Wednesday, December 16, 2009

Training Bisnis Minyak Atsiri Gel. 6 (12-13 Desember 2009)

Pada tanggal 12-13 Desember 2009 lalu telah diselenggarakan "Training Pengembangan Bisnis Budidaya dan Penyulingan Minyak Atsiri Gel. 6" di Bandung dan Subang. Training diikuti oleh 25 peserta yg tersebar dari beberapa propinsi di Indonesia. Semoga memberikan wawasan selengkap-lengkapnya mengenai bisnis minyak atsiri. Mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan-kekurangan.

1. Memamerkan aneka jenis minyak atsiri dan bahan bakunya
2. Sesi “Kendala Teknis dalam Merintis Bisnis Minyak Atsiri” oleh Muhammad Syauqi
3. Sesi “Produksi Minyak Atsiri dengan Teknik Penyulingan” oleh A.D.A. Feryanto
4. Suasana trainin
g hari-1 di Hotel Patrajasa – Bandung

5. Selamat datang peserta training di Desa Cipancar, Serangpanjang, Kab. Subang
6. Memperhatikan satu-persatu jenis tanaman atsiri
7. Mejeng sejenak di kebun sereh wangi
8. Suasana training di lokasi penyulingan

Thursday, November 19, 2009

Pelatihan Bisnis MINYAK ATSIRI Gel. VI (12-13 Desember 2009)

Download Brosur Pelatihan : KLIK DISINI
klik FREE USER, lalu klik icon DOWNLOAD. File dalam bentuk pdf.

Dear rekan-rekan..

Bersama ini kami informasikan bahwa "Pelatihan Budidaya dan Penyulingan Minyak Atsiri, Gel. 6" akan kami selenggarakan pada tanggal 12-13 Desember 2009 bertempat di Bandung (hari-1) dan Subang (hari-2).

Adapun materi yg akan disampaikan mencakup:
1. Pengetahuan/wawasan umum minyak atsiri
2. Kendala pengembangan bisnis minyak atsiri
3. Teknik pemasaran minyak atsiri
4. Teknik produksi minyak atsiri dgn proses penyulingan
5. Studi kelayakan bisnis minyak atsiri
6. Teknik pembibitan dan budidaya nilam dan sereh wangi sistem organik
7. Teknik pembuatan pupuk organik padat dan cair serta pestisida nabati
8. Praktek penyulingan (sereh wangi, pala, nilam)

Biaya Pelatihan : Rp 1.300.000,- (termasuk training kit, makan siang 2x, snack, transportasi bandung-subang PP, bundel artikel minyak atsiri)

Informasi lebih lanjut, hub. Rijal (085624931119) atau email: training_atsiri@yahoo.com

Program training dan magang di penyulingan minyak pala

Pada tanggal 17 – 21 Desember 2009 (saat tulisan ini di-upload kegiatan masih berlangsung) di pabrik penyulingan minyak pala, Ciawi – Bogor diselenggarakan kegiatan magang dan training bekerjasama dengan BAPPEDA Kabupaten Fak-Fak, Papua Barat berkaitan dengan usaha dan produksi minyak pala. BAPPEDA Kab. Fak-Fak mendapatkan hibah alat penyulingan minyak pala dan sedang mempersiapkan SDM-SDM untuk mengoperasikan pabrik penyulingan minyak pala tersebut sehingga beberapa diantaranya dikirim untuk magang di tempat kami.

Pada kegiatan tersebut, para peserta magang dapat mengamati bahkan melakukan secara langsung proses produksi minyak pala dari awal sampai akhir yang didampingi oleh para operator kami. Selain itu juga diberikan secara detail beberapa materi seperti :
- Bahan baku minyak pala beserta kriterianya
- Proses produksi minyak pala

- Analisis minyak pala
- Pemasaran minyak pala
- Studi kelayakan bisnis minyak pala
Serta hal-hal teknis lainnya berkaitan dengan bisnis minyak pala secar
a nyata, dan rasional.

Bagi instansi-instansi pemerintahan daerah, LSM/NGO, maupun perusahaan-perusahan nasional/multinasional melalui program CSR-nya yang berkehendak melakukan kerjasama dengan kami sehubungan dengan berbagai aspek dalam usaha minyak atsiri, silakan menghubungi kami (Ferry – 08111100720). Kerjasama dalam hal penyiapan SDM-SDM minyak atsiri ini dapat dilakukan dalam bentuk:

- Program magang di pabrik penyulingan minyak pala, nilam, cengkeh, maupun sereh wangi.
- Pelatihan budidaya beberapa komoditas minyak atsiri (terutama nilam dan sereh wangi), mulai dari pembibitan hingga pemanenan
- In-house training

Wednesday, November 18, 2009

Top 20 Essential Oils (in the world)

Berikut 20 teratas penggunaan terbanyak minyak atsiri di dunia versi Majalah Parfumer & Flavorist. Cetak tebal = minyak atsiri yg diproduksi di Indonesia,

1. Orange (51,000 ton)
2. Cornmint (32,000 ton)
3. Lemon (9,200 ton)
4. Eucalyptus (4,000 ton)
5. Peppermint (3,300 ton)
6. Citronella (1,800 ton)
7. Clove Leaf (1,800 ton)
8. Chinese Sassafras (1,800 ton)
9. Lime distilled (1,800 ton)
10. Lavandin (1,300 ton)
11. Patchouli (1,200 ton)
12. Scotch Spearmint (1,040 ton)
13. Eucalyptus citriodora (1,000 ton)
14. Chinese Cedarwood (800 ton)
15. Litsea Cubeba (760 ton)
16. Native Spearmint (750 ton)
17. Texas Cedarwood (550 ton)
18. Star Anise (500 ton)
19. Mandarin (460 ton)
20. Virginia Cedarwood (300 ton)

(Approximate volumes for 2007)
Source: Perfumer & Flavorist vol 34 January 2009

Friday, November 13, 2009

Minyak Atsiri dan PT. JASAMARGA

Lho apa gerangan hubungannya? Jalan tol?? Minyak atsiri??

Dalam perjalanan menuju Jakarta dari Bandung via tol Cipularang, seraya menyaksikan pemandangan di luar kendaraan pada musim pancaroba ini, tampak sedikit pemandangan yang membuat pikiran saya mengawang-awang sejenak. Bukan dalam skenario yang menunjukkan ohh.. indahnya alam pemandangan di luar sana yang mulai sedikit menghijau diterpa cubitan mesra sang rintik hujan pembawa kesegaran alami. Juga bukan pada irama seorang lelaki tua yang ringkih namun tetap piawai mencangkul centi demi centi tanah untuk sebidang tanaman singkong penambal hidup.

Kalau tulisan saya sudah masuk blog ini, tentu saja nuansa minyak atsiri senantiasa membelai awang-awang itu. Begini ceritanya, saya melihat deretan pagar-pagar sepanjang jalan tol cipularang (dengan panjang sekitar 50 km) sebagai batas tanah antara milik (mungkin) masyarakat dengan milik PT. JASAMARGA. Jarak antara batas terluar sisi jalan tol (yang diaspal) dengan pagar-pagar tersebut cukup lebar. Memang jaraknya bervariasi tergantung kontur tanah dan kondisi lahannya. Mungkin antara 10 m – 20 m, tapi kadang-kadang juga bisa lebih dari 20 m. Konturnya ada yang rata, landai, bahkan banyak juga yang sangat curam. Sebagian besar ditumbuhi oleh alang-alang, tanaman-tanaman perdu, bahkan hanya sekedar semak-semak yang tumbuh dengan sendirinya. Adapula tanaman-tanaman keras baik yang sengaja ditanam untuk penghijauan maupun yang sudah ada di sana sebelum pembangunan jalan tol yang menurut saya cukup spektakuler ini. Namun sepanjang pengamatan saya, sebagian besar lahan tersebut cukup terbuka dan kurang termanfaatkan secara maksimal baik dari sisi estetika maupun komersial.

Waktu itu saya berfikir, mungkin tidak ya kalau lahan-lahan kosong di sisi jalan tol tersebut (masih dalam lokasi tanah milik PT. JASAMARGA) ditanami komoditas minyak atsiri? Kalau mungkin, tanaman apa gerangan? Meskipun saya bukan karyawan atau pejabat JASAMARGA, boleh dong ikut mikirin sedikit…hehe. Sebisa mungkin komoditas atsiri tersebut mendatangkan keuntungan bagi si empunya lahan (meskipun tidak harus dalam bentuk finansial) maupun mendatangkan pekerjaan sampingan bagi penduduk sekitar lahan tersebut untuk menambah kocek mereka.

Kalau melihat kontur tanah curam, maka tentu saja daerah tersebut rawan terjadinya erosi. Bukan tidak mungkin pula suatu saat akan menimbulkan kelongsoran. Titik pemikiran saya dimulai dari fenomena tersebut, tanaman minyak atsiri apa yang bisa berfungsi sebagai penahan erosi. Dari hasil membaca-baca literatur dan diskusi dengan kawan-kawan ternyata tanaman akar wangi dan sereh wangi bisa berfungsi sebagai penahan erosi. Di antara kedua tanaman tersebut, saya lebih berpihak kepada sereh wangi. Upss… bukan karena kami memproduksi dan berkebun sereh wangi, lho.

Jika tanaman tersebut ingin difungsikan juga sebagai lahan bisnis komersial dan memberikan pekerjaan bagi penduduk sekitar secara berkelanjutan, maka sereh wangilah pilihannya. Ada beberapa argumentasi berkaitan dengan hal ini.

1. Daya penahan erosi akar wangi disinyalir memang lebih baik dari sereh wangi karena sistem perakarannya lebih kuat dan lebih dalam menyusur tanah. Tetapi apabila akan diproduksi minyak atsiri akar wangi, maka tanaman tersebut harus dicabut dari tanah mengingat bagian akarnya yang harus disuling. Sehingga keberlangsung hidup tanaman akar wangi tersebut akan terhenti. Artinya harus dilakukan penanaman kembali setiap 1 – 1.5 tahun sekali untuk mendapatkan keuntungan serupa.

