, untuk menjalankan 1 unit penyulingan berkapasitas 1.5 ton akar per batch secara kontinyu membutuhkan lahan garapan sekitar 100 ha. Harga minyak akar wangi di tingkat pengumpul saat ini sudah relatif baik yaitu sekitar Rp 525.000 – Rp 600.000/kg tetapi apa daya masih cukup sulit untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat untuk menanam kembali komoditas ini. Pak H. Ede bersama kelompok taninya saat ini mengembangkan 100 ha perkebunan akar wangi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1300 – 1400 m dpl. Alhasil, dari 2 ketel suling miliknya hanya satu saja yang beroperasi.

Dengan sistem pertanian yang tradisional, setiap 1 ha lahan dapat menghasilkan 7 – 8 ton akar wangi per tahun dengan tingkat rendemen 0.3 – 0.5% (basis kebun, bukan basis kering) dan usia panen rata-rata 1 tahun. Adapula yang memanennya di bawah 1 tahun sehingga rendemen dan kualitas minyaknya tentu saja jauh dari harapan. Sedangkan Pak Ede saat ini mengikuti SOP yang benar dalam bertanam akar wangi sehingga menurutnya terjadi kenaikan produktivitas hingga 12 – 15 ton per tahun dengan tingkat rendemen 0.6 – 0.8%. Meskipun biaya operasionalnya hampir 2 kali lipat sistem pertanian tradisional tetapi hasilnya bisa 2 kali lipat lebih tinggi.

Masalah yang sering terjadi dari sisi proses produksi adalah tekanan kerja ketel suling yang tinggi yaitu sekitar 5 barg (6 bar a) sehingga minyak akar wangi yang dihasilkan berbau gosong karena temperatur uap yang tinggi. Penyulingan dengan tekanan 2.5 – 3 barg akan menghasilkan minyak akar wangi yang berbau lebih halus dan berwarna lebih jernih. Hanya saja timbul masalah lain, ketika menyuling pada tekanan yang lebih rendah maka dibutuhkan waktu penyulingan yang lebih lama. Jika menggunakan tekanan tinggi, 12 jam saja sudah cukup. Tetapi jika tekanannya lebih rendah memakan waktu 16 -18 jam. Hal ini berdampak pada besarnya biaya bahan bakar (minyak tanah) yang dikeluarkan (rata-rata 22 liter minyak tanah/jam). Demikian pula halnya dengan rendemen yang dihasilkan, penggunaan tekanan rendah menghasilkan minyak lebih sedikit daripada tekanan tinggi.

Pesaing minyak akar wangi garut di pasaran internasional adalah akar wangi dari Haiti. Tetapi akar wangi Haiti dihargai lebih mahal daripada minyak akar wangi Garut. Hal ini sudah dibuktikan sendiri oleh Pak Ede saat berkesempatan mengunjungi daratan Eropa dalam rangka misi vetiver oil beberapa waktu yang lalu. Hal ini tentu saja karena kualitas minyak akar wangi Garut berada di bawah Haiti.

Upaya-upaya untuk mempertahankan Garut sebagai "the land of vetiver" gencar didengung-dengungkan. Karena memang hanya Garut-lah yang memproduksi komoditas ini di Indonesia. Akar wangi bukannya tidak pernah dibudidayakan di tempat lain, tetapi hasilnya tidak sebaik di Garut. Akar yang dihasilkan memang panjang-panjang tetapi rendemen minyak yang dihasilkan jauh dari harapan. Akhirnya banyak digunakan sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan. Jadi, perhatian kepada komoditas ini selayaknya dapat berkesinambungan dan bukan hanya sebagai proyek jangka pendek saja.

Maju terus, Pak Ede.

Monday, November 19, 2007

Parameter Kualitas Minyak Atsiri

Banyak yang bertanya kepada saya via email perihal maksud dari parameter-parameter kualitas minyak atsiri yang termaktub dalam SNI (standar Nasional Indonesia). Sedikit tulisan di bawah ini semoga dapat dijadikan wawasan/pengetahuan awal mengenai aspek kualitas minyak atsiri.

Beberapa parameter yang biasanya dijadikan standar untuk mengenali kualitas minyak atsiri adalah sebagai berikut :

1. Berat Jenis

Berat jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri. Nilai berat jenis minyak atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada yang sama pula. Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi.


2. Indeks Bias


Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Indeks bias minyak atsiri berhubungan erat dengan komponen-komponen yang tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Sama halnya dengan berat jenis dimana komponen penyusun minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya. Semakin banyak komponen berantai panjang seperti sesquiterpen atau komponen bergugus oksigen ikut tersuling, maka kerapatan medium minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya yang datang akan lebih sukar untuk dibiaskan. Hal ini menyebabkan indeks bias minyak lebih besar. Menurut Guenther, nilai indeks juga dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak jahe tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil.

3. Putaran optik

Sifat optik dari minyak atsiri ditentukan menggunakan alat polarimeter yang nilainya dinyatakan dengan derajat rotasi. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam cahaya yang dipolarisasikan maka memiliki sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan (dextrorotary) atau ke arah kiri (laevorotary). Pengukuran parameter ini sangat menentukan kriteria kemurnian suatu minyak atsiri.

4. Bilangan Asam

Bilangan asam menunjukkan kadar asam bebas dalam minyak atsiri. Bilangan asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak atsiri. Yaitu senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari minyak atsiri. Hal ini dapat disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara (oksigen) yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang terbentuk. Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri. Hal ini juga dapat disebabkan oleh penyulingan pada tekanan tinggi (temperatur tinggi), dimana pada kondisi tersebut kemungkinan terjadinya proses oksidasi sangat besar.

5. Kelarutan dalam Alkohol

Telah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Guenther bahwa kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Pada umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan minyak atsiri pada alkohol (biasanya alkohol 90%) maka kualitas minyak atsirinya semakin baik.


Jadi sebenarnya, parameter-parameter di atas sangat erat hubungan dengan komposisi minyak atsiri. Memang yang paling baik adalah analisis kadar masing-masing komponen secara langsung menggunakan gas chromatography atau GC-MS. Dengan menggunakan metode ini, maka dapat diketahui apakah minyak atsiri tersebut sudah dipalsukan dengan atau ditambahkan komponen-komponen tertentu (adulterasi) karena seluruh komponen dan kadarnya dapat terekam. Biasanya para pakar atau praktisi minyak atsiri yang sudah berkecimpung lama dalam dunia ini sudah bisa mengenali kualitas minyak atsiri hanya dari bau dan aromanya saja alias menggunakan kepekaan alat indra (organoleptik).

Tetapi dalam kancah bisnis minyak atsiri di Indonesia, pengukuran parameter-parameter di atas hanya dilakukan sebagai pendekatan untuk mengenali kadar komponen minyak atsiri yang diinginkan sebagai standar utama. Contohnya adalah minyak nilam dengan pathcouly alcohol (PA) sebagai parameter utama, minyak akar wangi --> vetiverol, minyak sereh wangi --> citronellal dan geraniol, minyak cengkeh --> eugenol, minyak kayu putih --> sineol, minyak kenanga/ylang-ylang --> benzil asetat, linalool, dan ester-ester lainnya, minyak massoi --> lactone, minyak jahe --> zingiberen, minyak pala --> myristisin dan sabinen, minyak cendana --> santalol, minyak jeruk purut --> citronellal dan sitral., minyak sereh dapur --> sitral.

SECARIK WANGI DI MALINGPING - KAB. LEBAK

Sabtu-Minggu (18 – 19 Nov 2007) saya ditemani rekan Awal Ramadhan (adik kelasku di Teknik Kimia ITB angkatan 2000 yang mengabdikan diri pada kayu massoi di Papua yang mungkin sebentar lagi akan jadi penyuling kayu massoi) memijakkan kaki di belahan Selatan Propinsi Banten, yaitu Malingping. Apa yang menarik di Kecamatan Malingping – Kab. Lebak, Banten? Kalau sudah masuk ke blog ini, dapat dipastikan yang menarik bagi saya bukanlah karena tempat ini santai, damai, dan jauh dari kesan "terburu-buru" seperti lazimnya kehidupan di kota-kota besar tetapi sebuah potensi besar minyak atsiri yang sudah dikembangkan oleh Perum Perhutani KPH Banten beberapa tahun silam, yaitu minyak ylang-ylang. Kecamatan Malingping memang cukup jauh dijangkau, kami menumpang bis AKAP dari Bandung menuju terminal Pakupatan-Serang lalu dilanjutkan dengan menumpang elf (sebuah angkutan umum yang dikenal sopirnya selalu ugal-ugalan dan sering ngetem) selama kurang lebih 3,5 jam. But it's no problem, yang penting happy...hehehe. Di sana kami diterima oleh Asper BKPH Malingping - Kang Avid Septiana yang sebelumnya sudah sering berkorespondensi via email (friendster tepatnya) mengenai romantika suling-menyuling ylang-ylang milik perum Perhutani ini.

