Sunday, October 22, 2006

Oleh-oleh liburan Akhir tahun


Posted by Ferry to milis Atsiri-Indonesia
29 Dec 2005

Kembali berbagi cerita pengalaman liburan akhir tahun…..Selama 4 hari kemarin, saya melakukan “roadshow” kecil-kecilan ke 2 penyulingan nilam dan 2 penyulingan daun cengkeh di Kabupaten Majalengka, Kuningan, Jawa Barat. Sedianya juga mau ke Garut, tapi cuaca yang tak mendukung alias hujan tak henti2nya. Ada banyak hal dan informasi berkaitan dengan suka duka bisnis penyulingan atsiri. Dari hasil jalan-jalan tersebut saya mengambil refleksi sebagai berikut:

1. Adalah benar apa yg dikatakan Mas Harris tempo hari bahwa jika untuk terjun ke bisnis atsiri (baca=nilam), lebih baik memiliki kebun inti sendiri sekitar 10-15 ha agar ketel suling berkapasitas 200 kg/batch mampu beroperasi secara optimal dan kontinu sehingga modal kerja tidak habis terbebani oleh biaya2 operasional (biaya tetap) akibat pabrik tidak beroperasi. Pengendalian lahan olah sendiri (di desa yang saya survey, biaya sewa lahan Rp 1,5 juta/ha/tahun) dapat menaikkan posisi tawar penyuling terhadap masyarakat lain yang bertanam nilam untuk bertindak lebih tegas terhadap nilam-nilam kualitas buruk yang dikirimkan.

2. Andaikan ingin bekerjasama dengan dengan petani, misalnya memberikan bibit utk mereka dan biarkan mereka mengolah sendiri tanahnya dengan bertanam nilam, ada beberapa hal yang harus dilakukan :-kenali dalam-dalam karakteristik dan pola pikir petani setempat. Banyak sekali pengalaman lucu (namun pahit) dari penyuling2 nilam yang saya jumpai berkaitan dengan hal ini. Petani yang tidak peduli akan kebun nilamnya tentu akan menghasilkan daun nilam yang berkualitas rendah dan rendemen minyak rendah. Sementara itu mereka “memaksa” kepada penyuling untuk membeli (dan dengan harga tinggi) daun sudah mereka bawa. Yang terjadi di desa ini, petani nilam enggan merawat kebunnya dengan baik namun menginginkan hasil sebanyak mungkin. Bahkan ada beberapa lahan yang umur tanaman nilamnya sudah tua sehingga menghasilkan rendemen kecil dan kadar PA yang rendah tetapi mereka enggan untuk meregenerasinya. Bayangkan, pengalaman seorang penyuling membeli daun nilam 3 kuintal dan hanya menghasilkan minyak 3.1 kg dan kadar PA 26%. Rendemen 1.05%.......... menangislah!!
-Waspadai terhahap penipuan bahan baku. Penipuan (baca=trik) mencakup hal-hal berikut : *kadar kebasahan (kadar air) daun nilam dan kasus ini yang paling sering terjadi. Banyak petani yang menjual daun masih agak basah tetapi mengaku kering dan tetap ngotot untuk dibayar dengan harga semestinya. Pengeringan daun nilam basah yang baik terdapat penurunan bobot bahan antara 6 – 7 kali. Pengalaman seorang penyuling, mereka membeli daun nilam agak basah (namun dikatakan kering oleh petani) dan dibayar dengan harga kering sebanyak 1 ikat (30 kg), setelah dikering-anginkan kembali, bobot daun nilam tersebut tersebut hanya menjadi 18 kg saja. Bayangkan beberapa kerugian yang harus diderita penyuling. Bahkan seringkali terjadi daun kering hanya nampak dari luar, tapi di dalamnya hanya setengah kering sampai bersuhu hangat karena terfermentasi di dalam.* perbandingan bobot batang dan daun yang tidak imbang. Perlu diketahui bahwa batang nilam memiliki rendemen yang cukup kecil. Dalam memanen nilam, petani tidak memperhitungkan kaidah pemanenan yang baik untuk menghasilkan nilam berkualitas. Nilam dengan yang dipotong 30 cm dari pucuk adalah daun yang memenuhi standar kualitas suling. Namun yang terjadi di lapangan, petani menebas serendah mungkin tanamannya untuk menghasilkan bobot daun (+ batang yang besar-besar) yang tinggi dan menguntungkan mereka. Sebuah pola pikir jangka pendek yang sedikit demi sedikit harus dikikis. Karena pemanenan yang salah selain merugikan penyuling, juga menurunkan produktivitas tanaman nilam itu sendiri untuk panen-panen berikutnya.* kehadiran daun-daun non nilam (tetapi mirip nilam) di dalam karung-karung daun nilam yang jumlahnya cukup signifikan. Daun nilam itu bentuknya sangat umum dan banyak sekali daun-daun mirip nilam yang tumbuh di sawah-sawah atau kebun. Bedanya hanya di aroma saja. Apalagi kalau sudah kering, hampir tak dapat dibedakan secara sekilas. Jika dalam 1 karung daun nilam berisi 30% daun non-nilam, tentu dapat dihitung berapa kerugian yang harus diderita penyuling.* kehadiran benda-benda berat di dalam karung-karung daun nilam. Contohnya adalah batu, kayu, atau potongan2 besi. Bayangkan saja kalau dalam 1 karung nilam berbobot 20 kg terdapat batu dengan total bobot 3 kg.