2. Waktu tumbuh tanaman akar wangi lebih lama untuk dapat menimbulkan perakaran yang baik guna menahan erosi.

3. Sereh wangi yang disuling adalah daunnya. Daunnya mulai dipangkas pada umur 6 bulan setelah mulai ditanam dan setelah itu setiap 2-3 bulan sekali. Sehingga sistem seperti ini tidak memutus daur kehidupan sereh wangi. Setiap dipangkas daunnya, dia akan tumbuh kembali dan tumbuh kembali tanpa harus dilakukan penanaman ulang. Akarnya pun akan semakin kuat mencengkeram dan menjalar di dalam tanah.

4. Menurut rekan saya seorang praktisi yang sudah lama mengembangkan tanaman sereh wangi, dengan sistem panen seperti di atas usia produktif tanaman ini bisa mencapai 5 – 10 tahun. Setelah itu baru dilakukan peremajaan. Usia produktif yang jauh lebih lama daripada tanaman akar wangi.

Secara finansial, mari kita berandai-andai dengan hitung-hitungan sederhana saja. Apabila setiap 6 m (kalau 2 sisi kanan dan kiri maka menjadi 12 m) lahan kosong (6 m ini dihitung dari pagar pembatas lahan, atau disesuaikan dengan kebutuhan penahanan erosi tadi), maka setiap KM di kedua sisi jalan tol ini akan ditumbuhi sekitar 14.000 batang sereh wangi dengan asumsi jarak tanaman 1 x 1 m. Kalau lebih rapat lagi misalnya 80 x 80 cm maka populasinya akan lebih banyak lagi. Nah, jika 50 KM kedua sisi jalan tol tersebut ditanami sereh wangi, maka akan terdapat 700.000 tanaman. Dengan asumsi 1 tanaman akan menghasilkan 1 kg daun segar, maka setiap kali panen akan menghasilkan 600 ton bahan baku segar yang ekivalen dengan 4.9 – 5.6 ton minyak sereh wangi (rendemen minyak 0.7 – 0.8% basis basah). Jumlah ini setara dengan Rp 392.000.000,- s/d Rp 448.000.000,- per 2-3 bulan sekali. Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) sekitar Rp 50.000,- per kg minyak maka keuntungan bersih yang akan diperoleh sekitar Rp 150jt – Rp 170jt per 2-3 bulan. Memang jumlah ini sangat sangat kecil bagi perusahaan sekelas JASAMARGA. Tetapi JASAMARGA dapat mengambil keuntungan dari community development dengan memberdayakan masyarakat sekitar maupun dari kelestarian lahan akibat terhambatnya proses erosi tanah akibat kehadiran tanaman sereh wangi ini.

Untuk menambah pemasukan, di sisi-sisi jalan tol juga bisa ditanami aneka tanaman keras minyak atsiri yang pemasarannya tidak terlalu sulit. Sebut saja tanaman pala, ylang-ylang, kenanga, atau bahkan kayu putih.

Tentu gagasan di atas masih sangat mentah. Ini khan cuma sekedar mengawang-awang sepanjang selintasan perjalanan…hehe. Banyak hal-hal teknis yang perlu dikaji dan dipelajari untuk mewujudkan gagasan ini. Terutama berkaitan dengan pelayanan terhadap pengguna jasa jalan tol sebagai bisnis utama JASAMARGA. Apakah dengan adanya aktivitas ini akan mengganggu kelancaran berlalu lintas atau tidak, terutama pada saat panen sereh wangi yang membutuhkan banyak orang juga sistem transportasi untuk mengangkut hasil panen ke pabrik penyulingan terdekat. Menurut hitungan saya setidaknya dibutuhkan 4 ketel penyulingan (yang pastinya letaknya harus terpisah untuk efektivitas pengangkutan) kapasitas 1 ton sekali masak. Nah, pabriknya mau di mana saja itu supaya simpel dan efisien khan perlu dipelajari juga..hehe.

Sunday, November 08, 2009

International Seminar on Essential Oil (ISEO) 2009

Pada tanggal 26-28 Oktober 2009 lalu telah diselenggarakan International Seminar on Essential Oil 2009 oleh Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah – Departemen Perindustrian RI di IPB International Convention Center – Bogor. Seminar international ini merupakan kali kedua diselenggarakan (pertama kali di Jakarta pada tahun 2007) dan diagendakan sebagai event 2 tahunan.

ISEO 2009 yang bertemakan “Creating Sustainable Business in Essential Oil Through Partnership” mengetengahkan beberapa makalah dari keynote speaker baik dalam maupun luar negeri, yaitu:

1.Best Practices of Essential Oil Production System, oleh K. Vijayakumar (Vigirom and Co. – India)
2.Perspective on Essential Oil Derivatives Industry in Indonesia, oleh Robby Gunawan (PT. Indesso Aroma – Indonesia)
3.Importance of Producer Organization in Essential Oil Business, oleh Thierry Duclos (European Federation of Essential Oil)
4.Cluster Approach on Development Indonesian Essential Oil, oleh Meika S Rusli (Dewan Atsiri Indonesia)
5.New Creative Essential Oil Products and Application, oleh Nurliani Bermawie (Balitro – Bogor)
6.Standard and Quality Requirement for Essential Oil, oleh Pierre Ruch (Firmenich – Prancis)

Disamping 6 makalah sesi pleno di atas, terdapat sekitar 20 makalah/tulisan karya peneliti, mahasiswa, dan praktisi minyak atsiri tanah air dalam sesi pararel maupun makalah poster.

Selain kegiatan indoor, juga diadakan kegiatan outdoor berupa field trip (kunjungan lapangan) ke penyulingan minyak nilam (lokasi percontohan program cultiva untuk komoditas nilam – Dewan Atsiri Indonesia) dan penyulingan minyak sereh wangi. Keduanya berada di Kabupaten Kuningan – Jawa Barat.

Di sela-sela kegiatan seminar, para peserta dapat cuci mata sejenak melihat-lihat pameran minyak atsiri yang diikuti oleh para eksportir, produsen, lembaga penelitian, perwakilan IKM beberapa kabupaten, dan perusahaan pengguna minyak atsiri.
Pada kegiatan tersebut, saya lebih banyak bercengkerama dengan teman-teman penyuling maupun pelaku bisnis minyak atsiri lainnya. Mereka datang dari berbagai daerah dengan berbagai komoditas minyak atsiri yang berbeda sebagai bahan studi banding dan tentu saja media pembelajaran bagi saya pribadi untuk menambah wawasan, ilmu, dan pengetahuan-pengetahuan praktis minyak atsiri.

Sesuai dengan temanya, diharapkan bahwa dengan program kemitraan yang baik dan saling menguntungkan antara petani, produsen, pedagang, dan eksportir maka akan tercipta iklim usaha minyak atsiri yang kondusif dan berkelanjutan.

Sebenarnya saya ingin share makalah-makalah ISEO 2009 di blog ini untuk rekan-rekan peminat minyak atsiri yang belum berkesempatan menghadiri kegiatan ini, tapi mengingat saya tidak memiliki wewenang dan belum meminta izin untuk menyebarkannya dari si empunya acara, maka kita tunggu saja release langsung dari website Dewan Atsiri Indonesia.

Perihal Produk-produk Turunan Crude Essential Oil

Beberapa waktu lalu saat saya menghadiri undangan (thanks untuk Dewan Atsiri Indonesia-DAI atas undangannya) untuk mengikuti ISEO 2009 (International Seminar on Essential Oil) yang diselenggarakan oleh Departemen Perindustrian RI di Bogor, dipresentasikan sebuah makalah pada sesi panel yang dibawakan oleh salah satu keynote speaker Bapak Robby Gunawan (Predir PT. Indesso Aroma). Pemaparan yang bertajuk “Perspective on Essential Oil Derivatives Industry in Indonesia” cukup menarik perhatian saya. Pertama, selain karena Pak Robby sendiri merupakan orang nomor satu dari perusahaan aroma terkemuka di Indonesia dimana produknya adalah turunan-turunan minyak atsiri (terutama minyak cengkeh). Kedua, topik mengenai turunan minyak atsiri ini sering dilontarkan oleh para peneliti atau pengamat dari berbagai bidang ilmu yang berkaitan dengan minyak atsiri, meskipun masih pada diskursus seputaran aspek ilmiah dan teknologinya saja dan belum menyentuh pada pengembangannya menjadi sebuah entitas bisnis. Sebab kalau sudah bicara bisnis, kita tidak hanya bicara masalah teknis proses dan produksinya saja. Tetapi jauh lebih luas dari itu, mulai dari supply chain management hingga marketing. Ketiga, kebetulan pula kami juga produsen minyak atsiri sereh wangi yang mau tidak mau pada akhirnya akan (bahkan sudah) bermimpi (tapi baru bermimpi, lho…hehe) untuk membuat turunannya seperti citronellal, citronellol, maupun geraniol.

Saat memaparkan presentasinya, Pak Robby menyinggung pula masalah minyak sereh wangi (citronella oil) dan minyak terpentin (turpentine oil) yang potensinya di Indonesia untuk diproduksi turunannya sangat besar. Tetapi beliau belum menjelaskan mengapa sampai saat ini industri turunan kedua minyak atsiri tersebut kurang berkembang (atau bahasa kasarnya TIDAK berkembang). Ada apa gerangan padahal potensi bahan bakunya cukup besar di negara kita? Hal inilah yang pada akhirnya membuat saya ingin bertanya mengapa hal ini terjadi. Apalagi saya tahu bahwasannya PT Indesso Aroma merupakan produsen aroma dari turunan minyak cengkeh yang cukup berhasil di negeri ini tetapi tidak mengembangkan turunan dari kedua jenis minyak atsiri tersebut.
Saat sesi tanya-jawab, saya melontarkan pertanyaan yang isinya kurang lebih demikian.

1.Minyak sereh wangi kandungan utamanya adalah citronellal, citronellol, dan geraniol. Ketiga komponen tersebut jika dilihat perbedaan titik didihnya cukup lebar. Dari sisi teknis, apabila diterapkan konsep fraksionasi vakum untuk memisahkan ketiga komponen tersebut masih memungkinkan diselenggarakan pada skala UKM. Prosesnya juga (mungkin) tidak perlu menggunakan perangkat MD (molecular distillation) yang investasinya miliaran rupiah. Bagaimana potensi ketiga produk turunan minyak sereh wangi tersebut dan mengapa PT Indesso Aroma tidak mengembangkannya sebagai salah satu komoditas unggulannya seperti halnya turunan minyak cengkeh.