Apa itu ylang-ylang? Kalau dilihat dari photonya mirip dengan kenanga yang selama ini banyak dijumpai sebagai tanaman pagar di halaman rumah. Tapi jangan salah, kedua tanaman itu berbeda. Ylang-ylang memang masih keluarga dengan kenanga. Nama latinnya saja Cananga odorata forma genuina. Tetapi ylang-ylang ini berbeda jenis dengan kenanga yang ditanam sebagai tanaman pagar baik dari sisi penampakan luarnya maupun kegunaannya. Di Indonesia sendiri dikenal dua jenis minyak atsiri yang berasal dari keluarga kenanga. Yang pertama adalah ylang-ylang oil dan yang kedua cananga oil. Cananga oil dihasilkan dari penyulingan bunga kenanga dari jenis Cananga odorata forma macrophylla. Pohon kenanga ini jauh lebih besar daripada kenanga ylang-ylang dan bisa mencapai ketinggian 30 – 35 m, sedangkan ylang-ylang 10 – 20 m saja.

Sejauh pengetahuan saya, baru Perum Perhutani lah yang mengembangkan ylang-ylang oil pada skala komersial di Indonesia. Produsen utama minyak ylang-ylang dunia adalah Madagasdar, Pulau Komoro, dan Pulau Reunion. Dahulu philipina merupakan produsen besar tetapi saat ini sudah tersusul oleh kedua negara tersebut akibat kurang baiknya sistem peremajaan kebun ylang-ylang di negara tersebut. Sedangkan daerah-daerah seperti Blitar dan Boyolali adalah penghasil cananga oil. Dari sisi harga, minyak ylang-ylang lebih mahal daripada minyak kenanga yaitu hampir dua kali lipat. Hal ini disebabkan dari sisi kualitas, kadar ester minyak ylang-ylang jauh lebih tinggi dari minyak kenanga. Dari wanginya saja, saya sudah bisa membedakan bahwa bunga ylang-ylang memiliki aroma yang lebih kuat dan lembut dibandingkan dengan bunga kenanga.

Bertanam ylang-ylang ternyata tidak sulit. Bibit bisa diperoleh dari persemaian biji maupun anakan yang terdapat di sekitar pohon induk. Jarak tanam biasanya 6 x 6 m sehingga dalam 1 ha lahan dibutuhkan sekitar 270 bibit. Dalam waktu 3-4 tahun pohon ylang-ylang sudah bisa dipanen bunganya untuk disuling. Dari sisi produktivitas apabila dipelihara dengan baik, pohon ylang-ylang rata-rata menghasilkan lebih dari 20 kg bunga per tahun dengan rendemen minyak antara 1% - 2% dengan sistem penyulingan yang baik. Jadi kalau dilakukan hitung-hitungan "bego" (baca=hitung–hitungan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor X), akan diperoleh omset sekitar (270 x 20 x 1,5% x Rp 750.000,-/kg minyak) = Rp 60.750.000,-/ha/tahun. Mmmhhh.....not bad at all.

Selagi menunggu musim panen ylang-ylang pertama semenjak ditanam, dapat pula menanam tanaman sela penghasil minyak atsiri lainnya yang usia panennya lebih singkat seperti nilam (pathcouly) dan sereh wangi (citronella), atau kemangi (basil). Kedua tanaman pertama dapat dipanen setelah 6 bulan dan selebihnya setiap 3-4 bulan sekali selama kurang lebih 3.5 tahun produktif apabila dirawat dengan sungguh-sungguh.


Monday, October 22, 2007

Nilam, dimanakah kau berada?

mmhhhh.......
Orang-orang sibuk mencari daun dan minyak nilam.
Harganya membumbung tinggi. Mau tahu berapa sekarang?
Yah.....sekarang ada di kisaran 800rb - 900rb/kg. Jadi ingat satu dekade lalu..:)
Selamat menikmati wanginya minyak nilam (bagi yang punya stok...hehe).

Sunday, August 19, 2007

Asosiasi Petani, Produsen, dan Pelaku Agrobisnis Minyak Atsiri - Jawa Barat

mmmmhhhhh...... Disingkat AP3MA-JABAR??
Makhluk apa sih itu?
Yah... kita lihat saja kiprahnya nanti apakah memberikan kemanfaatan yang baik bagi pengembangan komoditas minyak atsiri dari berbagai aspek di Propinsi Jawa Barat pada khususnya.
Yang jelas, kemarin (Kamis, 16 Agustus 2007) aku ikutan merumuskan draft AD/ART organisasi ini di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prop. Jawa Barat dan dihadiri oleh beberapa penyuling dari 5 Kabupaten di Jawa Barat. Rencananya sih mau diresmikan tanggal 28 Agustus ini. Yah.....aku sendiri tidak bisa berharap banyak dengan organisasi ini (bukan pesimis, lho). Yang penting kenal dengan banyak penyuling, wawasan bertambah, tambah teman, tambah informasi, dan bisa share pengetahuan satu sama lain.

Cengkeh di Pulau Natuna....mmmhhh...

Email dari temanku Andry Hidayat :

Pak Dosen Ferry,
Beberapa hari lalu, saat gw off.
Gw ngobrol banyak ama Doni juga Iqbal…
Mengenai minyak cengkeh ini, gw “sedikit” tertarik ):
Tapi gak didaerah Cilegon. Melainkan didaerah Kepulauan Riau.
Biarlah daerah cilegon dan sekitarnya jadi garapan Iqbal dan Doni…):

Ada teman kerja gw, kami biasa sebut orang Local (pribumi)
Mereka tinggal di Pulau Matak, Tarempa dan kepulauan sekitar Natuna.
Daerah ini awalnya adalah daerah teringgal.
Dengan adanya beberapa perusahaan minyak beroperasi disini maka sedikit demi sedikit membangunlah daerah ini. Mungkin teman2 dari ITB yang di LAPI sedikit banyak tau daerah itu.

Nach, mereka tertarik dengan pembuatan minyak cengkeh.
Ditempat mereka banyak sekali pohon cengkeh.
Kemaren malem, gw minta Iqbal buat kirimin proposal yang dari elo.
Cuma mungkin cilegon dengan daerah Matak sekitarnya berbeda, maka perhitungannyapun akan berbeda

Kalo elo juga mau, mereka berniat untuk mengundang elo buat presentasi dan lain sebagainya.
Biarlah semua biayanya ditanggung oleh mereka… Gw tau, elo paling suka “keluyuran”..Pasti elo pengen juga melihat “dunia lain” di Negeri tercinta kita ini.
Tidak cuma daerah Kuningan, P. Bunyu-Kaltim, Bungbulang-Garut, Bali , ataupun daerah2 yang elo pernah kunjungin. Siapa tau elo juga bisa nemuin daerah seperti di Machu-Picchu, Peru (seperti impian elo!!!).

Kalo oke, akan gw kasih gambarannya daerahnya.
Salam,
Andry

Tanggapan Ferry 1

Hehehehe...Tahu aja lo "selera" gw....:p
Why not, gw sih OK2 aja asal diongkosin, gw khan suka yg gretongan...:p
Malah seneng dong bisa lihat "dunia lain" di negeri tercinta ini, apalagi kalau urusannya masalah perminyakan atsiri...
Lo sendiri ditempatin di Natuna ya.Dri, coba jelasin aja mengenai daerah yg lo maksud di email.

thanks bro,
-ferry-

Tanggapan Andry 2

Nich!!!
Gambaran lokasi:
Beberapa pulau yang terdapat perkebunan cengkeh.,
- Pulau Natuna (Kabupaten)
- Pulau Midai
- Pulau Sedanau
- Pulau Selasan
- Pulau Tembelan
- Pulau Palmatak
- Pulau Tarempa
- Pulau Mubur
Bandara untuk penerbangan perusahaan minyak ada di pulau palmatak (matak).
Pulau yang terdekat dari pulau matak adalah pulau tarempa dan pulau mubur.
Makanya target proyek ini kita prioritaskan didaerah pulau matak, pulau tarempa dan pulau Mubur.

Transportasi:
Jarak perjalanan dengan kapal motor (disini disebut “pompong) adalah:
- Matak ke Tarempa : 1.5 jam
- Matak ke Mubur : 0.5 jam
- Tarempa ke Mubur : 1 jam
Notes, kecepatan pompong normal, tanpa kebut-kebutan maupun salip-salipan…J

Untuk harga pompong dengan kapasitas 1 ton Rp. 12 jutaan
Sekali jalan mengitari ketiga pulau tersebut membutuhkan 10 liter solar.

Penerangan:
- Matak : Listrik hidup dari jam 5 sore sampai dengan jam 7 pagi
- Tarempa : Listrik 24 jam
- Mubur : Gak ada listrik
Jika perlu genset disini dengan kapasitas 3 kwh harganya 5 juta.