3. Pendapat saya terdahulu berkaitan dengan pemasaran nilam skala kecil belum berubah, Jangan takut tidak kebagian pasar. Tengkulak-tengkulak minyak nilam selalu berkeliaran di sentra-sentra penyulingan. Kalau mau jual ke eksportir, kapasitas minimal pengirimkan harus 500 kg/kirim, sehingga membutuhkan modal kerja yang cukup besar. Jadi……pemasaran minyak nilam selalu ada dan cukup besar. Hanya pada tahap awal dan skala kecil, tentu harus dijual ke tengkulak dahulu.

4. Efisiensi bahan bakar. Kenaikan harga BBM membawa dampak yang sangat cukup besar bagi biaya energi untuk penyuling-penyuling kecil. Seorang penyuling bahkan harus mencampur minyak tanah dengan oli untuk bahan bakar boiler guna menghemat biaya bahan bakar. Jadi, buatlah alat penyulingan yang benar-benar efisien dalam pemakaian energi atau memanfaatkan sumber energi di sekitarnya yang masih murah dan jumlahnya melimpah. Saya hanya berfikir, alat suling yang modern sekalipun yang diklaim mampu menghasilkan rendemen yang baik akan menjadi sia-sia apabila sistem penyediaan bahan baku, baik dari sisi agribisnis (baca=pertanian) maupun distribusinya masih dipenuhi fenomenan-fenomena yang saya ceritakan di atas. Sebab rendemen dan margin yang diperoleh penyuling akan sangat tergantung pada kondisi bahan bakunya.

Saya juga berfikir, Balitro banyak melakukan penelitian tentang pemuliaan tanaman nilam unggul dan menghasilkan aneka varietas nilam yang berkualitas. Tapi tentu saja dengan perawatan yang sangat ideal di kebun-kebun percontohan. Tetapi di lapangan, perawatan sangat jauh dari ideal. Sebaik apapun bibit yang ditanam namun dengan perawatan seadanya (kalau tidak mau dikatakan tidak dirawat sama sekali) maka hasilnyapun tidak akan maksimal.
Mungkin tulisan di atas sepertinya hanya menyoroti keteledoran dan kesalahan para petani. Namun tentu saya pribadi tidak menjustifikasi petani secara sepihak (masih banyak petani yang memiliki idealisme untuk berkembang). Mari kita kembali berfikir pada budaya dan mental para pelaku minyak atsiri itu sendiri, mulai dari petani, penyuling, peneliti, dan pedagang. Mana yang patut untuk disalahkan?? Tidak ada. Jawabnya hanya mari kita bahu-membahu untuk mewujudkan iklim perminyakatsirian Indonesia yang lebih baik sesuai porsinya masing-masing.

Kembali pada masalah bisnis minyak nilam, memiliki lahan yang disewa untuk diolah dengan tangan dan kontrol sendiri akan meminimalkan masalah-masalah di atas. Kita juga punya posisi tawar yang baik terhadap petani-petani sejenis yang kualitas nilamnya buruk. Atau syukur-syukur malah menjadi lahan percontohan bagi petani-petani bagaimana merawat kebun nilam yang baik dan menguntungkan semua pihak. Tapi hati-hati juga lho, waspadalah terhadap pencuri-pencuri daun nilam di malam hari. Yah….ini adalah satu fenomena tersendiri di tengah-tengah masyarakat yang serba susah dan mental yang rapuh. Beruntung apabila kita bisa mengenal budaya daerah tempat penyulingan dengan baik dan dapat merangkul para petani nilam untuk mengembangkan komoditas ini berazaskan prinsip simbiosis mutualisme.

Jadi…..wah, malas ah berbisnis nilam. Banyak sekali masalahnya….Begini salah, begitu salah. But, that’s the challenge, pals to be the real entrepreneur…..:)
Kiranya cukup saya berkicau untuk hari ini. Semoga memberikan tambahan informasi setidak-tidaknya pengalaman saya menengok dua penyulingan minyak nilam.

Bagaimanakah di daerah anda?? Next time saya akan lanjut cerita hal-hal yang belum tersebut di sini.

Tetap semangat!!.
-ferry-

3 comments:

  1. GUMRINING siap menjalin kerjasama pembelian daun nilam dan kami jual jual minyak nilan dengan kadar 30-40%

    ReplyDelete
  2. Salam.
    Nama saya Dadan Ari dari Kediri, Jawa Timur. Beberapa hari ini saya sibuk mencari pabrik pengolahan daun dan batang nilam, terutama yang lokasinya di sekitar kota Kediri, namun saya merasa kesulitan sekali.
    Ada info yang mengatakan kalau ada beberapa d kota Malang, namun alamat lengkapnya belum jelas.
    Maka dari itu, mungkin Bapak bisa bantu saya?
    Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.
    Salam.

    ReplyDelete
  3. haloo....pak dadan saya melihat dari blogger bapak dadan tentang minyak nilam....kaya ya sedang nyari pohon batang nilam sama minyak ya saya ada pak ..kalau mau via ym aja....ebim_tasik

    ReplyDelete

Silakan memberikan komentar untuk tulisan ini.......