2.Kita tahu bahwa minyak terpentin merupakan produk samping dari industri gum rosin (gondorukem) yang diproses dari getah pohon pinus. Potensi bahan bakunya cukup besar dan saat ini memang hanya dikuasai oleh Perum Perhutani sebagai pemegang kuasa dari pemerintah untuk pengelolaan dan konservasi hutan pinus di Indonesia. Sejak zaman penjajahan Belanda ( tahun 1915) negara ini memproduksi minyak terpentin (pernyataan ini mengutif makalah dosen saya dulu Dr. Ir. Tatang H soerawidjaja), tetapi mengapa sampai saat ini dan sudah 90 tahun lebih industri turunannya tidak berkembang. Padahal kalau diruntut, minyak terpentin yang kadar utamanya adalah komponen-komponen atsiri golongan non-oxygenated terpenes (a-pinen, b-pinen, terpinen, dll) bisa dibuat puluhan jenis produk-produk aromatis sebagai turunannya. Menurut pendapat Pak Robby, apa yang mengakibatkan terjadinya stagnasi seperti ini? Dan saran saya kepada DAI sebaiknya mengadakan audiensi dengan Perum Perhutani berkaitan dengan wacana pengembangan minyak terpentin menjadi turunannya.

Kedua pertanyaan saya di atas ditanggapi demikian oleh beliau dan menurut saya cukup clear dan tepat.

1.Pasar dunia untuk ketiga komponen turunan minyak sereh wangi tersebut saat ini sudah didominasi oleh produk-produk sintesis yang harganya lebih murah daripada produk alaminya (eks. minyak sereh wangi). [Catatan: yang dimaksud produk sintesis adalah produk tersebut dibuat dari bahan-bahan lain melalui serangkaian reaksi kimia sehingga menjadi produk yang diinginkan). Bahkan citronellal (sintesis) dan citronellol (sintesis) sendiri merupakan salah satu turunan minyak terpentin. Memang ada pengguna citronellal, citronellol, dan geraniol, tetapi permintaannya tidak banyak. Menghasilkan ketiga komoditas dengan teknik fransionasi vakum bisa saja dilakukan tetapi biaya operasionalnya tidak mampu bersaing dengan produk-produk sintesisnya.

2.[Untuk jawaban no. 2 ini saya tuliskan dengan kata-kata saya sendiri untuk menghindari kesalahan penangkapan persepsi). Dari dulu hingga sekarang, ada kesulitan/kendala untuk mengambil bahan baku minyak terpentin dari Perum Perhutani atau bahkan pengembangan produk turunan minyak terpentin oleh Perum Perhutani itu sendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor. Juga sampai saat ini masih ada pemikiran bahwa menjual minyak terpentin mentah saja sudah untung, sehingga masih enggan untuk memproduksi turunannya. Beliau juga berharap mungkin DAI dan Departemen Perindustrian bisa beraudiensi dengan pihak Perum Perhutani untuk bersama-sama mengembangkan produk turunan minyak terpentin ini.

Demikian salah satu diskusi pada acara ISEO 2009 kemarin. Semoga menambah wawasan bagi teman-teman penggemar minyak atsiri.

Thursday, November 05, 2009

KONSEP SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN KADAR PA MINYAK NILAM

Banyak kalangan penyuling “terhantui” oleh pikiran high tech saat berkutat pada wacana peningkatan kadar PA pada minyak nilam hasil sulingannya. Orang (mungkin) berfikir tentang teknik redistilasi, refinery, atau bahkan fraksionasi vakum untuk keperluan tersebut yang notabene harus melakukan kegiatan investasi yang cukup lumayan.

Sebelumnya mari kita samakan persepsi dulu berkaitan dengan peningkatan kadar PA ini. Peningkatan kadar PA yang saya maksudkan di atas bukanlah untuk menghasilkan minyak nilam dengan PA ekstra tinggi, misalnya di atas 50-60%, 80%, atau bahkan mendekati PA murni (98%). Karena minyak nilam dengan kadar PA demikian tentulah memiliki segmen pasar yang sangat khusus dan agak sulit terjangkau bagi para penyuling di level “crude oil”. Sebagai penyuling crude oil (menurut saya) kita bisa tinggalkan sejenak wacana tersebut jika pasarnyapun masih tidak jelas. Jadi, kegiatan peningkatan kadar PA yang saya maksud di atas adalah sampai dengan batas kualitas rata-rata/standar (di atas 30 atau 31%) mengingat karena beberapa faktor banyak juga penyuling yang hasil produksinya hanya memiliki kualitas di bawah rata-rata (kadar PA 26-28). Kalau kadar PA-nya sudah standar, untuk apa kita susah-susah meningkatkannya lagi. Apalagi kalau ternyata peningkatan harganya juga tidak terlalu signifikan. Dalam konteks ini, saya lebih berfikiran pragmatis.

Kadar PA yang rendah disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:

1. Waktu penyulingan yang kurang lama. Kadar PA tertinggi dihasilkan di saat-saat akhir proses penyulingan. Apabila waktu penyulingan 8 jam, maka mulai jam ke-6 s/d jam ke-8 akan dihasilkan minyak dengan kadar PA di atas rata-rata. Saya pernah membuktikannya dengan memisah-misahkan hasil penyulingan berdasarkan jam operasi (jam ke-1 s/d jam ke-8) lalu dianalisis kadar PA-nya masing-masing. Hasilnya, semakin lama waktu operasi terjadi peningkatan kadar PA yang signifikan. Hanya saja jumlah minyak yang dihasilkan dari jam ke-6 s/d jam ke-8 jauh lebih sedikit daripada jam ke-1 s/d jam ke-5.

2. Laju alir uap yang sedikit atau tidak sebanding dengan jumlah bahan baku yang disuling. Hal ini juga menyebabkan rendemen minyak rendah serta waktu penyulingan lebih lama. Jumlah uap yang sedikit menyebabkan campuran uap dan minyak terlalu cepat jenuh dan lebih banyak berisi fraksi ringannya, padahal PA merupakan fraksi berat.

3. Rasio daun:batang. Makin tinggi rasio daun:batang, maka bisa dipastikan kadar PA-nya semakin turun. Kadar PA tertinggi terletak pada batang meskipun apabila rasio daun:batang makin kecil maka rendemen minyaknya akan turun mengingat kadar PA di batang tidak sebanyak pada daun. Kalau hanya daun saja yang disuling, rendemen minyaknya dapat mencapai 5-6% tetap kadar PA-nya akan turun tajam. Sedangkan pada batang, rendemen minyaknya hanya 0.5-0.7% tetapi dihasilkan minyak dengan kadar PA di atas 40%, bahkan bisa juga mencapai di atas 50%.

4. Lokasi budidaya. Penanaman nilam di bawah naungan/teduhan menghasilkan kadar PA yang berbeda dibandingkan dengan di lahan terbuka dan tersinari matahari secara utuh. Penanaman di dataran tinggi dengan di dataran rendah juga menunjukkan hasil minyak dengan kadar PA yang berbeda. Menanam nilam di Pulau Jawa (meskipun dengan bibit asal Sumatra Utara/Aceh dan perawatan yang baik), kadar PA minyak hasil sulingannya tidak setinggi apabila ditanam di daerah Sumatra Utara/Aceh yang ditanam di lereng-lereng perbukitan dengan perawatan minim.

Konsep sederhana yang saya maksud dari judul tulisan di atas mengacu pada poin ke-3 di atas. Artinya, apabila minyak nilam hasil produksi anda rendah (di bawah rata-rata) maka sulinglah batang-batang nilam atau hasil cabutan pohon nilam yang sudah tidak produktif. Hasil minyaknya yang notabene memiliki PA tinggi di-blending dengan hasil sulingan yang memiliki kadar PA rendah. Batang atau pangkal pohon nilam memang memiliki rendemen yang sangat rendah. Sebagian besar penyuling hanya memotong-motong batang nilam kering sebelum disuling dengan ukuran beragam (5-15 cm). Salah seorang rekan saya (kebetulan juga customer saya) mencoba menyuling batang/pangkal batang nilam kering yang sebelumnya sudah dihancurkan hingga menyerupai serbuk gergaji. Hasilnya cukup positif, rendemen minyaknya meningkat dari 0.6-0.7% menjadi 1-1.2%. Untuk keperluan ini tentu dibutuhkan mesin penghancurnya.


Apabila anda memiliki 100 kg minyak nilam dengan kadar PA 27%, berapakah jumlah minyak nilam PA tinggi yang dibutuhkan untuk pencampuran agar kadar PA-nya menjadi standar (misalnya 30%)?

Rumusnya sederhana saja:

P = (X1 * (W1/W1+W2))+(X2 * (W2/W1+W2))

dengan,
P = kadar PA yang diinginkan setelah pencampuran - diketahui
X1 = kadar PA minyak nilam yang rendah - diketahui
W1 = jumlah minyak nilam PA rendah yang dicampurkan - diketahui
X2 = kadar PA minyak nilam yang tinggi (dari batang) - diketahui
W2 = jumlah minyak nilam PA tinggi yang dicampurkan – dicari jawabnya

Wednesday, September 30, 2009

Vote me for "Asia's Best Young Entrepreneurship 2009" versi majalah Business Week

Dear teman2 pembaca blog
Mohon doa restu dan dukungannya ya.
Vote me for Asia's Best Young Entrepreneurship 2009 versi majalah Business Week. Kebetulan saya masuk salah satu nominasinya karena tahun 2008 kemarin menang di Shell Business Start Up Awards 2008 yg diselenggarakan oleh PT Shell Indonesia.

klik :

Friday, September 11, 2009

Pelatihan Minyak Atsiri Gel. 5

Untuk yang kelima kalinya CV. Pavettia Kurnia Atsiri (a subsidiary of PT. Pavettia Atsiri Indonesia) menyelenggarakan Training Minyak Atsiri pada tanggal 8-9 Agustus 2009 kemarin bertempat di Hotel Patra Jasa-Bandung, dan Desa Dipancar, Serangpanjang - Subang. Training minyak atsiri gelombang 5 ini diikuit oleh 32 peserta dari Sumatra, DKI, Jabar, Jateng, Jatim, Kalimantan, dan Maluku. Semoga training 2 hari penuh ini mampu memberikan pencerahan dan aneka pertimbangan dalam memulia bisnis minyak atsiri agar tidak salah melangkah.