Nah, elo coba buat proposal lagi dengan gambaran seperti itu.
So, biar teman2 gw bisa ajuin itu dana ke pemda setempat.
Ya, itung2 membangun daerah lah…
Ntar produknya “lari” ke elo semua.

Soal transportasi buat bawa peralatan dari “ sana ” biar mereka yang urus perijinannya.

Kalo sempet dan kita bisa atur waktunya, elo bisa survey lansung ke lokasi dan bisa presentasi langsung ke masyarakat.
Transportasi dan akomodasi elo, mereka bisa tanggung dari Jakarta-lokasi-jakarta lagi.
Elo juga bisa bawa teman yang jadi “anak buah” elo.
Btw, kalo dari Bandung ke Jakarta ongkos sendiri ya?!?

Kalo project ini bisa jalan lancar, siapa tau elo bisa ketemu jodoh disini….

Ada lagi data yang dibutuhkan?

Ditunggu proposalnya…

Salam,
Andry Kasep

Tanggapan Ferry 2


Dri…..
Ini proposal msh kasar bgt, terutama ekonominya karena gw blm tahu bgt kondisi real-nya. Coba lo cek dlu kalau masih ada yg kurang. Hitungan keuangannya blm gw bikin model seperti kalau mau ngajuin kredit ke bank. Masih sederhana, namanya aja gambaran awal. Gw baru bisa bikin selengkap2nya kalau udah studi dan survey langsung ke lapangan. Baru deh bisa bikin studi kelayakan selengkap2nya apakah proyek ini layak dilaksanakan atau tidak.

Kalau emang mau investasi genset, penyulingan dibikin dimana aja ngga masalah. Biaya solar utk kapal motor ngakut bahan baku sama-sama aja kok. Khan rencananya juga ambil bahan dari 3 pulau yg berdekatan itu (Palmatak, Tarempa, dan Mubur).

Terus, biaya investasinya di proposal itu belum termasuk ongkos angkut alat sulit ke natuna. Perlu diketahui, alatnya nanti itu gede bgt (diameter 1,8 m dan tinggi 2,4 m), pakai besi karbon ketebalan 5 mm. Pokoknya super berat deh. Belum lagi konsender dan alat2 lain yg di Natuna ngga ada dan perlu disediakan dari P Jawa.

Biaya operasional juga belum termasuk ongkos kirim produk ke Jawa, karena pastinya produk minyak cengkeh itu akan dijual di Jawa khan.

Kalau emang bakal dirintis sebagai proyek PEMDA, sebenarnya khan ngga usah ambil untung gede2 untuk pabrik penyulingannya, asal dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Jangan cuma proyek aja, trs habis itu ditinggalin. Atau ada masakah dikit, ditinggalin. Kalau untuk PEMDA sih yang penting untuk pengembangan masyarakat lah....hehe (ideal-nya, sih.. :p). Dalam bentuk apa??
1. Limbah daun dan tangkai cengkeh termanfaatkan à petani dapat duit tambahan dari komoditas cengkeh selain bunganya.
2. Menyerap tenaga kerja, gw perkirakan butuh (3 x 2) + 2 = 8 orang.
3. Sisa laba pengoperasian pabrik, buat pengembangan pabrik dan proyek2 lain yg sifatnya bergulir utk kesejahteraan masyarakat. (hehehe....bahasa gw dah kayak pejabat aja, nih.... :p)

Tapi kalau emang harus dibuat swasta (pakai investor pribadi), ya pastinya harus nyari untung dong...hehehe.

Gw tunggu tanggapannya.

-ferry-

Wednesday, August 01, 2007

Tanya : Minyak Nilam

Question from Joni Minggu
Salam kenal Mas Ferry,Saya Jon dari makassar dan saat ini mencoba memulai usaha minyak nilam. Saya menjalin kerjasama dengan para petani dari daerah saya, dan saat ini mereka mulai menanam nilam (sebagian sudah siap panen) dan mereka meminta saya untuk memasarkan daun nilam kering, tapi pertimbangan saya biaya transportasi ke luar sulawesi lumayan besar maka saya berpikir untuk menyediakan alat penyulingan. Saya mau membuat alat penyulingan untuk kapasitas 200 kg/batch dan sedang mencari jalur pemasaran minyak nilam.Saya mulai surfing dan ketemu sama blognya mas Ferry dari PT Pavettia dan tentunya berharap saya bisa menjalin kerjasama dalam jangka panjang dengan Mas Ferry. Apakah Mas Fer bisa membantu saya desain alat penyulingan minyak nilam sesuai kapasitas 200 kg/batch (desain teknis dan sistim kontrolnya), dan apakah Mas Fer bisa menampung hasil produksi kami nantinya. Kemudian apakah sekarang ini minyak nilam masih prospek untuk dikembangkan?
Sekian dulu Mas Fer, saya tunggu jawaban secepatnya.

Joni Minggu

Jawaban Ferry
Dear Pak Joni…
Terima kasih atas emailnya dan salam kenal kembali. Langsung saja.....
Untuk membuat unit produksi minyak nilam kapasitas 200 kg daun kering (campuran batang dan daun yang dirajang)/proses dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Membuat 2 unit penyulingan masing-masing 100 kg/proses
2. Membuat langsung 1 ketel suling ukuran besar untuk 200 kg/proses
Cara penyulingannya pun biasanya dilakukan 2 cara :
1. Sistem kukus (tanpa boiler)
2. Sistem penyulingan uap (menggunakan boiler).
Sistem kukus tentu saja lebih murah karena tidak menggunakan boiler. Untuk sistem kukus ini dengan ketel suling yang memuat 200 kg nilam/proses dengan bahan stainless steel (SS-304) 3 mm membutuhkan dana pembuatan sekitar 35 juta rupiah (termasuk ketel suling, kondensor, dan pemisah minyak), tetapi tidak termasuk pembuatan tungku pembakaran. Sedangkan sistem boiler tinggal ditambahkan saja untuk harga boiler sekitar 35 juta utk boiler yang otomatis dan lebih modern atau boiler sederhana 8 - 15 juta (tergantung desain). Keduanya dari material mild steel/carbon steel. Itu hanya contoh-contoh saja Pak Joni.

Menurut saya, untuk membuat/mendesain alat penyulingan nilam kapasitas 200 kg/proses, biayanya bisa bervariasi antara 15 juta – sekitar 100 juta. Jadi tergantung budjet yang diinginkan untuk investasi alat. Semakin besar investasinya maka alatnyapun semakin modern dan penanganannya lebih mudah/praktis.

Contoh : untuk 15 juta (ketel suling dari besi biasa/mild steel 3 mm, pendingin/kondenser stainless steel model spiral, tidak menggunakan boiler alias sistem kukus). Harga tersebut berlaku untuk di Jawa, Pak. Dan belum termasuk untuk pembuatan tungku pembakarannya.

Mungkin begini Pak Joni, saya nanti akan membantu mendesainkan alat sulingnya tergantung pada budjet yang dianggarkan. Karena seperti saya katakan tadi bahwa investasi untuk unit produksi minyak nilam ini sangat bervariatif.

Mengenai pemasaran, kebetulan di Jawa banyak yang menerima minyak nilam. Untuk masalah pemasaran akan saya bantu selama masih dipasarkan di pedagang-pedagang atsiri di Jawa. Hanya saya harus memastikan dulu kualitas minyak nilam yang ditanam di Sulawesi ini masuk spek tidak untuk diperjualbelikan di Jawa. Mungkin Pak Joni pernah mencoba untuk mengecek kualitas minyak nilam asal Sulawesi.

Salam,
-ferry-

Tanggapan Joni Minggu
terima kasih mas ferry atas tanggapannya....
Saya memulai bisnis minyak nilam ini sama seperti yang mas Ferry ceritain di blognya saat mas Ferry merintis minyak nilam dulu... kesulitan pendanaan :) Dana yang dianggarkan pun tidak gede2 amat (sktr 20 jutaan)... itupun dengan susah payah nyodorin proposal kesana kemari. Supaya biayanya murah saya ingin membuat alat suling sendiri di bengkel2 las lokal. Design kasarnya sudah saya diskusikan dengan pemilik bengkel las, tapi masalahnya belum selesai... metode pengisian air ketel. Sekali lagi mohon bantuan mas Ferry.... jika diisi dengan pompa cara manual apakah untuk mengetahui level air di ketel bisa menggunakan glass level indikator atau ada instrumen lain? Atau mas Ferry ada saran lain? Oh iya, standar spesifikasi minyak nilam yang diperdagangkan seperti apa mas? sekedar informasi daerah pengembangan nilam tempat petani2 mitra saya berada pada ketinggian 600-900 meter dpl, dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Apakah kondisi ini akan mempengaruhi kualitas minyak nilamnya?
Mohon maaf mas Ferry kalo kepanjangan, saya senang sekali atas responnya... dan terima kasih atas bantuan saran pembuatan dan kesediaan membantu dalam hal pemasarannya.