Friday, June 19, 2009

Pelatihan budidaya dan penyulingan minyak atsiri, gel. 5

Download brosur Pelatihan Minyak Atsiri Gel. 5.
http://rapidshare.com/files/254157583/Brosur_training_atsiri_Gel_5.zipklik FREE USER, lalu klik icon DOWNLOAD. File dalam bentuk winzip.

Dear rekan-rekan..
Bersama ini kami informasikan bahwa "Pelatihan Budidaya dan Penyulingan Minyak Atsiri, Gel. 5" akan kami selenggarakan pada tanggal 8-9 agustus 2009 bertempat di Bandung (hari-1) dan Subang (hari-2).

Adapun materi yg akan disampaikan mencakup:
1. Pengetahuan/wawasan umum minyak atsiri
2. Kendala pengembangan bisnis minyak atsiri
3. Teknik pemasaran minyak atsiri
4. Teknik produksi minyak atsiri dgn proses penyulingan
5. Studi kelayakan bisnis minyak atsiri
6. Teknik pembibitan dan budidaya nilam dan sereh wangi sistem organik
7. Teknik pembuatan pupuk organik padat dan cair serta pestisida nabati
8. Praktek penyulingan (sereh wangi, gagang cengkeh, pala, nilam)

Biaya Pelatihan : Rp 1.300.000,- (termasuk training kit, kaos training, makan siang 2x, snack, transportasi bandung-subang PP, bundel artikel minyak atsiri)

Informasi lebih lanjut, hub. Rijal (085624931119) atau email: training_atsiri@yahoo.com

Tuesday, June 02, 2009

Bahan Bakar untuk Penyulingan

Pada proses produksi minyak atsiri dengan teknik penyulingan dibutuhkan bahan bakar yang berfungsi sebagai sumber energi untuk menghasilkan uap (steam) baik uap yang dihasilkan oleh boiler maupun terintegrasi dengan ketel sulingnya (sistem kukus). Aneka jenis bahan bakar/sumber energi banyak tersedia di sekitar kita, mulai dari yang mahal hingga yang gratisan. Contohnya; energi listrik (baik membeli dari PLN atau membuat sendiri melalui teknologi mikrohidro atau surya), gas LPG, minyak tanah, solar, batubara (atau briketnya), kayu bakar, biomassa pertanian (jerami, batok/sabut kelapa, sekam padi, tongkol jagung, daun-daunan, dll), karet ban, serta ampas dari penyulingan itu sendiri.

Pertanyaannya, apa sesungguhnya bahan bakar yang tepat (dan ekonomis) untuk menyelenggarakan proses produksi minyak atsiri melalui teknik penyulingan? Jangan mentang-mentang mudah diperoleh dan mudah diaplikasikan maka pilih saja bahan bakar minyak atau gas.
Dalam memilih jenis bahan bakar yang akan dipakai perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :

- Desain alat penyulingan (terutama boiler)
model tungku pembakaran dan struktur desain untuk bahan bakar gas dan bahan bakar minyak tentu berbeda dengan bahan bakar padatan. Meskipun tungku pembakaran ini bisa didesain untuk keperluan penggunaan dua jenis bahan bakar di atas. Juga demikian halnya dengan desain boilernya.

- Lokasi penyulingan
penggunaan bahan bakar yang menimbulkan polusi udara berlebihan seperti batu bara, kayu bakar, dan biomassa lainnya tentu tidak bijak apabila lokasi penyulingan berada di tengah kota atau pemukiman padat penduduk. Bisa diganyang orang se-komplek nanti…hehe.

- Besaran investasi
Biasanya investasi untuk bahan bakar jenis padatan lebih murah daripada bahan bakar gas atau minyak. BBG atau BBM membutuhkan burner khusus yang harganya cukup lumayan agar pembakaran dapat berlangsung efisien dan sempurna. Ada juga burner yang harganya lebih murah seperti kompor gas LPG besar (yang dipakai di restoran-restoran) atau smower minyak tanah (seperti yang dipakai tukang basho atau mie ayam tapi yang ukurannya besar) tetapi dari sisi aspek keterbakaran dan keteroperasian jauh lebih bagus jika digunakan burner yang mahal dan ber-merk. Contoh; Olympia, Beckett, Ray, Ecoflam.

- Nilai ekonomi dari minyak atsiri yang diproduksi
Hal ini yang sering luput dari pengamatan para pemain baru di bisnis minyak atsiri. Sebagian besar hanya mempertimbangkan kemudahan operasi, kemudahan supplai, kestabilan panas, dan sedikit polusi tetapi kurang mempertimbangkan aspek ekonominya. Menyuling daun cengkeh, sereh wangi, dan nilam (dengan harga minyak terkini) kurang ekonomis apabila menggunakan bahan bakar komersil. Untuk nilam, kecuali jika anda mendapatkan harga jual yang baik. Jadi, hitung-hitung dulu ya. Kalau saya menyuling minyak ini kapasitas sekian kg, akan dapat minyak sekitar sekian kg. Kalau harga jualnya sekian, maka saya akan mendapatkan sekian rupiah. Nah, kalau digunakan bahan bakar ini, maka...........Wah, saya rugi dong..:)

- Tingkat ketersediaan dan kontinyuitas
Sebelum memutuskan bahan bakar mana yang akan dipakai, pastikan bahwa anda bisa mengakses bahan bakar tersebut kapanpun anda ingin menyuling. Dan sebaiknya sumber untuk mendapatkan bahan bakar sedekat mungkin dengan lokasi penyulingan anda.

Beberapa jenis minyak atsiri tidak dibutuhkan pembelian bahan bakar alias gratis seperti minyak daun cengkeh, sereh wangi, sereh dapur karena ampas penyulingannya sudah mencukupi sebagai bahan bakar untuk proses penyulingan selanjutnya.

Selamat menyuling!!

Wednesday, May 20, 2009

Tips Pemasaran Minyak Atsiri bagi pemula

Banyak pertanyaan baik via email, blog, maupun telp/sms yang masuk ke saya yang berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri. Sebagian besar merupakan pemula atau bahkan awam di bisnis minyak atsiri. Saya bukan orang yang berpengalaman dalam bidang pemasaran minyak atsiri karena usaha kami saat ini bukan bergerak pada bidang perdagangan/trading minyak atsiri sehingga apapun jenis minyak atsiri bisa kami pasarkan. Kenalan atau mitra pembeli minyak atsiri memang ada beberapa yang bisa direkomendasikan (yg sebenarnya bisa anda dapatkan sendiri), tetapi tentu tidak semudah itu juga memasarkan apalagi minyak-minyak atsiri yang tergolong baru (alias tidak umum). Beberapa jenis minyak atsiri dibutuhkan strategi dan teknik pemasaran khusus.

Berikut beberapa saran dan trik yg sekiranya bisa saya sampaikan berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri.
1.Produksilah jenis minyak atsiri yang bisa anda pasarkan, dan bukan jenis minyak atsiri yang bisa anda produksi (bahan baku melimpah di daerah anda).

2.Pastikan bahwa minyak atsiri yang anda produksi sudah memenuhi standar kualitas umum yang bisa dipasarkan dengan harga standar. Pastikan pula anda tahu kualitas minyak atsiri yang anda hasilkan..:)

3.Di website Dewan Atsiri Indonesia - DAI (www.atsiri-indonesia.com) ada banyak daftar eksportir minyak atsiri di Indonesia yang disertai dengan nomor kontak. Cobalah telpon satu persatu para eksportir tersebut dan tanyakan apakah mereka bisa menampung hasil produksi anda serta mekanisme-mekanisme lainnya

4.Kalau tidak puas dengan data pada web DAI di atas, datanglah ke perpustakaan Departemen Perdagangan RI khususnya BPEN (Badan pengembangan Ekspor Nasional), mintalah daftar para eksportir minyak atsiri dan hubungi mereka satu-persatu. Salah satu teman saya bisa mendapatkan sekitar 50-an alamat dan kontak eksportir minyak atsiri dari BPEN Departemen Perdagangan. Dari jumlah itu tidak semuanya masih aktif sebagai eksportir minyak atsiri. Jadi jangan gusar apabila anda telpon salah satu di antara mereka lau jawabnya,”Wah... maaf Pak, kita sudah lama tidak main minyak atsiri lagi”. Yang seperti ini kemungkinannya ada dua, yaitu memang benar-benar sudah tidak bermain atsiri lagi atau mereka sudah punya supplai tetap dan enggan untuk berhubungan dengan pemain-pemain baru (menutup kesempatan para pemain baru).

5.Masih tidak puas dengan data-data di atas, carilah lagi via om google. Jika dapat no kontak siapapun yg mau membeli minyak atsiri jangan sungkan-sungkan untuk melakukan kontak langsung untuk menanyakannya.

6.Banyak para pemula yang ingin langsung memasarkan minyak atsirinya ke eksportir padahal kapasitasnya belum memadai sehingga posisi tawarnya belum tinggi. Apalagi belum mengenal lebih jauh seluk-beluk bisnis ini. Mulailah dari pemasaran tingkat bawah (baca=pengumpul kecil) sambil belajar lebih jauh tentang pemasaran minyak atsiri dan memperluas jaringan pemasaran. Lambat laun pemain-pemain dan pelaku bisnis ini dapat anda petakan. Dan pada akhirnya anda bisa memperlebar jangkauan pemasaran anda tentu diikuti dengan kuantitas dan kontinyuitas supplai produk minyak atsiri anda.

7.Positioning dan Branding. Ini penting bagi anda yang merasa memiliki spesialisasi untuk jenis minyak atsiri tertentu. Teknik Branding butuh waktu, kesabaran, konsistensi, dan perencanaan yang baik. Contohnya: anda memutuskan untuk spesialis di bidang minyak sirih. Buatlah blog atau website khusus yang berbicara tentang seluk beluk minyak sirih. Atau bisa juga facebook dan sejenisnya. Buat juga tulisan-tulisan atau opini-opini (yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan) tentang minyak sirih. Pokoknya dimanapun dan kapanpun saat bercengkerama dalam khasanah minyak atsiri, ceritalah tentang minyak sirih. Lama-lama anda akan dikenal oleh khalayak sebagai pakar dan produsen minyak sirih sehingga para pembeli minyak sirih akan mengenal anda dan mungkin menghubungi anda tanpa anda harus bersusah payah mencari mereka.

8.Untuk beberapa minyak atsiri khusus, anda butuh usaha ekstra untuk mencari pemakai langsung (end-user), contohnya; usaha-usaha spa, aromateraphi, farmasi, kosmetika, jamu, balsem, obat gosok, sabun/deterjen, dll. Cari informasi sebanyak mungkin tentang target pasar anda lalu datangi atau berhubungan langsung dengan pemilik usaha tersebut atau yang mewakili (bagian purchasing).

9.Jika anda sudah memulai produksi, sampel cukup penting untuk mengenalkan produk anda ke calon pembeli. Bagi para pemula yang belum produksi memang agak sulit untuk menemukan pasar sebab biasanya calon pembeli selalu menanyakan sampel minyaknya. Ingat, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri. Dua orang penyuling yang menyuling dari sumber bahan baku sama, belum tentu menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang sama. Apalagi sumber bahan bakunya berbeda..:)

10.Pemetaan pasar penting, terutama supply and demand. Ingat bahwa permintaan minyak atsiri itu ada batasnya. Kalau dikatakan tak terbatas, itu isapan jempol belaka!! Saya pernah ditanya bagaimana mengenai pemasaran minyak pala yang kita produksi. Saya jawab,”Saat ini berapapun kita produksi selalu diambil oleh pembeli kita”. Bagaimana interpretasi anda membaca jawaban saya itu? Yang paham dengan bisnis ini tentu akan memiliki intrepretasi berbeda dengan teman-teman pemula atau masih awam dengan bisnis minyak atsiri.

11. Eh, satu lagi tapi tidak ada kaitannya dengan pemasaran. Jangan mudah terbuai oleh "angin surga" tulisan-tulisan tentang bisnis minyak atsiri yang dikatakan menjanjikan, mudah, keuntungan segudang, dll yang disertai dengan data-data yang menurut saya faktanya tidak seperti itu. Dalam bisnis apapun pengalaman, wawasan, dan jam terbang sangat menentukan keberhasilannya. Dalam minyak atsiri, yang sudah berpengalamanpun kadang-kadang masih suka “kejeblos”...hehe. Bisnis ini memang menjanjikan asal......bla...bla...bla...........

OK, keep your spirit.... Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman pemula atau awam di bidang minyak atsiri. Namanya juga usaha jadi butuh kesabaran, keuletan, kreativitas, kerja keras, komitmen dan totalitas, serta tentu saja semangat pantang menyerah.

Friday, April 17, 2009

EKSTRAKSI PELARUT UNTUK MINYAK ATSIRI BUNGA-BUNGAAN

Buat tambahan pengetahuan buat para peminat minyak atsiri.

Apa itu ekstraksi? Ekstraksi pada prinsipnya adalah teknik pemisahan (separasi) yang mengeksploitasi perbedaan sifat kelarutan dari masing-masing komponen campuran terhadap jenis pelarut tertentu.
Contohnya adalah : Campuran A dan B hendak dipisahkan menggunakan campuran A dan B hendak dipisahkan menggunakan pelarut X. Dari data-data sifat kelarutan, komponen A sangat larut dalam X, sedangkan komponen B sedikit larut atau bahkan tak larut. Apabila pelarut X tersebut ditambahkan pada campuran A dan B yang berbeda sifat
kepolarannya, maka komponen A akan larut dalam X, sedangkan B tidak. Sehingga akan didapatkan campuran baru, yaitu A dan X. Tahap selanjutnya adalah bagaimana memisahkan A dan X ini? Salah satu metodenya adalah evaporasi/penguapan pelarut.

Dalam kaitannya dengan minyak atsiri, teknik ekstraksi ini biasanya digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri yang mudah rusak oleh panas, dalam hal ini adalah minyak bunga-bungaan seperti melati, mawar, atau sedap malam. Untuk melarutkan minyak atsiri yang terdapat pada bunga-bungaan tersebut, maka dibutuhkan pelarut yang biasanya adalah pelarut organik yang bersifat non-polar. Mengapa non-polar? Bunga-bungaan yang segar tentu mengandung air, bukan? Dalam konsep ikatan kimia, air itu bersifat polar. Nah, kalau digunakan pelarut yang polar juga seperti alkohol maka tentunya air yang terkandung dalam bunga akan larut ke dalamnya sehingga membutuhkan proses pemisahan yang lebih kompleks. Tetapi kalau digunakan pelarut non-polar maka air tidak akan larut ke dalamnya.

Banyak jenis pelarut organik non-polar, tetapi yang paling sering digunakan adalah heksana (C6H14) meskipun tidak menutup kemungkinan juga bisa digunakan benzena (C6H6) ataupun juga bensin/gasolin. Ada beberapa kriteria dalam memilih pelarut untuk ekstraksi bunga-bungaan selain sifatnya yang non-polar tadi , di antaranya adalah dapat melarutkan zat wangi dalam bunga secara sempurna, mempunyai titik didih yang rendah dan seragam, bersifat “inert” atau tidak bereaksi dengan zat wangi dalam bunga yang akan diekstrak, harga serendah mungkin dan mudah diperoleh.

Produk akhir ekstraksi bunga menggunakan pelarut ada dua macam, yaitu concrete dan absolute. Concrete merupakan minyak atsiri yang masih bercampur dengan lilin/resin serta sedikit pelarut. Saat proses ekstraksi berlangsung, tidak hanya minyak atsiri yang terlarut pada pelarut, tetapi juga lilin/resin ikut masuk ke dalamnya. Concrete berbentuk semi padat seperti lemak atau mentega. Sedangkan absolute adalah minyak atsiri yang murni tanpa pengotor seperti lilin/resin maupun sisa pelarut. Absolute lah yang harganya paling mahal.

Dalam terminologi ekstraksi pelarut, biasanya juga ada konsep lain yang tak kalah penting, yaitu evaporasi vakum. Kondisi vakum didefinisikan sebagai kondisi di bawah tekanan atmosferik (di bawah 1 atm / tekanan normal). Sedangkan evaporasi merupakan proses penguapan pelarut untuk memisahkannya dengan minyak atsiri dan atau lilin/resin. Sehingga jika digabungkan pengertiannya adalah proses penguapan pelarut pada kondisi di bawah tekanan normal. Mengapa harus vakum? Tentu saja ada tujuan-tujuan tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk menurunkan titik didih dari pelarut tersebut sehingga temperatur proses secara keseluruhan menjadi lebih rendah. Semakin rendah tekanan maka temperatur prosesnya juga makin rendah. Misalnya; heksan pada tekanan normal (1 atm) bertitik didih 68 C, pada tekanan 0.7 atm titik didihnya 58 C, dan pada tekanan 0.2 atm titik didihnya 25 C. Kondisi inilah yang diharapkan pada proses ekstraksi minyak atsiri bunga-bungaan agar diperoleh minyak dengan kualitas yang baik. Artinya, kerusakan minyak atsiri akibat temperatur tinggi bisa dihindari. Sedangkan tujuan kondisi vakum yang lain adalah menjamin bahwa pelarut dapat terpisahkan semaksimal mungkin. Untuk mencapai kondisi vakum dibutuhkan alat pendukung yaitu pompa vakum.

Gambar berikut ini merupakan tahapan-tahapan dalam proses ekstraksi minyak bunga-bungaan menggunakan pelarut organik untuk mempermudah pembaca dalam memahami teknik ekstraksi pelarut ini.

Saturday, March 28, 2009

Training Minyak Atsiri Gel. IV, 14-15 Maret 2009

Training Atsiri Gel. IV ini diikuti oleh 21 peserta yang tersebar dari berbagai belahan nusantara, bahkan ada beberapa peserta datang dari negara tetangga. Semoga wawasan yang telah diperoleh dapat menjadi bekal dan pertimbangan dalam mengembangkan bisnis minyak atsiri. Perku diketahui bahwa Training Atsiri Gel IV ini merupakan yang terakhir dari serangkaian program training minyak atsiri yang kami selenggarakan sejak Gel I bulan Oktober 2008 lalu. Permintaan untuk in-house training bagi lembaga atau institusi yang berminat dapat menghubungi kami.
Keterangan:
1. Pemaparan materi mengenai "Pengantar Wawasan dan Pengetahuan Minyak Atsiri"
2. Pemaparan materi mengenai "Kendala Teknis Pengembangan Bisnis Minyak Atsiri"
3. Pemaparan materi mengenai "Teknologi Produksi Minyak Atsiri dengan Proses Penyulingan"
4. Suasana training atsiri hari-1 di Hotel Patrajasa - Bandung.

Keterangan:
1. Mejeng di kebun nilam...hehe.

2. Suasana di penyulingan minyak nilam dan bengkel pembuatan alat-alat penyulingan.
3. Hiking di pematang-pematang kebun sereh wangi.
4. Ritual rutin training "pose di depan spanduk".

Sunday, March 15, 2009

Training Minyak Atsiri Gel. III, 21-22 Feb 2009

Training Atsiri Gel. III ini diikuti oleh 41 peserta yang tersebar dari berbagai belahan nusantara. Semoga wawasan yang telah diperoleh dapat menjadi bekal dan pertimbangan dalam mengembangkan bisnis minyak atsiri.

1. Suasana training hari-1 di Hotel Patrajasa - Bandung (21 Feb 2009)
2. Sesi diskusi panel yang menghadirkan 3 penyuling minyak atsiri yang berbeda.
3. Pembicara 1 sedang memberikan materi training
4. Pembicara 2 sedang memberikan materi training


5. Suasana training hari-2 di kebun atsiri
6. Kang Asep sedang menjelaskan teknik bercocok tanam nilam
7. Penjelasan teknik pembuatan pupuk organik bokashi dan pestisida nabati
8. Photo bersama di halaman pabrik penyulingan menjelang akhir kegiatan

Thursday, February 05, 2009

TRAINING PENGEMBANGAN BISNIS PERKEBUNAN DAN PENYULINGAN MINYAK ATSIRI (Gel. III)

Dear para peminat minyak atsiri........
Bersama ini kami upload brosur training minyak atsiri Gel. III dari PT. Pavettia Atsiri Indonesia. Brosur dapat didownload di link: http://rapidshare.com/files/185758401/Brosur_training_atsiri_Gel_III.pdf
lalu, klik FREE USER, dan klik icon DOWNLOAD.