Hormat saya,
Joni Minggu

Tanggapan Ferry:
Mas Joni.....
Kalau standar spesifikasinya sih biasanya kadar PA-nya di atas 30% itu sudah cukup. Dari informasi yang saya dapatkan, nilam dari Sulawesi katanya cukup baik kok, baik ditinjau dari sisi rendemen maupun kualitasnya. Di Jawa juga banyak kok yang ditanam di ketinggian 600 - 900 dpl seperti yang Mas ceritakan. O ya, itu lokasinya di SulSel ya? Bone, Maros, Soppeng?

Mengenai level air, dapat diketahui menggunakan glass level indikator biasa untuk penyulingan sistem kukus. Sedangkan pengisian airnya dapat menggunakan pompa manual biasa. Namun alangkah lebih baik jika air yang diisikan itu adalah air kondensat yang sudah dipisahkan dari minyaknya. Karena air kondensat (biasanya berwarna keruh/berawan) itu masih mengandung sejumlah minyak atsiri yang teremulsi dalam air sehingga jika air yang dikembalikan ke ketel, minyak yang terlarut tersebut dapat di-recovery kembali.
O ya Mas Joni, harga daun nilam kering di sana berapa ya?

salam,
-ferry-

Tanya : Minyak Kulit Jeruk

Question from Reni Juliana
Dear Ferry,Salam kenal, saya membaca blog Anda isinya sangat menari. Saya mempunyai beberapa pertanyaan mengenai cara ektraksi minyak kulit jeruk
1. Apakah sudah ada SNI minyak kulit jeruk?
2. Cara penyulingan yang paling baik?
3. Titik didih minyak kulit jeruk
4. Komponen atsiri utama minyak kulit jeruk apa?
5. Boleh ga saya berkunjung ke tempat penyulingan atsiri Pak Ferry
alamat lengkapnya dimana?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih
Salam,
Reni Yuliana

Jawaban ferry
Dear Mbak Reni...
Salam kenal kembali.
Sebelumnya saya mau tanya nih. Jenis jeruknya apa? Karena ada banyak jeruk dengan karakteritik minyak atsirinya yg berbeda satu dengan lainnya. Ada petitgrain, sweet orange, bergamot, kaffir lime, lime, lemon, tangerine, grapefruit.
OK, saya jawab satu persatu ya. Saya asumsikan jeruknya adalah jeruk biasa (orange oil).

1. Setahu saya belum ada SNI utk minyak kulit jeruk karena di Indonesia sendiri produksi minyak kulit jeruk belum berkembang dengan baik. Atau msetidak2nya saya beum pernah dengar ada SNI untuk minyak kulit jeruk.
2. Berdasarkan literatur yang saya baca, dahulu minyak kulit jeruk dihasilkan melalui cara pengepresan. Tetapi menggunakan penyulingan biasa juga baik meskipun secara kualitas harus dicoba dan dianalisis telebih dahulu. Bisa digunakan penyulingan uap atau penyulingan uap-air.
3. Titik didih minyak kulit jeruk secara keseluruhan menurut saya sulit untuk diketahui karena minyak ini terkandung beberapa jenis campuran zat kimia mulai dari terpen, seskuiterpen, hingga oxygenated terpen yang masing2 memiliki titik didih berbeda. Contohnya : kandungan utama minyak kulit jeruk biasanya adalah limonene (titik didih limonene 176 oC)
4. Lihat jawaban no. 3
5. Boleh saja Mbak, mau berkunjung ke penyulingan yang mana nih? Posisi Mbak Reni dimana?

Sekian informasi yg dapat saya berikan.

Salam,
-ferry-

Tanggapan Reni
Dear Mas Ferry,
Saya berterima kasih sekali atas jawaban Mas Ferry.
Jeruk yang saya maksud adalah jeruk pontianak jenis keprok.O ya, ideal tidak kalau digunakan detilasi vakum untuk ekstraksi minyak jeruk ini.
Dan apakah Mas Ferry mempunyai alat penyuling vakum ini?
Makasih banyak Mas, atas kesediaannya apabila saya berkunjung ke penyulingannya. Posisi saya di Serpong (Situgadung Legok).
Terima kasih
Salam
Reni Yuliana

Tanggapan Ferry :
Mbak Reni...
mmmhhh.....jeruk pontianak mungkin bisa saya definisikan sebagai sweet orange oil. Karena minyak jeruk itu banyak sekali dalam dunia perdagangan minyak atsiri, misalnya petitgrain oil, tangerine oil, lime oil, lemon oil, kaffir lime oil, grapefruit oil, dan sweet orange oil. Semunya dari jenis atau genus citrus sp.

Kalau untuk penyulingan vakum, hasilnya akan lebih baik karena tentu saja minyak jeruk tersebut dalam tersuling pada temperatur yang lebih rendah. Saya sendiri belum membuat alat tersebut, namun secara prinsip sama dengan penyulingan hanya menggunakan tambahan pompa vakum untuk mempertahankan tekanan di dalam ketel suling di bawah tekanan atmosferik (1 atm). Dengan adanya tekanan rendah, tentu temperatur penguapan minyaknya juga semakin rendah. Saya tidak tahu nih background pendididikan Mbak Reni apa, mohon maaf kalau ngga nyambung. Tetapi untuk penyulingan jenis ini membutuhkan biaya investasi sedikit lebih tinggi daripada penyulingan uap/uap-air konvensional karena menambah alat berupa pompa vakum, kondensor yang lebih panjang, serta penampung kondensat yang memungkinkan terlaksananya kondisi vakum.

Gambar sketsa sederhananya, Mbak bisa lihat di bawah ini. Mudah2an bisa lebih jelas jika disertai dengan gambar.

salam,
-ferry-

Tuesday, July 24, 2007

Isolasi Eugenol dari Minyak Cengkeh (dengan reaksi soda kostik)

Selain fraksionasi vakum atau distilasi molekuler, cara ini juga banyak dipakai untuk mendapatkan eugenol murni dari minyak cengkeh. Saya pernah melakukannya baik skala lab dengan alat-alat gelas (lihat gambar di bawah ini) maupun skala semi-pilot dengan kapasitas proses 3 kg minyak cengkeh/batch.

Bahan baku tambahan hanya berupa NaOH padat yang dilarutkan, HCl 33%, dan air. Bahan baku pendukung (jika diperlukan : sodium sulfat anhidrat untuk mengikat air dalam eugenol dan bentonit aktif untuk menghasilkan eugenol yang kuning jernih). Kemurnian eugenol yang diperoleh bisa di atas 99%. Yuk....yuk kita bikin eugenol...!! Meskipun harga jualnya tidak tinggi, tapi bisa dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah minyak cengkeh. Tapi.....ada tapinya lho. Banyak eksportir/buyer tidak mau menerima eugenol, maunya cuma minyak cengkeh crude saja so...harus nyari market sendiri...hehe. Pembaca yang merasa kurang jelas mengenai proses ini, boleh bertanya.


Samigaluh – Kulonprogo – DI Yogjakarta


Mmmhhh……. ada yang pernah bepergian ke sana? Kebetulan saya berkesempatan berkunjung ke sana kemarin (23 Juli 2007).

Samigaluh adalah sebuah kecamatan yang menjadi bagian administratif dari Kab. Kulonprogo Propinsi DI Yogjakarta. Daerah ini berkontur perbukitan dengan jalan berkelok-kelok. Wajar memang karena Samigaluh terletak di daerah Perbukitan Menoreh. Mmmhh…. Jadi ingat Judul Film dan Judul Novel “Api di Bukit Menoreh” - merupakan cerita silat klasik yang berkisah tentang berdirinya Kerajaan Mataram Islam karangan HS. Mintardja.

Namun di sini saya tidak ingin bercerita tentang resensi cerita tersebut. Namanya juga “essential oil corner” ya sudah pasti yang akan dibahas adalah minyak atsiri dan romantikanya.

Apa yang menarik dari Kecamatan Samigaluh berkaitan dengan minyak atsiri? Saya berkendaraan dari Jalan Raya Wates – Yogjakarta ditemani seorang kenalan baru yang juga pengusaha minyak atsiri lalu masuk menuju Desa Kemusuk – Godean. Mmmhh.... ada yang familiar dengan nama desa ini. Yak.....benar sekali, kalau anda pernah membaca kisah mengenai Presiden RI ke-2 – Pak Harto – maka anda akan paham apa yang menarik dari Desa Kemusuk ini. Dari desanya Pak Harto ini kami terus naik ke atas menuju Kecamatan Samigaluh. Sepanjang perjalanan ke sana yang berkelok-kelok terlihat di sisi kiri dan kanan jalan hamparan perkebunan cengkeh. Aroma khas cengkeh segera tercium bercampur dengan hawa sejuk pegunungan ketika saya membuka jendela kendaraan. Nah, kisah tentang atsiri di Samigaluhpun dimulai.

Samigaluh merupakan salah satu sentra cengkeh di Yogjakarta. Tidak hanya cengkeh sebagai rempah-rempah tetapi juga minyak cengkeh yang disuling dari daun gugur dan tangkai/gagangnya. Saya mampir dan melongok sejenak pada sebuah pabrik penyulingan cengkeh yang memiliki dua buah ketel suling. Kebetulan keduanya sedang tidak berproduksi karena masih menunggu tercukupinya jumlah bahan baku. Pada musim yang belum sepenuhnya kemarau ini memang agak kesulitan mendapatkan bahan baku daun cengkeh gugur. Meskipun demikian, sebentar lagi akan panen raya cengkeh sehingga kemungkinan produksi bisa berjalan dengan lancar karena para penyuling akan menggunakan tangkai/gagang cengkeh sebagai bahan bakunya. Tapi, jika musim kemarau tiba penyulingan bisa terus berproduksi sepanjang hari. Bahkan sehari bisa melakukan sampai 2 kali batch produksi/alat. Sedangkan pada musim penghujan, paling banyak hanya berproduksi 2 batch/minggu.

Saya sempatkan untuk bercakap-cakap lebih lanjut dengan pengelola pabrik penyulingan. Beliau mengatakan bahwa di Samigaluh ini terdapat 20 penyulingan minyak cengkeh yang aktif. Sangat banyak. Sehingga untuk mendapatkan bahan baku kadang-kadang harus bersaing antara satu penyuling dengan penyuling lainnya. Itulah sebabnya saya sempat terkaget-kaget ketika mendengar informasi bahwa harga daun cengkeh gugur kering yang diterima penyuling di Samigaluh ini antara Rp 500 – 600 /kg. Sedangkan harga tangkai cengkehnya Rp 1700 – 1800/kg. Padahal saya sendiri menyuling cengkeh dengan harga beli bahan baku di bawah angka tersebut. Bagaimanapun juga dengan harga bahan baku yang demikian tinggi, para penyuling di Samigaluh berlomba-lomba untuk mendapatkan rendemen minyak setinggi mungkin untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Dan ternyata, mereka cukup sukses untuk bisa survive selama ini. Hal ini salah satunya juga didukung oleh harga jual minyak cengkeh yang menarik. Minyak daun cengkeh di tingkat tengkulak pada saat saya berkunjung dihargai Rp 40.000 /kg sedangkan harga minyak tangkainya Rp 45.000 /kg.

Berbicara masalah rendemen, pada saat musim kemarau rendemen minyak daun cengkeh gugur yang berhasil mereka dapatkan antara 2,7% - 3% dengan waktu penyulingan efektif rata-rata 8 jam. Sedangkan pada musim penghujan hanya 1.5% - 2% tetapi harga daunnya turun menjadi sekitar Rp 400/kg. Untuk tangkai cengkeh kering, mereka bisa dapatkan rendemen rata-rata 5% untuk kapasitas sekali suling 1 ton tangkai cengkeh selama 16 – 18 jam. Tenaga kerja dibayar secara variabel sesuai dengan jumlah minyak yang diperoleh. Per 1 kg minyak cengkeh yang dihasilkan, tenaga kerja produksi dibayar Rp 2000 - Rp 2500. Jika sekali menyuling mendapatkan 30 kg minyak maka ongkos tenaga kerjanya Rp 60.000 – Rp 75.000 yang dibagi-bagi berdasarkan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Sedangkan ongkos bahan bakar bisa dikatakan nihil karena mereka memanfaatkan ampas sisa penyulingan. Dari data-data primer di atas, pembaca bisa memperkirakan sendiri berapa keuntungan yang akan diperoleh penyuling untuk sekali produksi (misalnya untuk basis 1 ton daun / 1 ton tangkai).

Sayapun tak luput untuk mengamati alat-alat produksinya. Hampir semua penyulingan minyak daun cengkeh skala besar memang menggunakan sistem penyulingan uap-air (kukus) dengan bahan bakar daun ampas penyulingan dan ditambah sedikit kayu bakar (jika dirasa kurang). Ketel pertama berkapasitas 1000 kg daun cengkeh/batch dan ketel kedua sekitar 800 kg/batch. Untuk ketel pertama, diameternya sekitar 1,8 m dan tinggi total 2,5 m. Pada bagian bawah ketel dilengkapi pipa-pipa api untuk mengoptimalkan proses perpindahan panas dari api/gas cerobong menuju air di dasar ketel untuk diubah menjadi uap. Gas cerobong tersebut mengalir melalui pipa-pipa api dan selanjutnya dibuang ke udara atmosfer melalui cerobong asap. Pendingin yang digunakan berasal dari bahan aluminium yang dibuat melingkar dan tercelup pada sebuah kolam pendingin. Sedangkan pemisah minyaknya terdiri dari 7 buah drum yang disusun bertingkat untuk menghindari adanya minyak yang terbuang bersama kondensat. Tidak ada yang menurut saya istimewa tentang proses produksi minyak cengkeh di Samigaluh ini. Untuk menghasilkan rendemen minyak yang setinggi mungkin kuncinya adalah bagaimana mengupayakan proses pembakaran di tungku berlangsung stabil, perpindahan panas baik, dan api yang dihasilkan besar sehingga laju alir uap yang masuk ke tumpukan bahan baku menjadi besar. Sebab jika apinya kecil dan tidak stabil, ada beberapa kerugian yang akan dituai oleh penyuling yaitu ; rendemen rendah, waktu penyulingan lama, dan kadar eugenol rendah.

Yah.....secara teori sih mudah, secara praktek......belum tentu....hehehe. Pokoknya harus dibuktikan lah. Tantangan nih bagi para peneliti, mahasiswa, dosen (termasuk saya....:p) yang gemar menulis tapi tak pernah mengaplikasikan ide-idenya ke lapangan (mudah2an saya bukan termasuk golongan ini...). Malah, jangan-jangan lebih pintar si penyuling daripada orang-orang yang mengaku intelek tapi ngga pernah turun langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana sulit dan kompleksnya urusan minyak atsiri ini. Ingat-ingat, faktor X di lapangan jauh lebih kompleks daripada faktor variabel untuk perlakuan obyek pada suatu penelitian. Mmmmhhh... mohon maaf, ngelantur nih.

Apapun itu, Samigaluh tetaplah sebuah daerah yang kaya akan potensi sumber daya alam yang sedikit banyak turut berkontribusi terhadap kemajuan komoditas minyak atsiri Indonesia. Sebuah daerah yang sejuk dan damai. Cocok untuk belajar dan mengaplikasikan ide-ide keilmuan bagi kaum intelek terkait untuk membantu mengatasi permasalahan-permasalahan penyuling di sana baik teknis maupun non-teknis dengan jargon ”pengabdian masyarakat” supaya Samigaluh tetaplah menjadi daerah yang harum mewangi. Dan...... saya pun masih harus belajar banyak dari penyuling-penyuling ini.

NB. Unfortunately, I forgot to bring my camera when I had a trip to Samigaluh. The picture above is taken from http://www.bi.go.id/sipuk/id/lm/atsiri/produksi.asp . The picture is taken from the same location at Samigaluh.

Wednesday, July 11, 2007

Alat Suling Mini untuk Produksi Minyak Skala Kecil


Bagi yang mau nyoba-nyoba nyuling segala jenis minyak atsiri skala kecil (5 - 20 kg/batch) melakukannya dengan alat-alat mini di atas. Bisa dilakukan di belakang rumah sendiri ketika sedang tidak ada kerjaan atau liburan...hehehe. Di atas itu 2 contoh alat suling mini yang saya miliki. Yang mau nyoba-nyoba nyuling minyak tapi tidak punya alat suling mini, silakan datang ke tempat saya...:)
Alat ini juga bisa dipakai untuk percobaan mencari kondisi operasi yang tepat untuk menghasilkan rendemen minyak atsiri tertentu yang optimal. Juga bisa dipakai untuk mendapatkan beberapa sampel minyak untuk ditawarkan ke pasar terlebih dahulu sebelum diproduksi pada skala massif/besar.

Alat ini hanya butuh listrik untuk pompa sirkulasi air pendingin. Bahan bakarnya bisa minyak tanah atau gas LPG. Tergantung burner/kompornya.