Apa yang baru dari training atsiri Gel III ini dibandingkan 2 gelombang sebelumnya? Selain tempat training (hari 1) yang kami pindahkan dari Lembang ke Bandung untuk memberikan kesempatan bagi peserta utk menikmati Kota Bandung, pada Gel III ini kami juga memberikan konsep baru berupa DISKUSI PANEL pada sesi hari 1 dengan mendatangkan 3 penyuling (praktisi) minyak atsiri (jenisnya berbeda) untuk dapat sharing pengalaman selama berkecimpung dalam dunia per-atsiri-an dengan dipandu oleh moderator. DISKUSI PANEL selama 1.5 jam ini diharapkan dapat dimanfaatkan para peserta untuk menggali pengetahuan praktis bisnis minyak atsiri langsung dari pelakunya semaksimal mungkin. Selain itu, pada Gel III ini akan diperkenalkan di lapangan mengenai budidaya sereh wangi (sebelumnya hanya diperkenalkan utk budidaya nilam-organik) .
SALAM ATSIRI!!

Informasi dan pendaftaran, hubungi:
RIJAL (0856-24931119) atau (022-92187803)

Wednesday, February 04, 2009

SEBUAH ANGAN (atau OBSESI??)

Jumat malam – 30 Jan 2009 lalu aku nonton acara “Kick Andy” di MetroTV (salah satu acara kegemaranku). Soo…inspiring and motivating! Acara malam itu bertemakan mengenai para petualang kelas dunia yang menurutku sudah “gila” dengan judul “Kisah Para Penjelajah”. Menghadirkan 4 bintang tamu orang Indonesia yang masing-masing pernah bertualang keliling dunia dengan ke”gila”annya masing-masing. Ada yang berlayar seorang diri dengan perahu kecil, mengendarai sepeda motor, mengendarai sepeda, dan bahkan berjalan kaki. “GENDHENG!!” kata Andy F. Noya sang empunya acaranya. And from the bottom of my heart, I salute you.

Kisah mereka begitu menarik disimak. Tergidik aku saat membayangkan bagaimana pengendara sepeda motor itu ditembaki oleh orang tak dikenal di gurun pasir Asia Selatan dan aneka debur was-was di daerah konflik lainnya (padahal ia membawa misi RIDE for PEACE) . Atau si pejalan kaki dilempari batu oleh banyak orang karena disangka anggota dari sekte kepercayaan tertentu di Amerika. Juga si pelayar yang terombang-ambing mencoba menyelamatkan diri dari gempuran pertemuan arus laut utara dan selatan yang ganas di Samudra Pasifik. Aahhhh...... amazing!!

Ada satu hikmah yang dipetik dari para petualang itu. Mengapa mereka mau melakukan itu semua? Apakah demi publisitas? Atau hanya untuk gaya-gayaan saja supaya terlihat berani di mata semua orang? Aku pikir lebih daripada itu. Mereka mau melakukan itu semua semata-mata berasal dari ”hati”. Mereka cinta pada aktivitasnya masing-masing. Mencintai sepeda motor, mencintai laut, mencintai nikmatnya berjalan kaki. Saking mendalamnya rasa cinta itu membuat mereka mampu melakukan sesuatu yang mencengangkan dunia atau khususnya Indonesia. Beberapa di antara mereka bahkan mengabadikan kisah petualangannya dalam sebuah buku untuk bisa dinikmati oleh orang banyak. Syukur-syukur bisa turut menginspirasi banyak orang di tengah dera kesulitan menghadapi roda kehidupan yang makin menggila ini.

Fer, ini khan ”Essential oil Corner”, lalu apa hubungannya cerita di atas dengan minyak atsiri? Yah, terus terang aku sangat terinspirasi oleh kisah mereka. Kalau aku mengaku cinta pada dunia minyak atsiri, mengapa aku tidak bisa mengukir kisah seperti mereka. Meskipun dengan nuansa dan musim yang berbeda. Misalnya, bisa saja aku berkeliling Indonesia (dengan cara-cara normal saja lah, tidak harus dengan motor, sepeda, atau berjalan kaki) dari Aceh hingga Papua mengunjungi setiap sentra perkebunan dan penyulingan minyak atsiri. Atau mengeksplorasi tanaman-tanaman minyak atsiri Indonesia yang belum dikenal luas. Di akhir perjalanan, aku bisa menyimpan semua memori, kisah, dan pengetahuan tersebut dalam sebuah buku hingga setiap orang yang ingin mengetahui betapa kayanya minyak atsiri Indonesia bisa membaca buku itu. Ernerst Guenther aja bisa bisa keliling dunia pada tahun 1950-an hingga membuat buku ”master piece”nya minyak atsiri yang tak ada duanya hingga kini, kenapa gue nggak!! Meskipun mimpinya baru kelas lokal saja.

Atau bisa saja mengumpulkan tanaman-tanaman minyak atsiri Indonesia, mulai dari yang umum sampai yang langka lalu dikumpulkan dan ditanam di satu lokasi tertentu sebagai media pembelajaran dan rekreasi minyak atsiri. Jadilah ”Taman Atsiri Indonesia” (disingkat TAI......upsss...). Thomas Stanford Raffles aja pada abad 19 aja bisa mengumpulkan aneka tanaman tropis di Bogor hingga menjadi ”Kebun Raya Bogor” yang sangat terkenal. Atau Ibu Tien Suharto mewujudkan mimpi membuat ”Taman Buah Nusantara” di Cileungsi-Bogor. Kenapa gue nggak!! Ada yang mau sponsorin.....hehehe. Ah, dengan atau tanpa sponsor ”lagi-lagi” kalau semua berasal dari ”hati” dengan ridho-Nya mudah-mudahan ’everything in your dream’ bisa terwujud.

ESSENTIAL OIL for PEACE !!!

Tuesday, February 03, 2009

TAKARAN MINYAK ATSIRI, mengapa menggunakan kg dan bukan liter?

Lagi-lagi diambil dari diskusi di milis: atsiri-indonesia@yahoogroups.com

Pertanyaan:
dear rekan2 milis,
Sebelumnya, Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir Bathin....
begini, saya barusan baca Trubus terbaru, topiknya tentang asap cair dari kelapa. para penjual asap cair itu menjualnya ada yang Rp 20.000,-/liter.
yang saya tanyakan, kenapa ukurannya per liter, bukan per kilo seperti menjual minyak atsiri. padahal prosesnya hampir sama. apa yang membedakan ukurannya. mohon pencerahannya.
makasih
salam,
desy

Ferry (mantra_mantra_jingga@yahoo.com)
Sebagian besar minyak atsiri menggunakan satuan kg dalam penjualannya. Hanya beberapa jenis minyak mahal yang dalam perdagangan retail menggunakan cc (ml). Kalau mau konversi satuan dari liter ke kg, tinggal mencari data densitas masing2 minyak atsiri saja. Minyak nilam hampir mendekati 1, sekitar 0,997 jadi 1 kg minyak nilam hampir sama dengan 1 liter. Kalau utk minyak pala beda lagi, 1 liter minyak pala ekivalen dengan 0,88 – 0,9 kg.

Mengapa minyak atsiri justru menggunakan satuan kg? Ini berkaitan dengan komponen2 berharga (valueable) dalam minyak atsiri yg kebetulan rata-rata memiliki densitas tinggi. Makin tinggi densitas minyak atsiri (makin berat), maka "disinyalir" minyak itu memiliki kualitas yg baik (dalam batas atas tertentu, lihat SNI). Kalau yg dijadikan acuan satuan volume (liter), maka mau yang kualitas baik atau kurang baik nilainya akan sama saja. Sedangkan kalau satuan berat (kg), nilainya tentu akan menjadi berbeda. Sebagai analogi saja, dalam minyak pala (dan bbrp jenis minyak atsiri lain) ada istilah "minyak ringan" dan "minyak berat". "Minyak berat" itu kualitas yang sangat bagus. Kalau saya jual 1 liter kedua jenis minyak tersebut dalam satuan LITER, maka antara "minyak ringan" dan "minyak berat" harganya akan sama saja. Tapi kalau dalam satuan kg, 1 liter minyak ringan = 0,88 kg. Sedangkan 1 liter minyak berat = 1,05-1,1 kg. Jadi lebih mahal yg mana??
Tapi ini bukan berarti jualnya pisah2, lho. Ujung2nya tetap diblending juga kedua minyak tersebut. Hanya utk memberikan analogi saja mengapa minyak atsiri dalam fasa ruah (bulk) dijual dalam satuan kg (dan bukan liter).

Asap cair bukan jenis minyak atsiri, lho.
Secara fundamental teknik produksinya sudah berbeda dgn minyak atsiri. Proses pirolisis dalam pembuatan asap cair berbeda dengan hidrodifusi (hidrodistilasi) dalam pembuatan minyak atsiri.

Pertanyaan lanjutan, mengapa bensin, minyak diesel (solar), minyak tanah penjualannya dalam satuan liter, kok nggak kg saja....hehe. Karena minyak2 tersebut sudah standar semuanya, alias 1 kualitas. Tidak ada minyak tanah, bensin, atau solar yang kualitasnya jelek atau bagus yang dipengaruhi oleh komponen2 utamanya. Anda mau beli bensin dan solar di Papua dengan di Jakarta semuanya sama-sama saja, kecuali pengecernya yg nakal dengan melakukan pengoplosan. Atau lain lagi urusannya sudah beda nama dagang, misalnya bensin dengan oktan yang lebih tinggi dijual dengan nama Pertamax.

Nuzul K.H
Dear Mb Desy,
Sepertinya itu hanya masalah ukuran saja. Karena waktu itu ada buyer yang nanyakan ke saya harga minyak nilam, beliau masih menanyakan pula apakah harga minyak saya dalam liter atau kg.

Yang pasti, nilai kg lebih besar dari liter :) hehe....

Ferry (mantra_mantra_jingga@yahoo.com)
Tergantung jenis minyak atsirinya lho, Mbak. Apakah densitasnya besar atau kecil. Utk jenis minyak atsiri yg densitasnya lebih kecil dari 1 g/ml (nilam, sereh, pala), maka apabila menjual dgn satuan liter akan lebih menguntungkan dibandingkan satuan kg. Sebaliknya jenis minyak atsiri yg densitas lebih besar dari 1 g/ml (cengkeh, kayu manis, lajagowah), menjual dalam satuan kg akan lebih menguntungkan dibanding satuan liter.

Silakan mengimajinasikan statement saya di atas...:)

Thursday, January 22, 2009

SEKELUMIT TENTANG SEREH WANGI

Mmmmhhh.............
Kalau saya ditanya orang yang ingin mengembangkan minyak atsiri beserta agribisnisnya, biasanya saya jawab; kalau tidak nilam ya sereh wangi (kadang-kadang juga menyebutkan jahe sunti/emprit kalau di penanya “ngotot” minta alternatif lain selain kedua jenis minyak atsiri tersebut). Mengapa? Selain karena pasarnya sudah terbentuk dari dulu sehingga mudah dipasarkan, juga karena kedua komoditas ini cepat dipanen. Dalam hal jangka waktu panen, nilam dan sereh sama yaitu panen pertama setelah 6 bulan saat tanam dan panen berikutnya setiap 3 bulan sampai tanaman tersebut produktivitasnya dianggap rendah (rendah itu relatif, lho). Kalau saya jawab; pala, kayu putih, kenanga, ylang-ylang, cengkeh, dan tanaman keras lainnya….. kasihan juga kalau harus menunggu waktu panen yang cukup lama.

Well… nilam sudah terlalu sering dibahas orang dan paling familiar dari semua jenis minyak atsiri yang ada di Indonesia. Makanya di sini saya sempatkan untuk bertutur mengenai sereh wangi atau citronella oil. Waktu membuat tulisan ini saya juga teringat kata-kata salah satu eksportir minyak atsiri yang sudah cukup terkenal (baca = PT. Djasula Wangi) pada saat bersama-sama menjadi pemateri workshop di sela-sela kegiatan ”Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2008” di Surabaya Desember tahun lalu. Beliau memberikan makalah berjudul ”Perkiraan Minyak Atsiri yang Masih Berpotensi di dalam Krisis Global ” di mana disebutkan bahwa salah satu jenis minyak atsiri tersebut adalah minyak sereh wangi (yang lainnya cengkeh). Pada makalahnya dikatakan bahwa sudah hampir 1-2 tahun belakangan pasokan minyak sereh wangi jauh berkurang karena rendahnya harga pada saat itu yaitu sekitar Rp 40.000,- s/d Rp 50.000,- per kg untuk menyesuaikan dengan harga minyak sereh wangi dari China dan Vietnam yang jauh lebih murah. Dengan berkembangnya ekonomi di China, maka penyuling-penyuling sereh di sana enggan memproduksi apabila harga tidak dinaikkan. Alhasil, saat ini harga minyak sereh mulai merangkak naik dan minyak sereh Indonesia pun mulai dapat bersaing kembali di pasaran internasional.

Saya juga cukup sependapat dengan beliau. Pemanfaatan sereh wangi dewasa ini mulai meluas. Biasanya kalau kita bicara minyak atsiri, maka persepsi awal yang mencuat adalah ”untuk parfum/pengharum atau dunia farmasi/obat-obatan”. Sereh wangi saat ini mulai dikenal orang sebagai salah satu komponen pada octane booster untuk menghemat bahan bakar bensin dalam kendaraan bermotor. Sereh wangi juga dipakai pada beberapa campuran bahan untuk insektisida/pestisida serta campuran untuk anti nyamuk. Kalau sudah bicara aplikasi yang berkaitan dengan energi (baca=bahan bakar bensin), tentu saja permintaannya mendatang bisa lebih besar di saat orang banyak berfikir ke arah efisiensi energi meskipun bisa saja harga komoditas ini malah menjadi turun jika supplainya sudah membesar. Pun, bagaimanapun juga jangan sampai biaya penambahan aditif bahan bakar justru lebih besar daripada nilai penghematan bahan bakarnya itu sendiri....hehehe. ”Sama aja boong, dong!!” teriak temanku saat kita berdiskusi mengenai masalah ini.

Orang awam masih suka bingung apa bedanya sereh dapur dengan sereh wangi. Ya.... jelas beda meskipun sama-sama dari suku rumput-rumputan (gramineae). Yang satu itu nama kerennya Cymbopogon nardus, yang lainnya Cymbopogon citratus. Wanginya saja sudah jauh berbeda. Sereh dapur wanginya seperti lemon karena kandungan citral nya yang tinggi (makanya juga disebut lemongrass/rumput lemon). Sedangkan sereh wangi baunya seperti apa ya? Ohh.....kalau pernah beli minyak tawon dan mengolesinya di lengan, nah.... baunya seperti itu...hehe. Soalnya saya masih belum paham mengenai kamus terminologi bau-bauan para kaum flavorist itu. Ada camphoraceous, greeny, woody, spicy, floral, dll yang belum saya ketahui definisinya. Kandungan utama minyak sereh wangi adalah citronellal, geraniol, dan citronellol. Katanya sih ketiga senyawa itu yang dituding menjadi ”biang kerok” keampuhan minyak sereh wangi sebagai octane booster. Dari sisi ”penampakan” (wah, kaya hantu aja...hehe), kedua sereh itu juga bisa dibedakan secara kasat mata. Sereh dapur daunnya agak ramping dan bonggolnya berwarna putih, sedangkan sereh wangi daunnya agak lebar dan bonggolnya warna merah keunguan (jenis mahapenggiri)..

Well, saatnya kita bicara minyak atsirinya. Bagian apa dari tanaman sereh wangi yang diambil minyak atsirinya? Bukan bonggolnya, lho tapi daunnya. Daun sereh wangi dipangkas dan disuling sedangkan bonggolnya ditinggalkan di tanah sehingga bisa tumbuh daun kembali dan dapat dipanen lagi 2,5 - 3 bulan kemudian. Yah.. begitu seterusnya sampai tanamannya hidup segan mati tak mau, alias produktivitasnya rendah dan tidak ekonomis untuk dibiarkan hidup lebih lanjut. Kasihan juga tuh si sereh, habis manis sepah dibuang. Daun hasil panenan lalu disuling tanpa harus dicacah-cacah. Ada yang disuling segar maupun dikeringlayukan dahulu. Metode penyulingan yang dipakai adalah sistem kukus. Murah dan cukup fungsional untuk minyak sereh wangi. Sayangnya menyuling sereh wangi tidak bisa kapasitas kecil. Sekali menyuling minimal harus 500 kg bahan baku supaya diperoleh hasil yang signifikan. Rentang rendemen skala komersial sekitar 0,6 - 1 % (basis basah). Keuntungannya, menyuling sereh wangi waktunya singkat sekitar 3 jam atau paling lama 4 jam. Bahan bakarnya juga gratis karena ampas sereh wangi yang sudah disuling dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk penyulingan-penyulingan berikutnya. Sama dengan kasus penyulingan minyak daun cengkeh. Menyuling sereh wangi juga tidak perlu direpotkan dengan permainan tekanan seperti menyuling minyak biji-bijian atau kayu-kayuan, yang penting jumlah uapnya cukup besar untuk sejumlah bahan baku yang disuling.

Bagaimana dengan harganya, Mas. Harganya ada di kisaran Rp 80.000,- s/d Rp 90.000,- per kg. Sedangkan harga bahan baku jika membeli di petani sekitar Rp 300 – Rp 400,- /kg basah (tergantung negosiasi apakah harga kebun atau harga pabrik). 1 ha lahan dapat ditanam 20.000 – 25.000 pohon dengan produktivitas rata-rata 40-55 ton daun segar per ha/tahun dengan sistem budidaya yang baik.

Ingin tahu studi kelayakannya lebih lanjut, silakan mengikuti:
TRAINING PENGEMBANGAM BISNIS PERKEBUNAN DAN PENYULINGAN MINYAK ATSIRI GEL. III di Bandung-Subang, 21-22 Februari 2009.

Kumpulan diskusi tentang Lajagowa (Alpinia malaccensis)

Berikut saya kutif kumpulan diskusi tentang lajagowa di milis= atsiri-indonesia@yahoogroups.com

1. tunas baru lajagowa mulai tumbuh 2. dia tambah membesar 3. dan semakin membesar... 4. membesar......

TOPIK: Mohon info pasar dan harga Lajagoa

m2m_masilva@yahoo.com
Salam hormat, Mohon info kepada teman-teman penampung lajagoa......dan juga harganya...terima kasih.

Mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Harga lajagoa kering, sudah diiris2 dan siap suling sekitar Rp 3500-Rp 4000/kg. Rendemen minyak antara 1.8 - 2%. Penampungnya, mungkin Bung Erick bisa beri informasinya.

Panah_mas@yahoo.com
Boss ferry nich bisa aja....padahal close friend nya yang jadi juragan penampung minyak lajagoa.Teman-teman penyuling lajagoa, untuk penampung minyak lajagoa :1. Pak Eko - Cianjur2. Pacific Haldin - Bp. Januar / Bp. Robin3 Pak Mulyono - Scent IndonesiaMudah-mudahan informasi ini dapat bermanfaat...

dani_kalfaleri2@yahoo.com
Bagi rekan2 milis yang butuh bahan baku lajagoa saya bisa suplai karena di daerah saya sangat banyak dan saya punya dampingan kelompok tani yang bisa di berdayakan. Domisili saya berada di Pandeglang bantenTrims


TOPIK: HELP=LAJAGOA


trilex66@yahoo.com
Mohon bantuan dari rekans yang sudah pengalaman dalam pengolahan LajaGoa, saya perlu konfirmasi apakah benar gambar terlampir memang tanaman Lajagoa. Karena di daerah sy (Bogor), penduduk menyebutnya sebagai tanaman 'Tepus'. Postur dr tanaman ini ada bonggol pada pangkalnya dan fisik daun serta batangnya mirip Laja dapur.Terima kasih atas bantuannya

Panah_mas@yahoo.com
Laja Goa dengan Tepus memang secara fisik tanaman hampir sama, tapi sebenarnya berbeda. Masyarakat yang tinggal sekitar hutan sudah tahu persis, mana lajagoa mana tepus. Kalo lajagoa diiris, seratnya seperti jahe

Mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Benar Bos Erick...Tepus nama kerennya Alpinia purpurata, sedangkan laja gowah nama kerennya Alpinia malaccensis. Gimana, Bos. Udah jadi nyuling lajagowah nya. Harga lumayan Rp 280-300rb/kg. Tapi permintaannya masih terbatas.