Minyak kemangi (basil oil)


Question from Novi

dear Ferry.
Salam kenal, saya membaca blog anda isinya menarik.
Saya mempunyai beberapa pertanyaan mengenai tanaman
kemangi. Tanaman kemangi juga mengandung minyak
atsiri, yang ingin saya tanyakan :
1. jenis atau komposisi minyak atsirinya apa saja?
2. Bagaimana mendapatkan/cara mengekstraknya, mohon

informasinya.
Bisakah dilakukan sendiri atau adakah tempat yang

dapat melakukan ekstraksi tersebut?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

salam,
novi
Jawaban Ferry :

Dear Mbak Novi....
Salam kenal kembali. Saya mencoba menjawab sesuai dengan pengetahuan saya ya.
Minyak kemangi (basil oil) diambil dari tanaman kemangi (Ocimum basilicum ) yang juga tumbuh di Indonesia, malah sering menjadi teman makan sebagai lalapan yang mmmhhh.... nikmat..:)

1. Saya sendiri belum pernah coba-coba nyuling kemangi, namun saya punya beberapa literatur dari jurnal2 international bahwa basil oil komposisi utamanya adalah metil kavikol, linalool, geranial, neral, carryophylene, dll. Komposisi tersebut berbeda2 tergantung asal tanaman kemangi tersebut. Mbak Novi bisa baca di abstrak-abstrak jurnal yang saya kirimkan ke email Novi, diantaranya adalah :
-
Essential oil composition from twelve varieties of basil (Ocimum spp) grown in Colombia ,
Journal of Brazilian Chemical Society Vol. 14 No. 5 (2003)
-
Essential oil composition of a new chemotype of Basil (Ocimum basilicum L.) cultivating in
Turkey ,
Journal of Essential Oil - Bearing Plant Vol. 7 No. 2 (2004)
-
Volatile oil composition of sweet basil (Ocimum basilicum L.) cultivating in Turkey (Short
communication)
, Food/Nahrung Vol. 33 No. 1 (2006)
- Analysis of the essential oils of two cultivated basil (Ocimum basilicum L) from Iran , DARU
Vol. 14 No. 3 (2006)
-
Differences in Essential Oil Composition of Basil (Ocimum basilicum L.) Italian Cultivars
Related to Morphological Characteristics ,
Journal of Agricultural Food Chemistry Vol. 44 No. 12
(1996)

Dan masih banyak jurnal-jurnal lain yang berbicara tentang minyak kemangi ini tetapi tidak dapat saya attach satu-persatu.

2. Cara mendapatkan minyak kemangi sama seperti pada umumnya minyak2 atsiri yang lain yaitu proses hidrodistilasi (atau nama sehari2nya penyulingan uap). Untuk skala kecil (kurang lebih 2 - 5 kg daun kemangi/proses) saya memiliki alatnya. Dan kebetulan alat tersebut memang saya gunakan untuk percobaan penyulingan berbagai jenis minyak atsiri. Tapi kalau untuk alat-alat saya yang skala besar yang digunakan untuk penyulingan skala komersial tidak dapat digunakan karena dipakai untuk produk minyak atsiri lain (biji pala dan cengkeh) sehingga harus dilakukan pembersihan terlebih dahulu sebelum digunakan. Pun saya perkirakan jumlah bahan baku daun kemangi yang digunakan bisa 2 kwintal lebih. Jika Mbak Novi berminat, bisa disulingkan di alat saya yang kecil (bahan baku sekitar 3 kg daun basah) lalu dianalisis menggunakan GC-MS di lab-lab professional untuk mengetahui komposisi minyak kemangi yang dihasilkan tersebut. Biaya analisis menggunakan GC-MS di salah satu lab di Bandung dimana saya biasa lakukan analisis sekitar Rp 200.000 / sampel minyak. Jika Mbak Novi ingin melakukan sendiri bisa saja, hanya harus punya alat sulingnya.

Demikian, semoga bisa membantu.
-ferry-

Tanggapan Novi :
Dear Mas Ferry
Terimakasih sekali untuk jawabannya mengenai minyak
atsiri dari kemangi dan untuk alamat journalnya.
Informasinya sangat membantu saya.
Karena terus terang saya kurang mendapatkan banyak
informasi tentang minyak atsiri dan pemanfaatannya di
Indonesia, terutama minyak atsiri yang berasal dari
Indonesia (asli Indonesia). Saya tertarik untuk
melakukan penelitian tentang pestisida nabati dengan
bahan dasar tanaman asli Indonesia.
Semoga mas Ferry tidak keberatan dan masih mau
menjawab jika saya masih sering mengirimkan email
untuk bertanya.

Salam,
Novi
Dear Mas Ferry
Mas Ferry ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:
1. jika akan melakukan penyulingan, agar memperoleh
hasil yang baik (kadar minyak atsirinya) dan jumlah
yang tidak sedikit lebih baik menggunakan bahan basah
atau kering?
2. Bagaimana cara pengeringan yang tidak menyebabkan
senyawa atau bahan aktif dalam bahan tidak hilang?
apakah pengeringan di bawah sinar matahari langsung
dapat menyebabkan rusak atau hasil penyulingan tidak
baik?

Terimakasih sebelumnya,

salam

novi

Jawaban ferry :

Mbak Novi...
Dari literatur yang saya baca mengenai minyak kemangi,
pengeringan dilakukan dengan cara "kering angin" alias tidak langsung
dijemur di atas sinar matahari. Dengan cara seperti itu, rendemen yang
dihasilkan sekitar 0.4%. Mengenai kepastiannya, saya sendiri belum
pernah melakukan kajian untuk pengaruh kadar air bahan kemangi terhadap
rendemen minyaknya. Mungkin akan saya coba nanti untuk iseng-iseng.

Beberapa
minyak tertentu (dari daun2an), pengeringan dalam sinar matahari akan
mengakibatkan penurunan rendemen jika dilihat dari basis basahnya.
Misalnya sereh dapur dan sereh wangi. Malah untuk kedua daun ini
biasanya disuling dalam keadaan segar. Kalau daun nilam, biasanya ada
kering angin dan kering matahari. Misalnya : 6 jam kering matahari lalu
dikering anginkan selama 3-4 hari.

-ferry-


Minyak daun jeruk purut


















Question from Nita


Ass,
kebetulan saya sedang mengerjakan tugas akhir yang berjudul "pengaruh metode pengambilan minyak atsiri dari daun jeruk purut terhadap kandungan sitronellal dan geraniol". Nah yang igin saya tanyakan apakah hasil dari percobaan ini sesuai dengan standar export karena saya sudah cari2 tapi tidak ada standar exportnya.Bagaimana tanggapan anda terhadap hasil percobaan ini. Berikut akan saya kirimkan data dari percobaan saya. dan saya minta tolong kapada anda supaya membalas email ini diblog anda (setidaknya tampilin di blog anda) karena dosen saya ingin bukti klo ada tenggapan dari orang lain (terutama anda yang pakar dlam bidang ini) terhadap hasil percobaan ini. Sebelumnya terima kasih banyak.
Wass.

Jawaban Ferry :

Dear Nita....
Minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) dalam perdagangan internasional disebut sebagai kaffir lime oil (dari Indonesia --> kalau afrika (combava petitgrain oil) memang tidak ada standar ekpornya di Indonesia, khususnya SNI (Standar Nasional Indonesia). Sehingga untuk menentukan kualitasnya sangat sulit. Beberapa komoditas atsiri memang sudah ada SNInya (minyak pala, nilam, jahe, kemukus, sereh wangi, akar wangi, kayu putih, cengkeh, dll), tetapi karena mungkin perdagangan kaffir lime oil cukup terbatas dan sifatnya insidental maka SNInya juga belum ada.
Indonesia memang tercatat sebagai produsen kaffir lime oil, bahkan saya pernah juga menyulingnya secara komersial tetapi permintaannya sangat terbatas sehingga saya menyuling kalau ada pesanan dari eksportir saja. Dan mereka tidak mensyaratkan standar macam2. Tapi, saya yakin market minyak jeruk purut ini masih cukup terbuka kalau anda rajin-rajin mencari pasar sendiri.

BTW, saya lihat dari hasil penelitian anda kok sitronellalnya rendah sekali ya. Saya pernah dapatkan itu sitronellanya 76,7%. Karena kaffir lime oil memang salah satu minyak dengan komponen tertinggi sitronellal (selain minyak sereh wangi/citronellal oil). Ada yg pernah mengatakan bahwa kadar sitronellal-nya harus di atas 70% tetapi itu hanya standar di kalangan trader saja. Untuk resminya saya juga blm paham. Misalnya : dalam SNI tidak dinyatakan secara jelas bahwa kadar Patchouly alkohol (PA) dalam minyak nilam harus di atas 30% tetapi kalangan pedagang selalu menerapkan standar ini ketika memperjualbelikan minyak nilam. Jika PA-nya dibawah 30 maka tentunya harganya lebih rendah dibandingkan yang PA-nya di atas 30%. Atau misalnya minyak pala yang mensyaratkan kadar miristisin-nya di asts 10%.

Kalau saya boleh tahu, daun jeruk purutnya disuling basah/kering? Kalau kering, berapa kadar airnya atau berapa %penyusutannya dari keadaan basah. Ini yang disuling daun jeruk purut yang seperti angka delapan kan?