Panas_mas@yahoo.com
Boss...sepertinya untuk lajagoa akan lebih bagus rendemen nya kalo pake boiler...saya udah coba bandingin pake model kukus dan boiler... ternyata lebih bagus boiler boss....
Kendala dipenyulingan, minyak nya ada diatas untuk 1 jam pertama dan setelah itu minyaknya dibawah...Jadi sparator harus ada kran diatas dan dibawah (berat dan lama-lama menjadi kristal). Memang betul yang dikatakan boss Ferry (saya belajar dari beliau), air kondensat harus rada panas kalo dingin akan mengkristal di pipa pendingin (lama-lama bisa nyumbat)....hati-hati tekanan di ketel bisa meningkat dengan cepat kalo tersumbat....Salam

Mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Wah, hebatlah boss kalau udah pernah bandingin keduanya. Saya mah belum pernah nyoba. Kali ini, ane yang belajar dari ente....:)

Panah_mas@yahoo.com
Boss Ferry nich paling suka merendah...he..he...he....padahal beliau ini pakarnya per-atsirian....salam

dani_kalfaleri2@yahoo.com
Bagi Kawan Milis yang butuh bahan baku lajagoa(Lengkuas Liar) saya bisa suplai karena didaerah saya sangat banyak dan saya punya dampingan kelompok tani Domisili saya ada di Pandeglang banten.trims

jimmy_mohamad@yahoo.com

Dear Mas Irwan,
Apakah Bapak bisa mensuplai lajagoa yang kering ? Berapa harganya per kg ?
Ma'af apa bisa saya beli sample 50kg dulu untuk di ujui coba rendemen nya ?

rvoeler@yahoo.com
Sorry Bapak/Ibu saya masih baru mau belajar nih.
Kalau lajagua metode destilasi yang paling baik yg bagaimana dan waktunya berapa lama? Lalu jualnya kemana?
Terima kasih

trilex66@yahoo.com
Salam kenal rekans Atsiri Indonesia, Saya masih sangat awam sekali dalam pengolahan/penyulingan minyak atsiri, mohon bantuan dari rekans yang paham cara penyulingan Lajagua

Mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Lajagowah?? nama kerennya : Alpinia malaccensis.Ini pengalaman seorang rekan di Tasik yang menyuling lajagoa dan pengalaman saya sendiri pada skala pilot. Lajagowah bawah diiris tipis2 lalu dikeringkan lalu disuling. Lajagoa memiliki 2 karakter minyak. Yang berat jenisnya lbh ringan dari air dan lebih berat dari air. Kalau dicampurkan keduanya, berat jenisnya akan lebih berat dari air. Kandungan utama minyaknya yg juga menjadi standar parameter kualitas adalah komponen metil sinamat. Jika digunakan pendingin spiral, maka air pendingin di dalam bak pendingin spiral harus panas. Sebab jika tidak, sebagian minyak lajagoa akan memadat dan mengkristal di dalam pipa spiral tersebut.

zulkiflitaher@gmail.com
Saya dapat info dari seorang teman, ampas lajagowah setelah disuling masih berguna diantaranya untuk makanan ternak atau bahan pembuat jamu. Jadi ampasnya jangan dibuang dan masih bernilai ekonomis kalau hal in benar. Mohon konfirmasi dari Pak Ferry atau teman-teman yang lain ada yang tahu.

Mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Kalau mengenai hal ini saya kurang paham, pak. Karena teman saya yg nyuling lajagowah di tasik itu ampasnya masih dibiarkan menumpuk di pabriknya.
Mungkin saja bisa bisa dipergunakan utk keperluan tersebut asal ada yg nampung, ya lebih baik dijual daripada dibuang...hehe.

trilex66@yahoo.com
Terima kasih pa Ferry atas sharing-nya, saya akan coba praktekkan.Tambahan lagi ..mungkin ada yang tahu nama lain dari Lajagua/lajagowah ? krn biasanya setiap daerah punya nama khas sendiri2.

jimmy_mohamad@yahoo.com
Assalamu'alaikum wr.wb,
Salam kenal bib, ane Jimmy Mohamad bin Ba'bud asal Tegal
Ana sudah mulai nyuling minyak atsiri sejak bulan
April 2008. Ana nyuling minyak nilam di Pemalang bib..
Ana pernah ditawarin Lajagua kering dari Pandeglang harga di tempat Rp 2,500 / kg.
Kalo memang ada yang bisa supply antum sampai ditempat lokasi Rp 3,500/kg boleh juga tapi hati2 dengan rendemen, biasanya musim hujan begini rendemen turun bib...
Selain itu ana juga masih kurang paham nyuling lajagua karena ada minyak bawah dan atas. Lebih baik kita tanya aja ya sama pakarnya atau kalu antum sudah pernah
nyuling lajagua, boleh juga donk ana belajar dari antum.
Wassalamualaikum,

zakihabsyi@yahoo.com
Waalikumsalam wr. wb.Salam kenal jg, waduh terima kasih banyak neh informasinya ana baru tau ada minyak bawah dan atas...

Mantra_mantra_jingga@yahoo.com
Tambahan saja.
Menyuling lajagowa memang agak beda. Saya pernah melakukan skala pilot (mini) dan juga ketemu langsung dengan teman saya yg kebetulan produsen minyak lajagowa (alpinia malaccensis oil). Benar sekali memang ada minyak atas (ringan) dan minyak bawah (berat), sama juga seperti minyak pala (pada minyak pala, minyak beratnya muncul pada akhir2 proses penyulingan). Minyak nilam juga ada kok minyak beratnya. Kalau nilam sumatra minyak beratnya cukup banyak. Tapi nilam sumatra (yg ditanam di Jawa) minyak beratnya cuma sedikit.
Karakteristik minyak lajagowa cenderung memadat/mengkristal pada suhu rendah. Sehingga jika digunakan jenis kondensor berpilin (spiral), maka harus dipastikan bahwa air pendinginnya tetap dalam keadaan hangat/panas supaya minyaknya tidak mengkristal di tengah jalan yg berakibat tersumbatnya pipa spiral kondensor.

Adanya minyak atas dan minyak bawah disiasati dgn desain oil separator yang bisa mengakomodir kedua jenis minyak tersebut sehingga meminimalisir minyak yg hilang. Sebenarnya standar perancangan oil separator (florentine flask) utk aneka jenis minyak atsiri seharusnya bisa mengakomodir kasus-kasus tersebut sehingga tidak direpotkan oleh kehadiran minyak ringan ataupun minyak berat.

Sunday, January 11, 2009

Aktivitas di Bengkel Spesialis Penyulingan Minyak Atsiri

Selama tahun 2008 lalu, dari bengkel sederhana kami telah dihasilkan 18 unit alat penyulingan aneka jenis minyak atsiri. Mulai dari kapasitas mini (skala percobaan), menengah, hingga skala besar. Semoga proses penciptaan alat suling di bengkel kami semakin mendekati kesempurnaan, baik dari sisi fungsional, estetika, maupun mekanikalnya dan harganya bisa murah. Mengingat selama ini kami (atas permintaan sebagian besar customer) lebih mementingkan nilai fungsional dan kenyamanan kerja daripada aspek estetisnya, supaya biaya investasinya lebih murah.

Terima kasih kami ucapkan kepada customer-customer kami atas segala kepercayaan, komplain, kritik, dan sarannya untuk perkembangan dan kemajuan kami ke depan.
Kami tidak hanya bengkel pembuatan alat suling, tetapi juga praktisi penyulingan yang memiliki pengetahuan mengenai aspek teori maupun praktis penyulingan minyak atsiri. Sehingga siap memberikan konsultasi mengenai seluk beluk bisnis minyak atsiri.

Friday, January 02, 2009

Training Minyak Atsiri Gel. II, 20-21 Des 2008

Pada tanggal 20-21 Desember 2008 lalu telah terselenggara dengan lancar "Training Pengembangan Bisnis Perkebunan dan Penyulingan Minyak Atsiri (Gel. II)" di Grand Hotel Lembang (20 Des) dan Serangpanjang-Kab. Subang (21 Des) kerjasama dari PT Pavettia Atsiri Indonesia dan CV Cipta Selaras. Gelombang II ini diikuti oleh 20 peserta (dari 23 yang mendaftar) dan berasal dari Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dari segi persebaran daerah asal peserta ternyata masih lebih variatif peserta Training Gelombang I yaitu selain dari daerah-daerah di atas, juga peserta datang dari kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Namun pada Gelombang II ditambahkan materi baru atas permintaan beberapa peserta yang mengkonfirmasi sebelumnya yaitu "Teknik Produksi Minyak Atsiri Bunga-bungaan" yang dikhususkan pada proses ekstraksi pelarut (solvent extraction) dan adsorpsi lema dingin (enfleurasi).

Berikut disajikan beberapa gambar pelaksaaan training hari ke-2. Sayang sekali, photo training hari-1 di Grand Hotel Lembang sedang dalam proses recovery akibat memory card-nya rusak :(

Keterangan gambar atas:
1. Berpose bersama di bawah spanduk training di kebon nilam dan sereh wangi
2. Panen nilam, euy. Yang sedang dipanen itu 1 pohon dapat menghasilkan 5 kg basah berkat perawatan yang baik dan penggunaan bokashi padat/cair serta pestisida nabati. Perhatian!! Tapi tidak semua pohon yang ditanam menghasilkan 5 kg, lho.
3." Lagi nyoba panen nilam, ya Bu. Hati-hati tangannya kepotong, lho...."
4. Lihat-lihat bengkel pembuatan alat penyulingan minyak atsiri.

Keterangan gambar bawah:
5. Briefing sebelum traning in practice di lapangan hari ke-2 yang dipimpin oleh saya sendir :)
6. Kang Deden sedang memberikan materi mengenai teknik pembibitan nilam.
7. Pohon/daun-daunan apa saja yang bisa digunakan pestisida nabati? Kang Asep selalu siap dengan segala ilmu dan pengalamannya mengenai pestisida nabati dan bokashi organik (padat & cair)
8. Jalan-jalan di alam pedesaan nan sejuk