Saya tampilkan adalah harga kaffir lime oil asal Indonesia sekitar setengah tahun yang lalu. Itu sebesarnya harga yang cukup rendah karena sebelum2nya bisa mencapai 90 - 100 US$/kg skala bulk. Dan harga itu di luar negeri, kalau harga lokal (misalnya dijual ke eksportir), ya pastinya di bawah nilai itu.


Pertanyaan Arwin :
Dear A.D.A. Feryanto, salam kenal. Saya arwin mahasiswa tingkat 4-chemical engineering-UNPAR. Saya melihat blog anda sangat menarik bagi saya, dimana penelitian saya mengenai "pengaruh massa dan laju alir uap dalam distilasi uap terhadap perolehan minyak atsiri daun jeruk purut". saya ingin bertanya mengenai minyak atsiri daun jeruk purut.
1. Apakah kelebihan&kerugian dari distilasi uap, distilasi fraksionisasi, distilasi vakum terhadap perolehan minyak atsiri daun jeruk purut? Adakah syarat-syarat tertentu berkenaan dengan bahan yang akan didistilasi dari penggunaan tiap-tiap metode distilasi tersebut?
2. Buku atau literatur dari mana yang harus saya ketahui berkenaan dengan judul penelitian saya?
3. Apa kegunaan dari minyak atsiri daun jeruk purut, apakah minyak atsiri daun jeruk purut banyak dikenal hingga ke mancanegara? jika ya, dikenal dengan nama apa minyak atsiri daun jeruk purut?
4. Senyawa utama apa saja yang menjadi patokan agar minyak atsiri daun jeruk purut dapat dikatakan baik ?
sekian, trima kasih.
Best Regards,
Jawaban ferry :
Dear Arwin...
Langung saja ya...
1. Arwin, untuk penjelasan no 1 sebaiknya anda mengulas lebih lanjut pengertian masing-masing proses yang disebutkan itu supaya tidak rancu. Saya rekomendasikan untuk membaca buku-buku tentang minyak atsiri di bawah ini untuk memberikan pemahaman lebih lanjut perihal apa itu distilasi uap, fraksionasi, dan dan distilasi vakum.
2. Tidak ada buku yang secara spesifik membahas tentang penyulingan jeruk purut, kecuali anda mencarinya ke berbagai perpustakaan di kampus-kampus untuk mencari laporan penelitian/skripsi yang berkaitan dengan judul anda. Tetapi buku yang banyak mengulas tentang teknik penyulingan misalnya :
- Ernest Guenther "The Essential Oil Vol. 1" yang terjemahannya juga sudah ada dengan judul "Minyak atsiri Vol. 1"
- S Ketaren "Pengantar Teknologi Minyak Atsiri"
3. Dalam perdagangan international, minyak jeruk purut dikenal dengan nama "kaffir lime oil". Kegunaannya sama seperti pada umumnya minyak atsiri, yaitu flavor and fragrance.
4. Silakan baca kembali ulasan saya di blog mengenai minyak jeruk purut.
Semoga berkenan,

-ferry-

Pertanyaan Kurnia:
Pa kabar mas ferry,
saya ingin bertanya tentang peluang bisnis daun jeruk karena di daerah saya (batusangkar - sumatera barat) mulai banyak petani yg menanam daun jeruk.(jenis daun jeruk di kampung saya seperti angka delapan). Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan :
1. mana yg lebih menguntungkan? menjual daun atau menjual minyaknya
2. berapa harga daun jeruk purut per kg? (di desa saya di beli tengkulak Rp.6000-Rp.7000 per kg)
3. berapa Kg daun diperlukan untuk menghasilkan 1 kg minyak atsirinya?
4. kemana pemasaran daun jeruk purut tersebut?
terima kasih atas jawabannya
Jawaban Ferry:
Dear Mas Kurnia…
Minyak daun jeruk purut itu belum termasuk jenis minyak atsiri yang belum familiar di Indonesia seperti nilam, pala, cengkeh, akar wangi, jahe yang pasarnya sudah stabil dan rutin baik dari tingkat pedagang pengumpul, agen, maupun eksportir. Tetapi jangan khawatir, pasar untuk minyak daun jeruk masih ada kok. Bisnis minyak atsiri kalau kita tidak terlibat langsung dan berkelana langsung untuk mencari pasar, alhasil tidak akan dapat menemukan market yang kita inginkan. Jadi ya memang harus punya sample minyaknya kemudian giat menghubungi para pelaku bisnis atsiri untuk mendapatkan pasar. Banyak tersedia di internet kok para pelaku bisnis atsiri itu. Ya itung2 sekalian melebarkan jaringan dan networking. Tetapi ya itu tadi, Mas Kurnia selayaknya sudah punya sample minyaknya. Dalam bisnis minyak atsiri (terutama minyak2 yang kurang familiar) sangat sulit untuk mendapatkan informasi pasar yang baik apabila kita memiliki sample produk yang akan ditawarkan.

Menurut saya harganya daunnya cukup mahal. Kalau benar harganya seperti yang Mas sebutkan itu, mungkin lebih baik menjual daunnya saja. Kami pernah menyuling minyak daun jeruk purut dan pada waktu itu (tahun 2004 atau 2005) saya mendapatkan dengan harga Rp 2000 – Rp 2500/kg di tempat penyulingan. Tingkat rendemen minyak sekitar 0,4 – 0,8% tergantung pada kualitas daun + batang2 yang terikut di dalamnya. Jadi bisa diestimasi berapa kira2 bahan baku yang diperlukan untuk mendapatkan 1 kg minyak atsirinya.

Demikian penjelasan saya. Semoga berkenan.
Salam,
-ferry-


Saturday, July 07, 2007

Menjernihkan Minyak Cengkeh Hitam

Pernah ada yang tanya begini sama saya....
Minyak cengkeh sebagian besar warnanya hitam (lihat gambar) karena disuling menggunakan ketel dari besi karbon biasa, begitu pula dengan kondensernya. Karena banyak terkontaminasi logam Fe dalam besi tersebut, makanya minyaknya jadi hitam. Sedikit saja (dalam takaran ppm) dalam minyak atsiri mengandung ion logam Fe, maka perubahan warna terjadi sangat signifikan. Terus bagaimana cara menjernihkannya??

Sebenarnya ada banyak cara yg intinya adalah bagaimana menarik (atau istilah kerennya meng-absorp) ion Fe tersebut dalam minyak, diantaranya :
- menambahkan bubuhan zat yg berfungsi chelating agent seperti asam sitrat, asam oksalat, EDTA, NTA, asam tartarat, dll) dengan konsentrasi tertentu.
- menambahkan adsorben2 komersial untuk mengikat Fe seperti karbon aktif, zeolit, atau bentonit aktif.

Gambar minyak cengkeh jernih di atas itu saya hasilkan dengan menambahkan bentonit aktif dari 5 - 15% ke dalam minyak cengkeh hitam, lalu dipanaskan sampai suhu sekitar 80-90 C dan diaduk selama 30 menit. Hasilnya kemudian disaring. Secara visual hasilnya seperti gambar di atas, kadar eugenol naik 2 - 3%. Tetapi minyak yang hilang sekitar 5 - 10% karena penguapan selama pemanasan dan penyaringan tidak sempurna sehingga sebagian minyak masih ada dalam bentonit. Jika harga minyak cengkeh jernih jauh di atas minyak cengkeh hitam, maka......... penjernihan minyak ini akan sangat memberikan nilam tambah yg cukup berarti. Tetapi jika tidak ada perubahan harga atau kenaikannya tidak signifikan. Ngapain gw capek-capek menjernihkan....hehe. Sebuah usaha perbaikan kualitas yang tidak dihargai sama sekali...:)

Nanti deh saya buatkan analisis ekonomi untuk penjernihan. Yang jelas, biaya pemanasannya bisa gratis lho. Lho kok bisa?? Kita coba terapkan konsep integrasi energi dalam industri kecil menengah, meskipun tambah sedikit biaya investasi. Eittss...... ngga cuma industri besar macam industri petrokimia aja yang menerapkan konsep ini. Industri kecil juga bisa kok...:).

Tanya minyak atsiri (teori)

Taken from : milis teknik-kimia@yahoogroups.com

Pertanyaan dari : pisctinxsy@yahoo. com

salam semuanya,
kebetulan saya lagi research mengenai minyak atsiri dari kayu manis
dan dari literatur yg saya baca dari buku ketaren mengatakan bahwa
"Lama perendaman kulit di dalam larutan garam dapur berpengaruh sangat
nyata terhadap kadar minyak kayu manis yang diperoleh dari
penyulingan. Kadar minyak kulit kayu manis yang direndam dalam larutan
garam dapur lebih besar daripada kulit kayu manis tanpa perendaman.
Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena partikel garam yang
menempel pada permukaan kulit kayu manis, sehingga menyebabkan
kenaikan suhu pada proses penyulingan, dan sebagian oleoresin akan
tersuling. Faktor lain adalah pengaruh ion Na+ yang dapat mengikat
minyak dan menghambat proses penguapan."

mungkin temen2 (khususnya pak ferry yg ahli dl bidang essential oil)
bisa memberikan pencerahan mengenai argumen diatas????
sebelumnya terima kasih.

regards
martin (ms)

Jawaban Ferry :

Dear Martin...
Terima kasih untuk menyebut saya pakar....hehehe. Jadi terasa terbebani nih.

Kalau menurut saya, penambahan garam dan akhirnya menempel di permukaan kulit manis tidak berpengaruh terhadap perubahan suhu. Kenapa? Suhu di dalam penyulingan besar kecilnya tergantung pada temperatur steam yang digunakan. Kalau pakai steam 1 bar (jenuh) ya tentu saja suhunya sekitar 100oC, kalau 2 bar ya sekitar 121oC, dan seterusnya. Ngga mungkin khan kalau steamnya saja temperaturnya cuma, let's say 100oC tetapi di dalamnya terjadi kenaikan suhu katakanlah sampai 120oC. Salah-salah nanti menyalahi Hukum Termodinamika ke 2 ...hehe. Sama seperti kita mau memanaskan suatu aliran sampai suhu 120oC menggunakan steam jenuh 1 bar. Ya ngga akan mungkin terjadi kenaikan sampai 120oC.

Terus pengaruh ion Na+ yang mengikat minyak sehingga menghambat proses penguapan. lho kok bisa? Bukannya karena direndam oleh larutan garam maka rendemennya menjadi lebih baik? Itu artinya proses penguapan minyak tidak terhambat dong.

Lalu apa alasan yang lebih logis? Ini menurut logika saya, lho......
Perendaman kulit manis dalam larutan garam menyebabkan terjadinya proses difusi garam ke dalam dinding sel bahan tanaman (dalam hal ini kulit manis). Akibat adanya proses difusi ini, pori2 dinding sel akan membesar dan ada kemungkinan sedikit terpecah. Nah, minyak atsiri itu letaknya terjebak di dalam dinding sel tumbuhan (makanya kalau mau nyuling minyak atsiri dari rempah2 khususnya biasanya harus digerus dlu biar minyak atsiri cepat keluar dan rendemnenya baik). Pembesaran/pemecaha n pori2 tersebut akan mempermudah proses difusi uap air masuk ke dalam bahan tanaman sehingga proses hidrodifusi (konsep dasar pada penyulingan minyak atsiri) semakin cepat dan mudah. Dalam dunia penyulingan minyak atsiri dikenal prinsip distilasi tak saling larut. Mohon dibedakan dengan prinsip distilasi saling larut seperti distilasi etanol-air, metanol-air, etilen-propylen dll.
Pertanyaan mendasar, kalau kita nyuling minyak atsiri dengan uap 1 bar (100oC) sedangkan komponen2 di dalam minyak atsiri itu titik didihnya tingi-tinggi. paling rendah biasanya a-pinen, itupun titik didihnya sudah 156-157oC. Lho kok bisa minyak atsiri ikutan menguap?? Prinsip distilasi tak saling larut menjelaskan fenomena itu semua.

Apalagi aplikasi larutan NaCl ini dalam bidang minyak atsiri ini? Pernah jalan2 ke penyulingan minyak atsiri?? Coba perhatikan warna air kondensatnya? Putih kan? Itu karena ada sebagian minyak atsiri yang tersuspensi di dalam air. Penambahan garam dapat memperkecil kelarutan minyak di dalam air sehingga minyak yg tersusoensi itu dapat dipisahkan. Tetapi tidak banyak yg mengaplikasikan hal ini. Kemungkinan karena agak repot menampung kondesatnya yg sedemikian banyaknya, mencampurnya dengan garam, mengaduk2, lalu mendiamkannya dalam waktu cukup lama. Dan......dapat minyak hasil recovery-nya ngga seberapa.... hehe.

Mudah2an bisa jelas....
Mungkin ada sanggahan sehingga bisa menambah wacana diskusi kita.

salam,
-ferry-

Siapa yang mau menyuling minyak daun/pangkang cengkeh….?? (Bag. 1)

Kali ini saya pengen berceloteh sepotong-sepotong, ya. Mungkin akan ada sekitar 4 – 5 bagian. Warning…. tulisan ini tidak menggunakan bahan ilmiah dan Bahasa Indonesia sesuai EYD…hehe.

Apa syaratnya kalau mau menyuling daun cengkeh?

- Yang jelas ya....harus dekat dengan perkebunan cengkeh. Yah.... paling tidak dalam radius 15 km secara kumulasi terdapat sekitar 30-an ha tanaman cengkeh untuk menjamin produksi berlangsung secara kontinu karena bahan bakunya lancar. Daun cengkeh tidak mungkin diambil dari jarak jauh karena selain daunnya berharga murah, daun cengkeh juga bersifat kamba alias volume per satuan beratnya besar sekali. So....transportnya itu............nggak kuaaaaattt!!

- Menyediakan lahan sekitar 500 m2 untuk keperluan peralatan produksi, gudang minyak dan bahan baku, gudang kayu bakar, tempat duduk2 operatornya, kolam pendingin. Kalau bisa sih lahan produksinya itu di dekat sumber alir mengalir, misalnya saluran irigasi atau sungai/kali kecil supaya investasi untuk keperluan pendinginan tidak terlalu besar.

Gambaran ekonomi kasarnya gimana ya??

Mari kita bahas satu-satu dulu.

- harga daun cengkeh gugur itu bervariasi tergantung daerah, tetapi masih dalam kisaran Rp 300 – Rp 400 / kg. Sedangkan harga pangkang keringnya antara Rp 800 – Rp 1300 / kg.

- Rendemen daun cengkeh gugur kualitas baik bisa mencapai 2,5 – 3% (komersial). Kalau skala lab (kecil) saya pernah mencapai hampir 4% sih...hehe. Tapi kalau kualitas buruk, wah....bisa drop sampai cuma 1 – 1.5% saja. Kalau sudah gini,rugi deh bandar!! Sedangkan pangkangnya memiliki rendemen 4 – 6%.

- Harga minyak daun cengkeh di tingkat tengkulak/agen eksportir berada pada kisaran Rp 33.000 – Rp 38.000 / kg. Sedangkan minyak pangkangnya lebih tinggi Rp 3000 – Rp 5000 /kg dari minyak daunnya. Ini harga tergantung kadar eugenolnya juga, lho....:)

- Investasi?? Ini sebenarnya tergantung pada budjet yang dimiliki calon pengusaha, kapasitas produksi/bacth dan tingkat kemewahan pabrik penyulingannya....hehe. Kalau mau murah meriah, dengan dana 70-an juta bisa kok membuat penyulingan minyak cengkeh. Itu sudah termasuk alat-alat produksi, bangunan sederhana, tungku pembakaran, sistem pendinginan, sewa lahan, dan modal kerja selama 1 bulan. Tapi kalau mau lebih baik, bisa menyediakan dana di atas 100 juta . Bagaimana kalau cuma 50 juta? Mmmhh......bisa-bisa saja kok, tapi terpaksa kita harus berhitung-hitung utk efisiensi dan menerapkan kebijakan uang ketat....hehehe.

- Ini gambaran umum untuk biaya operasional : gaji operator per batch 2 – 3 orang dengan sistem borongan dengan biaya Rp 20.000 – Rp 35.000 /orang/batch. Bahan bakar (jika menggunakan kayu bakar) Rp 30.000 – Rp 70.000 /batch. Biaya listrik kita patok Rp 2000 / batch. Biaya lain-lain,misalnya komunikasi (Rp 100.000 / bulan), operasional kantor (Rp 50.000 /bulan, pemeliharaan alat (Rp 100.000 /bulan), transportasi/bhn bakar operasional kendaraan (Rp 500.000 – Rp 1.000.000 /bulan. Kalau yang ini tergantung tingkat mobilitas kendaraannya), gaji pengawas produksi (Rp 800.000 /bulan), biaya lain-lain (tak terduga) misalnya "dipalak" aparat (kelurahan, kepolisian, koramil, dll) dengan dalih macam-macam dan nyumbang ini dan itu utk keperluan warga setempat (Rp 150.000 /bulan). Hampir semua aspek biaya disebutkan pada rentang nominal tertentu karena memang tidak sama antara satu daerah dengan daerah lainnya.

- Mau tahu analisis ekonomi lengkap ala perbankan dan studi kasus keekonomian sebuah penyulingan minyak cengkeh? Tunggu ya bagian-bagian tulisan ini selanjutnya.

Bersambung ya.........:)

Next akan kita bahas sistem produksi dan mekanisme penyediaan bahan baku.